OJK Himbau Masyarakat Ganti Kartu ke Chip agar Terhindar Praktik Skimming

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis OJK Anto Prabowo mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan masyarakat adalah proaktif mengganti kartu debit yang masih berjenis magnetik dengan chip. Pergantian ini dipercaya bisa meminimalisir terjadinya praktik skimming.
Lalu Rahadian
Lalu Rahadian - Bisnis.com 21 Januari 2020  |  18:34 WIB
OJK Himbau Masyarakat Ganti Kartu ke Chip agar Terhindar Praktik Skimming
Karyawan minimarket menggesekan kartu debit di mesin Electronic Data Capture (EDC), di Jakarta, Selasa (5/9). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan sejumlah himbauan untuk masyarakat agar terhindar dari ancaman tindak kejahatan skimming atau penggandaan data.

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis OJK Anto Prabowo mengatakan, langkah pertama yang harus dilakukan masyarakat adalah proaktif mengganti kartu debit yang masih berjenis magnetik dengan chip. Pergantian ini dipercaya bisa meminimalisir terjadinya praktik skimming.

Skimming itu pertama dari sisi kartunya supaya untuk meminimalkan adala mengganti dengan chip. Artinya nasabah harus kritis minta ke bank kalau ganti kartu dengan chip karena bank punya kewajiban mengganti seluruh kartunya dengan chip,” ujar Anto kepada Bisnis, Selasa (21/1).

Pergantian kartu magnetik ke chip sebenarnya telah lama dibahas dan menjadi sorotan otoritas serta lembaga terkait. Bahkan, Bank Indonesia sudah menetapkan National Standard Indonesian Chip Card Specification (NSICCS) sebagai standar nasional teknologi chip kartu ATM dan/atau kartu debit sejak 2017 lalu.

BI menargetkan implementasi secara penuh kartu debit berbasis chip terjadi pada 31 Desember 2021. Hingga akhir 2020 ditargetkan 80% kartu debit sudah berbasis chip.

Kedua, OJK menyarankan nasabah perbankan untuk waspada dan tak mudah percaya orang jika bertransaksi di ATM. Menurutnya, seringkali praktik skimming terjadi karena nasabah membuka diri menerima bantuan orang tak dikenal saat kesulitan bertransaksi di ATM.

Bantuan yang diterima masyarakat itu berpotensi disalahgunakan. Sebagai contoh, bisa saja oknum yang menawarkan bantuan menghafalkan nomor PIN ATM korban untuk kemudian digunakan bertransaksi.

Ketiga, masyarakat juga diimbau tidak memaksakan kartu debit masuk ke mesin ATM jika mengalami kesulitan. Anto menyebut, lebih baik nasabah berpindah ATM daripada memaksakan kartu masuk ke mesin terkait karena rentan terkena praktik skimming.

“Skimming juga bisa terjadi karena ATM-nya, lokasi ATM-nya. Maka hampir semua bank sudah upgrade kemampuan ATM untuk hindari skimming,” ujarnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perbankan, ojk

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top