Bisnis KTA, BNI Rencanakan Skema Pinjaman di Bawah Rp5 Juta

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. tahun ini merencanakan pengembangan produk kredit tanpa agunan atau KTA bernama BNI Fleksi salah satunya dengan pengajuan nilai pinjaman di bawah Rp5 juta.
Ipak Ayu H Nurcaya | 23 Maret 2019 09:44 WIB
Karyawan melayani nasabah di kantor cabang PT Bank Negara Indonesia Tbk, di Jakarta, Kamis (3/1/2019). - Bisnis/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. tahun ini merencanakan pengembangan produk kredit tanpa agunan atau KTA bernama BNI Fleksi salah satunya dengan pengajuan nilai pinjaman di bawah Rp5 juta.

VP Consumer Lending PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Egos Mahar mengatakan hal tersebut sebagai strategi untuk mencapai target pertumbuhan 20% BNI Fleksi. Tak hanya itu, maraknya pertumbuhan perusahaan tekfin yang berfokus pada bisnis pinjaman seperti ini menuntut inovasi yang lebih banyak pada produk perseroan.

"Ke depan kami tengah jajaki untuk pinjaman mulai di bawah Rp5 juta tapi dengan tenor yang lebih pendek tentunya. Untuk mengakomodir nasabah yang memerlukan uang karena kebutuhan mendadak. Rencananya mulai tahun ini," katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Menurut Egos, sampai dengan Februari lalu BNI Fleksi masih mencatatkan kinerja yang masih stabil. Hal tersebut sesuai dengan siklus dan efek awal tahun yang biasanya masyarakat belum banyak melakukan konsumsi.

Alhasil, dalam dua bulan pertama BNI Fleksi baru mencatatkan capaian penyaluran sekitar Rp700 miliar. Dengan target pertumbuhan 20% diharapkan sampai akhir tahun produk KTA perseroan ini bisa bertambah portofolionya sampai dengan Rp4 triliun sedikit lebih rendah dari capaian tahun lalu yang Rp5 triliun.

Egos mengemukakan target minimal tersebut melihat kondisi tahun ini yang masih penuh dengan tantangan dan agenda politik. 

Sisi lain, saat ini suku bunga BNI Fleksi yang diberikan juga masih cukup bersaing dengan bank lain maupun penawaran tekfin yakni pada kisaran 7% sampai dengan lunas.

"Sekarang kebanyakan yang pinjam pada kisaran Rp100 jutaan karena kami melayani sampai dengan Rp200 juta," ujarnya.

Adapun strategi lain, lanjut Egos yakni dengan menjaga layanan yang selama ini sudah diberikan secara maksimal. Antara lain persetujuan yang cepat, pencairan paling lama dalam tiga hari, dan lain sebagainya.

Egos menambahkan, secara kualitas rasio non performing loan atau NPL pihaknya memastikan akan menjaga pada level yang saat ini sudah baik yakni sekitar 0,5%.

Dia pun menyebut perseroan juga tengah menjajakin kerjasama dengan tekfin guna meningkatkan kinerja produk KTA saat ini. Sayangnya, ketika ditanya lebih rinci dia masih enggan berbicara lebih jauh.

"Pastinya kami mau NPL tidak bertumbuh tapi permintaan naik, menggandeng fintech dengan bersinergi menjadi hal yang tidak bisa dihindari dalam masa depan," ujarnya.

Sementara itu, bank lain yang lebih dulu menggunakan strategi model bisnis tekfin untuk produk KTA adalah PT Bank Amar Indonesia yang berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun lalu.

Model bisnis yang digunakan adalah pengajuan kredit secara online melalui aplikasi, tidak mensyaratkan adanya agunan, nilai pinjaman relatif kecil antara Rp2 juta—Rp20 juta, tenor pinjaman pendek antara 6—20 bulan.

Managing Director PT Bank Amar Indonesia Vishal Tulsian mengatakan bahwa strategi tersebut telah dimulai sejak awal 2015, ketika perseroan mengambil alih bisnis perusahaan fintech Tunaiku dalam hal penyaluran pembiayaan mikro tanpa agunan. Tunaiku dan Bank Amar saling terafiliasi karena keduanya dimiliki oleh Tolaram Group.

“Di samping itu, berbagai transformasi dan perubahan budaya yang kami lakukan juga turut memberikan efek pada performa perusahaan,” ujarnya.

Vishal mengklaim secara keseluruhan kinerja perseroan naik 10 kali lipat dalam empat tahun terakhir. Menurutnya, model bisnis yang mengadopsi tekfin cukup efektif mendongkrak kinerja.

Sebagai gambaran, berdasarkan laporan bulanan Bank Amar per Desember 2018 perseroan telah mencetak laba Rp11,2 miliar. Angka itu naik 250% dari Rp3,7 miliar pada 2017 setelah mengalami rugi Rp27,6 miliar pada 2016.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank bni, Kredit Tanpa Agunan

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top