Tren Perlambatan Penghimpunan Dana Valas Diproyeksi Berlanjut

Dana valas yang tercatat tumbuh 12,7 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal pertama tahun ini, turun menjadi 4,1 persen yoy pada akhir kuartal II/2019.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 08 Oktober 2019  |  15:07 WIB
Tren Perlambatan Penghimpunan Dana Valas Diproyeksi Berlanjut
Karyawan memperlihatkan mata uang dolar AS di salah satu bank di Jakarta. - JIIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA -- Tren perlambatan pertumbuhan penghimpunan dana valuta asing (valas) diperkirakan berlanjut hingga akhir 2019.  

Berdasarkan data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), pertumbuhan nominal simpanan valas turun secara drastis sejak awal tahun. Dana valas yang tercatat tumbuh 12,7 persen (year-on-year/yoy) pada kuartal pertama tahun ini, turun menjadi 4,1 persen yoy pada akhir kuartal II/2019.

Per akhir Agustus 2019, pertumbuhannya kembali turun ke posisi 3,8 persen yoy.
 
Jika ditelisik lebih lanjut, kondisi ini juga dibarengi dengan penyaluran kredit valas yang semakin lemah. Mengacu ke data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kredit valas yang tercatat tumbuh 15,85 persen yoy pada akhir 2018, turun menjadi 5,87 persen yoy pada awal paruh pertama tahun ini.
 
Tetapi, hal ini juga masih belum dapat membuat kondisi likuiditas perbankan longgar. Pada Juli 2019, Loan-to-Deposit Ratio (LDR) masih berada di level 99,81 persen, walaupun sudah sedikit turun dari posisi akhir tahun lalu yang mencapai 102,11 persen.
 
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. David Samual menyampaikan kondisi likuiditas valas sangat ketat pada kuartal III/2019 dan masih akan berlanjut hingga akhir tahun ini.
 
"Kami kira tren penghimpunan dana valas yang sulit ini masih akan terus berlanjut hingga akhir tahun, sehingga membuat perbankan harus bertahan dengan kondisi likuiditas yang ketat," katanya, Selasa (8/10/2019).
 
David menjelaskan pelemahan penghimpunan dana valas perbankan terutama disebabkan oleh pendapatan ekspor yang rendah, seiring dengan belum membaiknya harga komoditas andalan Indonesia. Selain itu, pada kuartal ketiga tahun ini, tekanan pembayaran utang negara dan korporasi juga cukup kuat sehingga menggerus dana valas perbankan.

Di luar itu, kondisi penurunan suku bunga acuan membuat sebagian pemilik dana mempertimbangkan untuk memboyong valasnya keluar.
 
"Tekanan itu ada, kita juga lihat cadangan devisa kita juga turun sepanjang September 2019. Namun, saya rasa ini tidak memiliki dampak terlalu besar," ujarnya.

David berpendapat kondisi penghimpunan dana yang ketat akan terus berdampak pada penyaluran kredit valas. Pelaku industri perbankan akan melanjutkan pengetatan penyaluran kredit valas guna menghindari risiko likuiditas.
 
"Hal ini tentunya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan sebenarnya juga sejalan dengan prediksi World Bank yang menegaskan ekonomi global tengah melemah," tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
valas, perbankan

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top