Fintech Terapkan Strategi untuk Tekan Pembiayaan Bermasalah

Penyelenggara financial technology (fintech) di Indonesia menerapkan sejumlah strategi untuk menjaga rasio pembiayaan bermasalah tetap rendah.
Nindya Aldila | 15 April 2019 20:18 WIB
Ilustrasi teknologi finansial. - Flickr

Bisnis.com, JAKARTA -- Penyelenggara financial technology (fintech) menerapkan prinsip kehati-hatian untuk menjaga Non Performing Loan (NPL) tetap rendah.

Chief Credit Officer & Co-Founder PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran) Christopher Gultom mengatakan NPL hingga Maret 2019 tercatat sebesar 0,37%.

Hal itu dicapai dengan melakukan filtering yang cukup ketat. Terbukti, tingkat penerimaan aplikasi pinjaman hanya sekitar 1:5.

“Dari kami, untuk filtering awal cukup ketat dan cukup selektif. Kalau kami meningkatkan tingkat penerimaan, NPL bisa naik. [Rasio] 1:5 adalah angka yang nyaman bagi kami,” terangnya kepada Bisnis, Senin (15/4/2019).

Akseleran masih menerapkan prinsip 5C, yang mencakup Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral, seperti yang diterapkan oleh perbankan untuk memastikan kemampuan bayar dari nasabah. Selain itu, Akseleran masih menerapkan syarat agunan pada setiap pinjamannya.

Kendati tingkat penerimaannya rendah, Christopher meyakini hal ini tidak akan berpengaruh terhadap pertumbuhan pembiayaan yang dilakukan perusahaan.

Hingga Senin (15/4), pembiayaan yang telah disalurkan oleh Akseleran mencapai Rp393 miliar. Sekitar 55% sudah dilunasi karena sudah jatuh tempo dan 45% sisanya merupakan outstanding.

Akseleran merupakan Peer-to-Peer (P2P) lending yang fokus untuk membiayai kebutuhan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Beberapa produk yang dilayani di antaranya adalah pembiayaan tagihan (invoice financing), pembiayaan untuk merchant online, inventory financing, dan pembiayaan piutang.  

Sementara itu, Co-Founder & CEO PT Finaccel Teknologi Indonesia (Kredivo) Akhsay Garg mengungkapkan sejauh ini, perusahaannya memanfaatkan big data yang tersedia di jejarin online untuk melakukan credit scoring.
 
Kredivo mengenakan suku bunga paling rendah, yaitu 0%, untuk pembayaran tepat waktu. Pada 2018, jumlah pengguna Kredivo meningkat lebih dari 2 kali lipat dan pencairan pinjaman bulanan melonjak lebih dari 3 kali lipat.
 
Kendati bermain di lini unsecured loan atau pembiayaan konsumtif, Kredivo tetap menjaga NPL sekitar 3%. Kredivo merupakan P2P lending yang menyasar pembiayaan konsumtif dengan pilihan produk pembiayaan e-commerce dan pembiayaan tunai.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
npl, fintech

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top