Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pandemi dan Rencana Merger Jadi Momentum Penguatan Ekonomi Syariah Nasional

Anggota Komisi XI DPR RI dari fraksi Golkar, Mukhamad Misbakhun mengatakan bahwa merger bank syariah BUMN akan membuat kinerja perbankan syariah akan menjadi lebih baik dan efisien dengan indikator peningkatan market share perbankan syariah di Indonesia.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 16 Juli 2020  |  18:24 WIB
Bank Syariah BUMN.  - Bisnis.com
Bank Syariah BUMN. - Bisnis.com
Bisnis.com, JAKARTA -  Rencana merger bank syariah BUMN dinilai bisa menjadi langkah yang tepat dalam rangka penguatan ekonomi syariah di Indonesia yang lagi ditekan oleh pandemi Covid-19.
Anggota Komisi XI DPR RI dari fraksi Golkar, Mukhamad Misbakhun mengatakan bahwa merger bank syariah BUMN akan membuat kinerja perbankan syariah akan menjadi lebih baik dan efisien dengan indikator peningkatan market share perbankan syariah di Indonesia.
“Dalam pandangan saya, upaya merger semua bank syariah BUMN adalah upaya konsolidasi yang bagus dalam posisi saat ini, di mana pemerintah sebagai pemegang saham harus melakukan konsolidasi semua lini bisnis berdasarkan core competence sesuai lini dan bidang usaha untuk mencapai kinerja yang bagus dan efisien,” kata Misbakhun dalam keterangan yang diterima Bisnis, Kamis (16/7/2020).
Misbakhun juga berpendapat pandemi Covid-19 bisa momentum untuk konsolidasi bank-bank syariah BUMN. Pasalnya, dalam kondisi perekonomian yang tidak menentu seperti sekarang, mereka dapat bekerja secara maksimal dalam membantu perekonomian nasional dengan konsep bagi hasil yang diterapkan oleh perbankan syariah dianggap bisa memberikan manfaat untuk semua pihak, baik perbankan dan masyarakat.
“Momentum pandemi Covid19 adalah saat yang tepat untuk melakukan upaya konsolidasi itu mengingat kondisi sektor keuangan dan perbankan mengalami situasi yang berat dan harus ada upaya yang sungguh-sungguh dan nyata,” imbuhnya.
Sebagai informasi, dengan penetrasi perbankan syariah di Indonesia memang masih sangat kecil bila dibandingkan perbankan konvensional. Saat ini market share perbankan syariah masih di kisaran 6 persen. 
Lebih rinci, porsi pembiayaan dari total kredit hanya 6,38 persen, sedangkan dana pihak ketiga syariah baru di kisaran 6,7 persen. Dari sisi aset, total aset seluruh bank syariah itu baru Rp 537 triliun, sedangkan perbankan konvensional total asetnya sudah di angka Rp 8.402 triliun. 
Meski demikian, Misbakhun melihat adanya peluang bagi perbankan syariah untuk terus tumbuh, apalagi dari sisi pertumbuhan aset perbankan syariah selalu di angka 2 digit tiap tahunnya.
“Dengan adanya penggabungan semua bank syariah milik BUMN maka diharapkan adanya bank syariah BUMN yang tunggal akan memperkuat industri perbankan syariah dan makin memperkuat pembiyaan ekonomi berbasis syariah di Indonesia,” tuturnya.
Misbakhusn melanjutkan pihaknya juga tengah mengkaji beberapa bank lain yang akan masuk ke dalam konlomerasi besar bank syariah ini.
 
"Insyaallah, Februari tahun depan jadi satu, Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah dan BNI Syariah supaya juga ada opsi-opsi pendanaan bagi yang percaya bisnis syariah," katanya.
Adapun, rencana merger bank syariah BUMN digulirkan oleh menteri BUMN Erick Thohir. Erick menyampaikan, dengan bergabungnya bank-bank syariah BUMN akan membuka opsi-opsi pendanaan yang lebih luas di dalam negeri. Merger ini akan dilakukan rencananya pada kuartal pertama 2021

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank syariah brisyariah bni syariah
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top