Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Beda Angel Investor dan Modal Ventura Berburu Startup di Era New Normal

Di masa pandemi, semua investor pasti akan memilih perusahaan rintisan yang tidak bakar uang dan memiliki profitabilitas yang jelas ke depan. Lalu apa beda angel investor dan modal ventura?
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 16 September 2020  |  17:13 WIB
Ilustrasi startup. - olpreneur.com
Ilustrasi startup. - olpreneur.com

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 tak menyurutkan minat para investor besar perseorangan atau akrab disebut angel investor untuk berburu perusahaan rintisan.

Mantan CEO Indosat Oooredo Tbk. yang saat ini berkiprah sebagai angel investor Alexander Rusli, mengungkap bahkan saat ini angel investor makin getol berinvestasi di perusahaan rintisan.

"Meski tengah giat berinvestasi di perusahaan rintisan, azas kehati-hatian tetap dipegang angel investor. Kami akan selektif memilih perusahaan rintisan yang akan menjadi target investasi," jelasnya, Rabu (16/9/2020).

Alex pun mengakui bahwa saat ini masih banyak investor yang mencari perusahaan rintisan, tak kalah dengan perusahaan modal ventura konvensional besar di luar negeri juga turut menjamah tren berburu perusahaan rintisan.

"Memang para perusahaan tersebutlah yang membuat perusahaan rintisan menjadi lebih besar dan tambah maju. Sebab salah satu peran dari perusahaan konvensional tersebut sebagai ‘bapak angkat’ dari perusahaan rintisan," tambahnya.

Tujuan perusahaan konvensional berinvestasi di perusahaan rintisan selain mencari potensi pendapatan dari noncore bisnis yang selama ini digeluti, mereka juga mencari teknologi atau inovasi yang mungkin bisa dikolaborasikan dengan bisnis yang dijalankan selama ini.

Namun, menurut Alex, perusahaan konvensional tersebut tentunya mencari perusahaan yang tahan terhadap pandemi Covid-19 dan rendah resikonya.

Sama dengan angel investor, semua investor di tengah kondisi ini pasti akan memilih perusahaan rintisan yang tidak bakar uang dan memiliki profitabilitas yang jelas untuk beberapa tahun ke depan.

Alex memberikan contoh, salah satu perusahaan rintisan di segmen business to business, Redkendi yang saat ini menjadi salah satu perusahaan rintisan yang didanai Alex.

"Mereka misalnya, target market yang dibidik perusahaan rintisan tersebut jelas dengan menyasar target market business to business yang berpotensi memiliki profitabilitas lebih jelas di masa mendatang," ungkapnya.

Alex menambahkan, tren investor kini jadi lebih selektif. Terutama bagi perusahaan besar seperti BCA dan Telkom yang ikut berinvestasi di perusahaan rintisan, tentu sangat berhati-hati dalam berinvestasi di perusahaan rintisan.

Hal tersebut karena mereka akan melakukan investasi dengan melihat resiko dan potensi bisnis yang bisa disinergikan dengan bisnis intinya.

"Biasanya mereka masuk bertahap. Kalau mereka confidence, investasi besar baru mereka keluarkan. Jadi wajar saja jika saat ini Telkom, BCA atau BRI juga ikut tren berinvestasi di perusahaan rintisan," terang Alex.

Langkah perusahaan besar seperti Telkom, BCA dan BRI selaku investor biasanya tak akan masuk stage awal, mereka akan masuk di stage tengah.

Inilah menurut Alex yang membedakan langkah perusahaan tersebut dengan langkah angel investor seperti dirinya yang lebih menyukai masuk di stage awal.

"Masuk di stage awal memiliki resiko dan effort yang lebih. Namun, dana yang diinvestasikan tidak besar dengan potensi keuntungan yang kemungkinan akan diperoleh akan besar," ungkap Alex.

Oleh sebab itu, demi meminimalkan resiko investasi, angel investor biasanya ikut terlibat langsung di dalam perusahaan rintisan yang dimasukinya.

"Memang ketika masuk di stage awal kita bisa mengatur arah perusahaan. Beda jika kita masuk di stage tengah atau akhir. Akan sulit kita mengatur arah perusahaan. Karena sistim mereka sudah berjalan. Karena sistimnya sudah berjalan dengan baik maka resikonya juga rendah. Karena resiko rendah keuntungan yang didapat juga tak akan eksponensial," jelasnya.

Alex menceritakan ketika memimpin di perusahaan sebelumnya, dia memutuskan melakukan investasi awal di Grab. Pada saat Alex meninggalkan perusahaan lamanya tersebut, investasi yang ditanamkan di Grab sudah tumbuh 5 kali lipat.

Oleh sebab itu, jika investor saat ini ingin berinvestasi di perusahaan yang sudah mature, Alex memperkirakan keuntungannya mungkin tak akan terlalu tinggi lagi. Bakal sulit memperkirakan keuntungan yang akan diperoleh ketika hendak masuk ke perusahan yang sudah mature.

"Karena valuasi mereka saat ini sudah sangat tinggi. Mencapai US$10 miliar. Meski demikian investor masih berpotensi mendapatkan keuntungan jika saat ini mereka ingin masuk ke perusahaan rintisan yang sudah mature," tutup Alex.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

StartUp angel investor investasi startup
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top