Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Mengenal Jouska, Kandidat Predator Marketing Produk Keuangan

Founder dan CEO Jouska Indonesia Aakar Abyasa Fidzuno pernah berkisah soal perjalanan awalnya terjun ke dunia financial advisor serta misinya bersama Jouska.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  12:31 WIB
Ilustrasi investasi - Istimewa
Ilustrasi investasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Pertemuan dengan klien yang bercerai gara-gara urusan investasi bodong mendorong Aakar Abyasa Fidzuno mendirikan PT Jouska Finansial Indonesia. Perusahaan perencana keuangan itu mengusung misi menggantikan semua profesi pemasar produk keuangan.

Founder dan CEO Jouska Indonesia Aakar Abyasa Fidzuno pernah berkisah soal perjalanan awalnya terjun ke dunia financial advisor serta misinya bersama Jouska. Penuturannya itu dimuat dalam salah satu rubrik Harian Bisnis Indonesia edisi 14 April 2019.

Saat itu, dia mengisahkan berada di pasar modal sejak 2007 sebelumnya akhirnya direkrut menjadi asisten orang untuk mengurus keuangan, portofolio, serta hal-hal terkait keuangan. Profesi itu dijalaninya selama 4 tahun.

Dalam perjalanannya, Aakar mendapatkan seorang klien yang bercerai dengan sang suami karena urusan investasi. Sang istri ternyata menempatkan uangnya ke investasi bodong.

Kasus seperti itu tidak pernah ditemukan sebelumnya. Pasalnya, market segmentasi A menurutnya lebih banyak berbicara soal bagaimana mendapat kredit bunga murah dan bagus atau strategi investasi sehingga berbeda dengan kelas menengah.

Dia terkejut karena ada orang yang diceraikan karena investasi bodong. Oleh karena itu, dilakukan penelusuran dan hasilnya cukup banyak korban dan mereka tidak paham mengenai investasi.

“Mereka justru mendapatkan saran dari financial planner untuk berinvestasi ke produk itu. Jadi, financial planner yang seharusnya memberikan saran terbaik bagi klien justru malah menyesatkan dan merugikan klien tersebut,” tutur pria kelahiran Banyuwangi 36 tahun silam.

Pengalaman itu menyadarkannya bahwa ada jarak yang cukup lebar antara kalangan atas dan menengah. Dengan demikian, Aakar terdorong memulai bisnis sendiri dengan mendirikan Jouska.

Jouska beroperasi sejak Oktober 2015. Kliennya yang dimiliki telah mencapai 2.800 orang pada 2018.

Saat wawancara dilakukan pada 2019, Aakar mengatakan sudah ada investor yang ingin masuk untuk mendukung ekspansi cabang Jouska di beberapa kota. Perseroan juga memiliki ambisi besar membawa profesi financial advisor layaknya di negara maju.

“Pada dasarnya misi Jouska dari awal ialah menggantikan semua profesi pemasar produk keuangan. Bisa dilihat di negara maju kita bisa lihat profesi financial advisor bisa menggantikan RM [Relationship Manager] bank, broker saham, dan agen asuransi itu semuanya bisa di-take-out,” jelasnya ketika ditanya soal rencana ekspansi.

Dia menyebut tanpa kehadiran Jouska profesi-profesi tersebut karena adanya kemajuan teknologi. Hal itu sudah terjadi dan tidak dapat dihindari.

“Sejak ada Jouska, salah satu pencapaian yang ada itu banyak sekali perusahaan asuransi yang sudah mengubah produknya dan teknik pelayanannya. Kalau market-nya tidak diedukasi, dan tidak sadar, maka selama ini kami akan dapat junk product, dan itu berkeliaran banyak sekali jadi ke financial advisor itu sudah paling aman,” tuturnya.

Jouska tengah menjadi topik hangat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi itu bermula dari jeritan salah seorang klien yang mengaku rugi setelah mengikuti layanan yang ditawarkan perseroan.

Sorotan utama saat ini terkait tudingan terhadap Jouska yang menyalahi fungsi sebagai penasehat keuangan dengan mengelola dana nasabah. Peran itu merupakan tugas dari seorang manajer investasi (MI).

Isu ini turut mendapat perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Lembaga itu menyatakan telah berkoordinasi dengan Satgas Waspada Investasi untuk melakukan tindak lanjut.

Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing mengatakan akan memanggil perusahaan penasehat keuangan Jouska pada pekan depan. Pihaknya akan meminta klarifikasi terkait bisnis utama yang dijalankan oleh perseroan

“Kami akan panggil mereka untuk jelaskan dua hal. Pertama adalah legalitas yang mereka miliki dan bagaimana mereka menjalankan bisnis inti,” ujarnya.

Saat dimintai konfirmasi Bisnis pada Rabu (22/7/2020), Aakar menegaskan bahwa perseroan tidak menjalankan peran sebagai MI. Ruang lingkup pekerjaan adalah sebagai pemberi nasihat dan atau saran terkait perencanaan keuangan.

“Termasuk edukasi investasi pada produk yang secara hukum telah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan seperti surat utang maupun saham,” imbuhnya.

Aakar menjelaskan bahwa Jouska tidak mengelola dana dari nasabah. Setiap akun investasi, dalam hal ini saham dibuka atas nama pribadi klien.

Dia mengatakan klien memiliki akses penuh terhadap setiap aktivitas akun. Setiap dana investasi juga dikirimkan ke rekening dana investor (RDI) atas nama pribadi dan bukan ke rekening perusahaan.

“Jouska tidak memiliki akses terhadap akun tersebut,” jelasnya

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi perencana keuangan Jouska
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top