Edukasi Duit : Krisis dalam Bisnis Jangan Dihindari, Tapi Bisa Diantisipasi

Jangan pernah Anda membayangkan bahwa usaha atau bisnis yang ditekuni bakal lancar jaya.
News Writer
News Writer - Bisnis.com 02 Mei 2019  |  14:01 WIB
Edukasi Duit : Krisis dalam Bisnis Jangan Dihindari, Tapi Bisa Diantisipasi
Goenardjoadi Goenawan. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA — Saya pernah membaca artikel soal kasus hukum di Bisnis.com yang intinya direksi dan komisaris di satu perusahaan yang sama tengah bermasalah dan saling lapor ke polisi. Apa yang terbayang di benak Anda, benak kita semua soal kasus itu?

Sepintas mungkin ada yang bilang, kok bisa ya dalam satu perusahaan yang sama mereka saling lapor. Kok bisa ya, satu komisaris tugasnya mengawasi perusahaan dan direksi tugasnya menjalankan perusahaan, bisa bertikai.

Ada juga mungkin yang bilang, wajar saja komisaris dan direksi saling lapor karena urusan hukum.

Dalam dunia usaha, dunia bisnis, hal seperti itu saya sebut krisis. Jangan pernah Anda membayangkan bahwa usaha atau bisnis yang ditekuni bakal lancar jaya. Terkadang, ada hal-hal yang membuat usaha yang ditekuni menjadi lunglai.

Sebuah krisis dalam bisnis tergantung dari sumber masalahnya.  Tetapi muncul dalam beberapa bentuk.  Pertama, perang harga. Misal importit kurma mengalami banjir suplai saat Ramadan.  Maka seketika terjadi perang harga.  

Di pihak lain kita lihat importit kismis (anggur dikeringkan)  mampu mempertahankan harga karena masing-masing melindungi agen merek tertentu di Indonesia.  Juga adanya pendaftaran di BPOM maka setiap merek diberikan izin edar BPOM mencegah perang harga.  

Kedua, sebuah krisis dalam perusahaan juga timbul dari lemahnya barrier entry.  Misalnya sebuah perusahaan besar food service impor beberapa bahan makanan sering mendapatkan tekanan principal karena tidak punya division konsumer retail.  Otomatis mereka memperluas divisi retail tersebut.  

Ketiga, sebuah krisis dalam perusahaan juga timbul dari pertentangan antara pemegang saham misal ada perusahaan yang terbagi menjadi tiga bagian,  impor,  produksi dan sales. 

Ternyata pemegang kendali produksi merasa lebih kuat dominan ingin mencampuri sales.  Otomatis terjadi power struggle di antara pemegang saham terjadi adu kuat. Sampai kemudian masing-masing pihak mengalah baru kemudian terjadi Kolaborasi.  

Keempat, power struggle. Ini yang paling sering terjadi adalah adanya suksesi kepada anak-anak pewaris bisnis.  Masalahnya adalah gap antara trust orang tua kepada anaknya sedangkan anak-anak butuh bantuan untuk belajar.

Masalah terbesar adalah trust dan anak-anak sering kehilangan rasa gratitude karena mereka lahir sudah serba terpenuhi tidak pernah merasakan kekurangan.

Maka yang penting dalam bisnis adalah jangan menghindari krisis, tetapi lebih mengantisipasi. Perkembangan teknologi digital, bisa menciptakan pasar baru. Dan dalam bisnis Anda, harus beradaptasi dengan perkembangan itu.

Membanbun kolaborasi dengan pihak lain dalam bisnis, adalah keharusan. Tapi aturan main dijelaskan sejak awal agar tidak terjadi sengketa. Hal ini biasanya muncul ketika belajar memulai usaha yang awalnya main-main, tapi tidak diantisipasi menjadi besar.

Ketika Anda menekuni bisnis, sejak itu pula harus menyatakan pada diri sendiri untuk menjalankannya dengan profesional, bukan sekadar main-main apalagi sampingan.

Penulis

Ir Goenardjoadi Goenawan, MM

Coach New Money-Motivator Uang

Untuk pertanyaan dan informasi buku elektronik terbaru, bisa diajukan melalui alamat: goenardjoadigoenawan@gmail.com

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Edukasi Duit

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top