Bank Sampoerna Bukukan Laba Bersih Rp24,60 Miliar

PT Bank Sahabat Sampoerna mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp24,6 miliar pada semester I/2019.  Adapun, capaian  tersebut menurun 17 persen jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun lalu.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  20:10 WIB
Bank Sampoerna Bukukan Laba Bersih Rp24,60 Miliar
Bank Sahabat Sampoerna

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Sahabat Sampoerna mencatatkan perolehan laba bersih sebesar Rp24,6 miliar pada semester I/2019.  Adapun, capaian  tersebut menurun 17 persen jika dibandingkan dengan perolehan pada periode yang sama tahun lalu.

Chief Financial Officer Bank Sampoerna Henky Suryaputra menyampaikan bahwa penurunan laba bersih perseroan disebabkan oleh peningkatan beban penyisihan penurunan nilai kredit.

Bank Sampoerna mencatatkan beban penyisihan penurunan nilai kredit sebesar Rp143,8 miliar,  meningkat cukup signifikan sebesar Rp40,7 miliar atau 39 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Henky menambahkan bahwa kenaikan tersebut antara lain terkait dengan persiapan implementasi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71 yang akan dimulai pada awal 2020.

"Kami siap untuk dapat mengimplementasikan PSAK 71 yang berlaku pada 2020. Kami mengantisipasi bahwa penerapan PSAK 71 ini akan mengharuskan kami untuk mengakumulasikan pencadangan yang lebih besar. Hal ini memengaruhi laba bersih yang kami bukukan pada semester I/2019," katanya dikutip melalui keterangan resmi, Kamis (1/8/2019).

Di samping itu, perseroan mencatatkan peningkatan pendapatan bunga bersih menjadi sebesar Rp326 miliar atau naik 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp302 miliar. Margin bunga bersih / NIM perseroan tercatat pada level 6,88 persen.

Peningkatan tersebut sejalan dengan peningkatan kredit pada kuartal II/2019. Penyaluran kredit tercatat meningkat 16 persen dari Rp6,8 triliun pada Juni 2018 menjadi Rp8,0 triliun pada Juni 2019.

Namun begitu, rasio kredit bermasalah secara bruto berada pada level 4,48 persen dan secara neto (NPL Net) tercatat pada level 3,35 persen, keduanya meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama Bank Samporna Ali Rukmijah menyampaikan naiknya NPL sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, termasuk situasi politik.

Ali menyampaikan, pihak manajemen akan terus berupaya memperbaiki kualitas kredit dengan melakukan pendekatan kepada nasabah secara rutin.

Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga berhasil dihimpun sebesar Rp8,8 triliun dari Rp7,7 triliun pada akhir periode yang sama tahun lalu atau meningkat 14 persen. 

Dengan demikian rasio kredit berbanding dana pihak ketiga (Loan to Deposit Ratio/LDR) perseroan mengalami peningkatan tipis ke level 90,66 persen. 

Tingkat LDR tersebut dipandang perseroan cukup baik dalam hal keseimbangan antara efisiensi penggunaan dana dan pemenuhan tingkat likuiditas demi memenuhi kebutuhan nasabah.

“Bank Sampoerna berusaha untuk tetap melakukan fungsi intermediasi bank secara konsisten dan berhati-hati. Peningkatan dana pihak ketiga dan kredit yang disalurkan menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Bank Sampoerna semakin kuat,” kata Ali.

Sementara, pada rasio keuangan lainnya, Ali menambahkan, CAR perseroan berada di level 19,24 persen, sehingga kinerja yang dibukukan dengan didukung pemenuhan kebutuhan modal menjadikan Bank Sampoerna memiliki fundamental yang baik.

Pada rasio keuangan lainnya, terjadi penurunan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, seperti ROA dari 0,92 persen menjadi 0,66 persen dan ROE dari 4,80 persen menjadi 3,43 persen, sedangkan BOPO mengalami peningkatan dari 91,95 persen menjadi 93,27 persen. 

Secara total aset, Bank Sampoerna mencatatkan pertumbuhan sebesar 12 persen menjadi Rp10,5 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp9,3 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank sampoerna

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top