Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Margin BNI Melorot Pada 5 Tahun Terakhir, Ini Strategi Manajemen Membalik Keadaan

PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatat penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) selama 5 tahun terakhir. Posisi NIM pada 2015 kontras dengan realisasi September 2019, atau menyusut dari 6,4% menjadi 4,9%.
Direktur Keuangan BNI Ario Bimo berswafoto bersama jajaran direksi dalam konferensi pers paparan kinerja kuartal III/2019 di Jakarta, Rabu (23/10/2019)./Bisnis-Muhammad Khadafi
Direktur Keuangan BNI Ario Bimo berswafoto bersama jajaran direksi dalam konferensi pers paparan kinerja kuartal III/2019 di Jakarta, Rabu (23/10/2019)./Bisnis-Muhammad Khadafi

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. mencatat penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) selama 5 tahun terakhir. Posisi NIM pada 2015 kontras dengan realisasi September 2019, atau menyusut dari 6,4% menjadi 4,9%.

Hal itu pun berdampak pada kemampuan bank mencetak laba. Per kuartal III tahun ini, laba perusahaan tumbuh melambat atau naik 4,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp12 triliun. padahal pada periode yang sama tahun lalu bank membukukan pertumbuhan laba sebesar 12,6% yoy.

Direktur Keuangan BNI Ario Bimo sempat menjelaskan bahwa penurunan NIM disebabkan oleh beban dana (cost of fund/CoF). “kita tahu, likuditas cukup ketat. Bank juga bersaing dengan pemerintah karena pemerintah menerbitkan surat utang,” katanya belum lama ini di Jakarta.

Selanjutnya BNI akan menjadikan perbaikan NIM sebagai prioritas. Bank pelat merah ini memproyeksi NIM pada tahun depan sekitar 5% hingga 5,2%.

Ario juga mengatakan bahwa kendati masih tumbuh satu digit, laba kuartal III/2019 telah menguat dibandingkan dengan 3 bulan sebelumnya. Hal ini merupakan dampak dari strategi bank untuk fokus meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income/FBI) dan menjaga komposisi dana murah (current accoung savings account/CASA).

Berdasarkan data perseroan per September 2019, pendapatan komisi BNI ditopang oleh pertumbuhan recurring fee sebesar 17,1% yoy menjadi Rp7,9 triliun. Kenaikan FBI pada kuartal III/2019 ini didorong oleh kontribusi komisi dari segmen business banking, antara lain komisi dari trade finance yang tumbuh 9,4% dan komisi sindikasi yang tumbuh 81,6%.

Direktur Manajemen Risiko BNI Rico Rizal Budidarmo menyampaikan bahwa dalam jangka panjang FBI menjadi sangat penting. Menjaga rasio NIM bagi perbankan semakin menantang. Pada saat yang sama perebutan dana pun tidak terkhindarkan, sehingga membuat beban dana meningkat.

Sepanjang 4 tahun terakhir BNI telah mengutilisasi pendapatan berbasis komisi dari segmen business banking. “Selain itu potensi fee based itu juga ada dari segmen konsumer,” katanya.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa pada segmen konsumer, bank akan lebih giat mengembangkan proyek berbasis teknologi. Hal ini sekaligus akan menghasilkan efisiensi beban dan mendatangkan dana murah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper