Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Analis Sebut Lampu Kuning Kredit Manufaktur, Kenapa?

Pertumbuhan kredit sektor manufaktur sempat menyentuh angka tertinggi pada awal tahun ini, dan tertinggi sepanjang dua tahun terakhir. Akan tetapi, hal itu tidak diikuti oleh pertumbuhan produksi industrinya.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 06 November 2019  |  10:21 WIB
Ilustrasi kegiatan industri manufaktur - Reuters
Ilustrasi kegiatan industri manufaktur - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Analis PT Bank Woori Saudara Tbk. (BWS) Rully Nova menilai industri manufaktur sudah menjadi lampu kuning bagi industri perbankan.

Pertumbuhan kredit sektor manufaktur sempat menyentuh angka tertinggi pada awal tahun ini, dan tertinggi sepanjang dua tahun terakhir. Akan tetapi, hal itu tidak diikuti oleh pertumbuhan produksi industrinya.

Berdasarkan data Bank Indonesia, pada 3 bulan pertama tahun ini industri pengolahan tumbuh 9,5% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi Rp772,8 triliun. Selanjutnya pertumbuhan kembali melambat pada kuartal II dan III, yakni 6,7% yoy dan 5,7% yoy.

Sementara itu, mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang tahun ini cenderung menurun. “Awal tahun kredit manufaktur naik tinggi, tapi tidak diikuti pertumbuhan produksi manufaktur dari data BPS, jadi ada potensi kredit macet,” kata Rully kepada Bisnis, Selasa (5/11/2019).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam laporannya mencatat kualitas aset kredit manufaktur tahun ini memburuk. Per Agustus 2019, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sebesar 3,1%. Realiasi ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri, 2,60% pada periode tersebut.

Rully mengatakan bahwa industri manufaktur di Indonesia banyak yang berorientasi ekspor. Saat ekonomi global masih dilanda ketidakpastian, iklim usaha sektor itu pun memburuk.

Hal itu pada akhirnya berdampak pada penurunan utilitas pabrik. “Kelihatan dari kredit modal kerja yang menjadi kontributor mulai melambat karena kebutuhan bahan baku turun, mengikuti utilitas pabrik,” jelasnya.

Dalam jangka panjang apabila tidak ada gebrakan dari para pemilik kepentingan akan sulit bagi manufaktur berkembang dan tumbuh. Menurut Rully, pembiaran terhadap perlambatan produksi manufaktur terbilang tidak sehat karena struktur ekonomi Indonesia masih membutuhkan topangan dari industri tersebut.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

manufaktur kredit kredit manufaktur
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top