Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tekanan Ekonomi, Pengamat Ingatkan 'Gejala' Jiwasraya Jangan Terulang

Pengamat asuransi mengingatkan ekonomi yang tertekan akibat pandemi virus corona dapat memberatkan investasi cadangan premi. Hal ini dapat berbagaya bagi perusahaan asuransi.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 20 September 2020  |  19:06 WIB
Karyawan melintasi logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Jakarta, Selasa (11/02/2020). - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melintasi logo-logo perusahaan asuransi di Kantor Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Jakarta, Selasa (11/02/2020). - Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Industri asuransi dinilai perlu mengantisipasi munculnya gejala kasus yang serupa dengan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), yakni kebijakan investasi yang tidak tepat dari cadangan premi. Kondisi ekonomi yang tertekan akibat pandemi virus corona dapat memberatkan investasi cadangan premi.

Dosen Program MM-Fakuktas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM) Kapler A. Marpaung menyebutkan industri asuransi memiliki dua sumber modal investasi, yakni modal sendiri dan investasi atas dana cadangan yang bersumber dari premi.

Menurutnya, dalam kondisi saat ini, Industri Keuangan Non Bank (IKNB) termasuk asuransi perlu menarik profil risiko investasinya menjadi lebih moderat untuk melindungi dananya. Hal tersebut harus lebih diterapkan dalam investasi atas dana cadangan.

Dalam kondisi saat ini, sambung Kapler, volatilitas pasar bisa berdampak terhadap kondisi likuiditas perusahaan jika penempatan investasi dana cadangan terlalu agresif. Dalam skenario terburuk, hal ini dapat memicu munculnya kasus gagal bayar lain yang justru menjadi momok bagi industri.

"Kalau investasi atas dana cadangan premi seharusnya industri sudah belajar banyak dari kasus-kasus investasi di Jiwasraya, Kresna Life, WanaArtha Life, dan lain-lain. Untuk investasi atas modal sendiri pun perlu ekstra hati-hati saat ini," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (20/9/2020).

Kapler menilai IKNB memang memiliki ketentuan modal minimal, atau dalam konteks asuransi adalah Risk Based Capital (RBC). Dia mengkhawatirkan kebijakan investasi yang kurang konservatif dapat mengganggu kualitas rasio permodalan industri.

"Sekalipun RBC perusahaan asuransi saat ini masih di atas rata-rata 120 persen, menjadi pertanyaan apakah sudah ada perusahaan asuransi yang [RBC-nya] di bawah 120 persen?" tanyanya.

Oleh karena itu, saat ini, IKNB harus menerapkan strategi investasi yang berorientasi kepada keamanan dan kepastian imbal hasil. Bahkan, harus mengabaikan teori risk and return dalam kondisi darurat seperti saat ini.

"Yang jelas investor jangan agresif, moderat pun jangan. Saat ini, konservatif saja," ucap Kapler.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi Jiwasraya
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top