Tiru Fintech, Bank-Bank Besar Ini Mulai Lincah Salurkan Kredit Online

Perbankan berupaya meningkatkan pelayanannya lewat pengembangan perbankan digital sebagai strategi bersaing dengan layanan financial technology.
Ropesta Sitorus | 15 Maret 2019 17:21 WIB
Bank-bank besar mulai lincah salurkan kredit online - flickr/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA- Perbankan berupaya meningkatkan pelayanannya lewat pengembangan perbankan digital sebagai strategi bersaing dengan layanan financial technology. Hal ini antara lain dilakukan oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Direktur Bisnis Kecil dan Jaringan Bank Mandiri Hery Gunardi mengatakan salah satu strategi pengembangan digital yang diupayakan perseroan yakni menggandeng platform e-commerce untuk penyaluran kredit kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Setidaknya ada dua platform jual beli online yang sudah dijajaki Bank Mandiri untuk pemberian kredit modal kerja, yakni Bukalapak dan Tokopedia.

“Kami baru bekerja sama dengan Bukalapak dan mulai uji coba pada Senin lalu. Sejauh ini kami lihat beberapa hari ini responsnya cukup positif, tapi masih banyak kekurangan antara lain prosesnya belum automasi, perlu waktu untuk bisa fully digital,” kata Hery saat ditemui di Jakarta, Kamis (14/3/2019).

Hery memperkirakan proses uji coba akan dilakukan selama sekitar tiga bulan ke depan dan layanan tersebut diharapkan dapat berjalan mulai awal semester II/2019.

Jumlah modal kerja yang diberikan Bank Mandiri kepada pelaku usaha yang menggunakan Bukalapak disesuaikan dengan kebutuhan pelaku usaha dan cash flow. Nilainya maksimal sampai Rp200 juta.

Tingkat bunga yang akan diterapkan yakni flat di bawah 1% per bulan. Ketika ditanya tentang margin dari kredit modal kerja dan dengan total kredit yang ditargetkan, Hery belum bersedia memerinci.

Hery beralasan perseroan masih perlu memperhatikan perkembangan uji coba dalam beberapa bulan ke depan. “Kan masih baru dicoba, belum bisa ngomong. Ini pilot project, kalau sudah kelihatan positif baru kami all-out dan pasar target,” ujar Hery.

Penambahan channel pembiayaan lewat Bulalapak , kata Hery, adalah cara perseroan untuk meningkatkan kenyamanan bagi konsumen. Bank pelat merah dengan aset sekitar Rp1.200 triliun itu tak mau ketinggalan dengan fintech terutama peer to peer lending yang lebih gesit dalam memberikan pinjaman secara online.

Namun, lanjut Hery, pembiayaan via e-commerce yang dilakukan Bank Mandiri memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan fintech, antara lain dari segi jumlah dana yang gemuk serta kemampuan manajemen risiko.

Funding resource lebih gede karena bank punya duit lebih banyak. Dari sisi capability risk management juga lebih mumpuni dibandingkan dengan fintech. Dari sisi agility, kami juga belajar dari fintech, gak ada yang menang gak ada yang kalah, kami bekerja sama dan saling melengkapi,” ujar Hery.

Sebagai mitigasi risiko, pada tahap awal perseroan hanya mengincar nasabah Bukalapak yang merupakan nasabah eksisting Bank Mandiri.

“Sekarang masih kasih pinjaman untuk current nasabah Bank Mandiri. Jadi nasabah yang sudah punya rekening Bank Mandiri dulu, kemudian dilihat SLIK-nya, mana yang positif. Jumlahnya mungkin ada sekitar 1/3 dari total customer Bukalapak,” kata Hery.

Pada perkembangan lain, Bank Mandiri sedang mengusahakan proses verifikasi nasabah atau know your customer (KYC) secara online bekerjasama dengan Dukcapil. Dengan begitu proses pembukaan rekening dapat dilakukan lewat website dan verifikasi dilakukan lewat video call.

Kuseryansyah, Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menyatakan kue pembiayaan yang direngkuh perusahaan fintech P2P lending cukup besar yakni sekitar Rp1.000 triliun.

Angka tersebut merupakan nilai gap pembiayaan yang dinilai belum dapat dipenuhi perbankan. “Setiap tahun ada kebutuhan kredit UMKM Rp1.600 triliun dan yang terpenuhi oleh bank rata-rata Rp600 triliun per tahun, kehadiran fintech mau menyasar kredit gap Rp1.000 triliun itu,” kata Kuseransyah.

Kuseransyah menyebutkan merchant di Bukalapak yang umumnya baru berusaha di bawah 2 tahun adalah contoh kalangan yang dinilai tidak bankable oleh lembaga perbankan tapi menjadi pasar fintech.

Kuseryansyah menuturkan dari 200 perusahaan fintech yang terdaftar di asosiasi, sebanyak 99 perusahaan bergerak di bidang P2P lending, 63 di bidang payment, dan sisanya mencakup aggregator, wealth management dan financial planner.

Bila memperhitungkan sekitar 150 penyelenggara P2P lending yang sedang mengajukan izin di OJK, jumlahnya diperkirakan menjadi sekitar 250 perusahaan dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Nilai pembiayaan yang disalurkan perusahaan fintech disebut Kuseransyah mengalami pertumbuhan sangat drastis dalam setahun terakhir.

“Pada 2018 pertumbuhannya hampir 800%. Per akhir 2018 akumulasi pembiayaan melalui P2P lending Rp22 triliun, akhir Januari lalu menjadi Rp25 triliun, masih kecil kalau dibandingkan gap Rp1.000 triliun,” papar Kuseransyah.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembiayaan P2P milik perusahaan tekfin per Januari mencapai Rp25,92 triliun atau naik 14,36% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Secara tahunan, pada akhir 2018 penyaluran kredit dari tekfin atau fintech mencapari Rp22,6 triliun atau tumbuh lebih dari 8 kali lipat.  

KTA ONLINE

Bank Mandiri tidak sendirian. Serupa tapi tak sama, beberapa bank lainnya melakukan penyesuaian diri terhadap nasabah milenial dalam bentuk penyaluran kredit tanpa agunan secara online yang mengadaptasi gaya perusahaan fintech.

Bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. salah satunya, yang meluncurkan Pinang lewat anak usahanya BRI Agro, untuk menjangkau kebutuhan nasabah yang belum masuk dalam rentang kredit mikro.

Pinang, yang diluncurkan pada akhir Februari lalu, memiliki plafon setara dengan layanan P2P milik fintech yakni mulai dari Rp500.000 hingga Rp20 juta dengan tenor 1-12 bulan. Adapun suku bunga yang dipatok sebesar 1,24% per bulan.

Direktur Teknologi Informasi dan Operasi BRI Indra Utoyo mengatakan skema yang digunakan perusahaan tekfin dalam menyalurkan pinjaman peer to peer (P2P) menyimpan sejumlah celah. Kemampuan perbankan secara tradisional dapat menyempurnakan hal tersebut.

“Produk pinjaman dalam jaringan (online) akan memberikan stimulus positif terhadap portolifo kredit konsumer dan mikro BRI beserta anak usaha. Selain itu, dalam jangka panjang akan mendongkrak jumlah nasabah,” kata Indra.

Perseroan membidik penyaluran KTA lewat Pinang sekitar Rp375 miliar untuk tahun pertama. Saat ini layanan Pinang baru dinikmati oleh nasabah payroll BRI Agro dan induk, dan diharapkan pada 2020 dapat menjangkau nonnasabah.

Senada, PT Bank DBS Indonesia juga menyediakan fitur pengajuan KTA dalam jaringan. Perseroan sudah melakukan ujicoba pinjaman KTA Online sejak November 2018 dan tetap menerapkan BI checking kepada calon debitur.

Managing Director, Head of Digital Banking, PT Bank DBS Indonesia Leonardo Koesmanto mengatakan bahwa sebagai bank digital, perusahaan tentu ikut bermain dalam ceruk pasar pinjaman dalam jaringan. Segmen ini terbilang menarik karena masih dalam fase berkembang di Indonesia.

Sementara itu PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. juga tengah melihat peluang untuk meluncurkan produk pinjaman dalam jaringan.

General Manager IT Solutions & Security System Division BNI Muhammad Faisal Jazuli mengatakan bahwa perusahaan telah menggandeng setidaknya 14—15 tekfin yang bergerak pada bidang jasa, payment system [sistem pembayaran], dan lending [pinjaman].

Tag : perbankan, kredit, fintech
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top