Semester 1 Kurang Oke, Perusahaan Multifinance Pacu Pembiayaan di Paruh Kedua

Sejumlah sektor dan lini pembiayaan potensial pun diyakini bisa meningkatkan pemasaran multifinace guna memenuhi target sepanjang tahun, setelah pada paruh pertama piutang pembiayaan industri hanya bertumbuh 4,29 persen.
Oktaviano DB Hana
Oktaviano DB Hana - Bisnis.com 27 Juli 2019  |  15:59 WIB
Semester 1 Kurang Oke, Perusahaan Multifinance Pacu Pembiayaan di Paruh Kedua
Ilustrasi leasing kendaraan bermotor - www.raceworld.tv

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku usaha multifinance langsung menjalankan sejumlah program dan strategi guna memacu pembiayaan pada semester II/2019 setelah di semester pertama tahun ini pertumbuhan pembiayaan tidak sesuai ekspektasi.

Sejumlah sektor dan lini pembiayaan potensial pun diyakini bisa meningkatkan pemasaran multifinace guna memenuhi target sepanjang tahun, setelah pada paruh pertama piutang pembiayaan industri hanya bertumbuh 4,29 persen.

Direktur Keuangan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk. Zacharia Susantadiredja mengakui bahwa pada paruh pertama tahun ini penyaluran pembiayaan tidak seperti yang diharapkan. Dia mengatakan realisasi pembiayaan emiten multifinance dengan kode saham WOMF ini menurun pada paruh pertama tahun ini, yakni dari Rp3,1 triliun pada semester I/2018 menjadi Rp2,8 triliun pada akhir Juni lalu.

Kendati begitu, dia mengatakan pihaknya optimistis mampu memacu kinerja pada paruh kedua tahun ini agar mampu membukukan pertumbuhan pembiayaan.

“Kami harapkan bisa tetap menyalurkan pembiayaan sekitar Rp3,1 triliun pada semester II/2019, agar bisa membukukan pertumbuhan sekitar 10 persen -15 persen,” ujarnya di sela-sela konferensi pers, Jumat (26/7/2019).

Zacharia mengatakan potensi pasar itu ada seiring dengan tren penurunan suku bunga. Apalagi, baru-baru ini Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate dari 6 persen menjadi 5,75 persen.

Kondisi itu, jelasnya, diharapkan mampu memicu pertumbuhan sektor usaha dan konsumsi masyarakat.

Di sisi lain, Zacharia mengatakan pihaknya akan terus memperbaiki proses bisnis untuk memberikan layanan yang cepat kepada pelanggan. Pihaknya pun telah menjalankan sejumlah program khusus pada semester II/2019 untuk memacu pembiayaan.

Salah satunya dengan menyelenggarakan program Wombastis, undian berhadiah bagi nasabah yang mengakses layanan pada periode 1 Juli  - 31 Desember 2019. “Memang, kondisi pertumbuhan pembiayaan konsumen cukup rendah. Kami dorong dengan ini [program Wombastis],” jelasnya.

PELUANG MOBIL BEKAS

Terpisah, Direktur Keuangan PT BFI Finance Indoneisa Tbk. Sudjono mengatakan pihaknya bakal mendorong lini pembiayaan dan sektor potensial guna memacu penyaluran pembiayaan. Menurutnya, pembiayaan mobil bekas atau used car masih punya peluang untuk ditingkatkan pada paruh kedua tahun ini.

Langkah itu dilakukan pihaknya setelah pada semester I/2019 realisasi pembiayaannya cukup tertekan.

“Pembiayaan kami di enam bulan pertama cukup berat. Saya yakin bisa lebih baik pada semester II/2019,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (25/7).

Berdasarkan keterangan resmi yang diterima Jumat (26/7), emiten pembiayaan dengan kode saham BFIN ini menutup paruh pertama 2019 dengan membukukan pendapatan senilai Rp2,5 triliun atau meningkat dari periode yang sama tahun lalu, yakni senilai Rp2,4 triliun.

Pada periode yang sama, BFIN membukukan piutang pembiayaan neto senilai Rp16,4 triliun, dengan total aset Rp18,3 triliun. Laba bersih perseroan tercatat senilai Rp690 miliar.

Dari sisi portofolio, piutang pembiayaan BFIN masih didominasi oleh pembiayaan mobil yang mencapai 73 persen. Selebihnya, pembiayaan perusahaan berasal dari lini alat berat dan mesin (15 persen), pembiayaan motor (10 persen), dan sisanya dari pembiayaan properti atau property backed financing dan layanan berbasis syariah.

“Pencapaian pada semester I/2019 merupakan hasil maksimal ditengah berbagai kondisi yang tidak kondusif saat itu. Kami tetap menjaga tingkat pencadangan yang memadai, menjalankan risk management yang prudent, serta kemampuan pendanaan Perusahaan yang baik,” jelas Sudjono, dalam keterangan resmi.

Dalam konferensi pers di sela-sela Rapat Dewan Komisioner OJK, Rabu (24/7/2019), Kepala Eksekutif Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) OJK Riswinandi mengatakan bahwa pada akhir semester I/2019 piutang pembiayaan industri multifinance tumbuh sekitar 4,29 persen. Dia mengakui realisasi itu meleset dari perkiraan awal, yakni di kisaran 7 persen - 8 persen untuk sepanjang tahun.

Kondisi itu, jelasnya, disebabkan oleh sejumlah hal, termasuk konsolidasi sejumlah multifinance. Di samping itu, jelasnya, OJK juga meninjau kemampuan usaha sejumlah multifinance dan pada akhirnya tidak beroperasi lagi.

Di sisi lain, jelas dia, dampak lesunya pasar kendaraan bermotor turut memengaruhi penyaluran pembiayaan dari multifinance.

RUANG PERTUMBUHAN MASIH TERBUKA

Kendati begitu, Riswinandi mengakui bahwa ruang pertumbuhan bagi pelaku industri pembiayaan dinilai masih terbuka pada semester II/2019. Potensi itu, jelasnya, nampak dari gearing ratio industri yang masih rendah dan juga rasio pembiayaan bermasalah atau non performing finance (NPF) yang terjaga pada kisaran 2,82 persen.

Gearing ratio merupakan rasio perbandingan antara jumlah pinjaman dengan modal sendiri perusahaan. Regulasi yang berlaku menetapkan bahwa gearing ratio perusahaan pembuayaan dibatasi maksimal 10 kali.

“Mudah-mudahan Desember 2019 akan naik lagi. Saya kira akan lebih baik, karena NPF terjaga, gearing ratio juga masih rendah, sehingga masih punya kemampuan,” jelasnya.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno juga mengakui bahwa kondisi itu menunjukkan bahwa masih terbuka ruang pertumbuhan bagi industri pada paruh kedua tahun ini.

“Ada ruang untuk tumbuh. Saya masih yakin,” jelasnya, kepada Bisnis, Kamis (25/7).

Suwandi juga mengatakan industri pembiayaan mau tidak mau masih cukup dominan dipengaruhi oleh pasar otomotif. Menurutnya, pelaku usaha di sektor itu pun meyakini mampu meningkatkan kinerja setelah pemasarannya menurun pada semester I/2019.

Dengan optimisme itu, dia mengakui pihaknya juga berharap mampu memacu pembiayaan kendaraan bermotor, khusunya mobil.

“Kami tanya pemain [pelaku usaha] mobil, dan mereka optimistis [target] bisa dikejar. Mana mungkin kami turunkan target?”

Suwandi mengatakan pemasaran dana tunai atau fasilitas dana bisa dipacu pada paruh kedua tahun ini. Seperti diketahui, pembiayaan tunai atau fasilitas dana ini merupakan opsi atau jenis pembiayaan baru di lini multiguna yang termuat dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan.

Di samping itu, dia meyakini tiga sektor, yakni batu bara, industri pengolahan dan rumah tangga, masih bisa diandalkan untuk memacu pembiayaan. Tiga sektor tersebut menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan piutang pembiayaan industri pada akhir Juni 2019.

Suwandi, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL), mengakui bahwa pembiayaan alat berat ke sektor batu bara mengalami pertumbuhan. CSUL, jelasnya, dengan portofolio hingga 35 persen di sektor tersebut juga masih mencatatkan pertumbuhan pembiayaan.

Portofolio pembiayaan CSUL pada sektor itu meningkat dari sebelumnya hanya sekitar 28 persen. Selebihnya, dia mengatakan pihaknya menyalurkan pembiayaan produktif ke sektor perkebunan, infrastruktur, konstruksi, dan kehutanan.

“Kami memang masih batu bara yang terbesar [porsinya di dalam protofolio].”

Di sisi lain, Suwandi data terkait NPF kondisi aman dan laba yang meningkat menunjukkan bahwa industri pembiayaan kian sehat. Kendati piutang pembiayaan tumbuh rendah, dia mengklaim industri multifinance bahkan masih mampu membukukan pertumbuhan laba bersih hingga kisaran 15 persen pada akhir Juni 2019 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. “Industri berarti lebih sehat, lebih terkontrol,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
multifinance

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top