Tahun Suram KPR, Bank Mandiri Hanya Naik 3 Persen & Maybank Stagnan

Perlambatan industri properti turut berdampak negatif pada kinerja perbankan dalam menyalurkan kredit pemilikan rumah pada tahun ini. Hingga pengujung tahun ini bankir pun tidak memiliki rasa optimistis yang tinggi pada kredit perumahan.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 13 November 2019  |  18:26 WIB
Tahun Suram KPR, Bank Mandiri Hanya Naik 3 Persen & Maybank Stagnan
Foto ilustrasi perumahan. - Bisnis Rahman

Bisnis.com, JAKARTA — Perlambatan industri properti turut berdampak negatif pada kinerja perbankan dalam menyalurkan kredit pemilikan rumah pada tahun ini. Hingga pengujung tahun ini bankir pun tidak memiliki rasa optimistis yang tinggi pada kredit perumahan.

EVP Consumer Loans Bank Mandiri Ignatius Susatyo Wijoyo mengatakan sampai akhir tahun perseroan menilai akan mendapatkan pertumbuhan KPR maksimal pada level 3%. Hal itu akibat perubahan kebijakan plafon penyaluran kredit (ticket size) yang dilakukan manajemen.

"Kami saat ini fokus end user [rumah pertama], FLPP yang sangat laris seperti kacang goreng dengan kuota kami 2.000 unit sudah habis. Jadi sekarang kebanyakan rumah dikisaran Rp400 jutaan," katanya saat ditemui di Jakarta, Selasa (12/11/2019).

Menurut Susatyo, sejak menggencarkan strategi fokus menggarap pasar end user ini, portofolio perseroan terus bertumbuh sejak Juli 2019 lalu. Rerata pertambahan KPR per bulan sekitar Rp1,3 triliun - Rp1,5 triliun.

Hingga saat ini, Susatyo mengaku telah menggandeng 400 pengembang tier-2 yang hanya menggarap lahan kecil-kecil, tetapi memenuhi kebutuhan end user. Dia menilai strategi ini sangat efektif menarik debitur KPR perseroan.

Untuk penawaran bunga, perseroan juga masih memiliki promo bunga fix 6,5% selama 3 tahun. Namun, bunga floating masih berkisar 12% meskipun bank pelat merah itu menjanjikan akan turun pada tahun depan.

Susatyo mengemukakan, jika masih mengandalkan para investor atau penyaluran KPR di atas Rp1,5 miliar, perseroan akan sulit dalam membukukan kenaikan kredit.

Apalagi, sambungnya, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) KPR saat ini disumbang segmen menengah ke atas. Adapun NPL pada KPR saat ini masih tergolong tinggi atau berkisar 3%. Angka itu di atas NPL total perseroan di level 2,5%.

Alhasil, ungkap Susatyo, pada tahun ini perseroan hampir tidak menyalurkan kredit pemilikan apartemen atau KPA yang umumnya dipilih sebagai sarana investasi. Untuk itu, sambungnya, perseroan menerima pengajuan KPA jika apartemen tersebut berada di dekat kampus, stasiun komuter, dan mal.

JAGA PORTOFOLIO

Sementara itu, Direktur Community Financial Services PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Jenny Wiriyanto membenarkan ada perlambatan penyaluran KPR  yang terjadi saat ini. Adapun yang dilakukan perseroan adalah maintenance portofolio yang ada.

"Total outstanding kami per September stabil Rp15,2 triliun, jadi at this moment kami maintenance agar tidak lebih rendah dari tahun lalu karena situasi orang yang lebih suka menyimpan cash," katanya kepada Bisnis belum lama ini.

Jenny mengemukakan pada tahun depan perseroan akan lebih optimistis akan mencatat pertumbuhan dikisaran 8%. Untuk itu, perseroan baru saja merilis program KPR yang mudah bagi kalangan profesional muda.

Program itu adalah kemudahan cicilan yang memungkinkan debitur mencicil bunga saja dalam 5 tahun pertama setelah mendapat persetujuan KPR Maybank.

"Harapannya setelah 5 tahun gaji akan naik dan bisa mencicil pokok yang iurannya tentu lebih tinggi. Jadi daripada bayar kos atau kontrakan dengan Rp2 juta sudah bisa mencicil rumah sekarang," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kpr, bank mandiri, maybank

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top