Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penipuan di Perbankan Naik Pesat Saat Pandemi, BCA Ungkap Surat Kuasa Palsu

Executive Vice President Center Of Digital Bank Central Asia Wani Sabu mengatakan penjahat mengatahui kelemahan perbankan di Indonesia yakni tidak adanya kekompakan dalam menangani kejahatan.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 07 Oktober 2020  |  13:02 WIB
Polda Bali menangkap dua pelaku pencurian informasi data nasabah bank atau
Polda Bali menangkap dua pelaku pencurian informasi data nasabah bank atau "skimming", Teodor Stepanov Petrov dan Kamen Sevdalinov asal Bulgaria, saat membobol di salah satu ATM yang berlokasi di Jalan Sunset Road Seminyak Kuta, Kabupaten Badung, Bali. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Kasus penipuan dalam transaksi keuangan yang melibatkan bank meningkat sebanyak 30% selama pandemi Covid-19.

Executive Vice President Center Of Digital Bank Central Asia Wani Sabu mengatakan penjahat mengatahui kelemahan perbankan di Indonesia yakni tidak adanya kekompakan dalam menangani kejahatan. Kondisi ini dimanfaatkan penjahat dengan melakukan kejahatan yang melibatkan lebih dari satu bank.

Biasanya kejahatan dilakukan dengan menguras rekening bank bersangkutan di bank lain. Misalnya, penipuan yang membuat dana nasabah yang berada di rekening BCA harus ditransfer ke bank lain.

Dalam perkembangannya, ketika bank BCA ingin menangani kasus tersebut di bank lain, perlu sejumlah dokumen yang disiapkan sepert surat pernyataan direksi hingga surat kepolisian. Dengan pengurusan surat yang membutuhkan waktu lama, saldo nasabah bisa sudah terkuras habis sebelum surat tersebut diselesaikan.

"Mereka tahu kita gak kompak, kita akan diminta menyiapkan surat pernyataan dan surat kepolisian, alamak butuh berapa jam duit sudah diambil sehingga duit nasabah sering kali tidak selamat," katanya dalam webinar yang digelar Perbanas, Rabu (7/10/2020).

Wani Sabu mengatakan ada sejumlah jenis kejahatan perbankan yang terjadi mulai dari surat kuasa palsu, skimming, masalah sistem, penipuan, hingga fake account.

BCA pun mengakui pernah kecolongan dalam kejahatan yang menggunakan surat kuasa palsu. Penjahat berusaha meyakinkan cabang BCA sedemikian rupa untuk memindahkan dana perusahaan tertentu dengan berbekal surat kuasa ke rekening bank lain.

Saat itu dana ditransfer ke Bank Mandiri dan BNI. Dengan kolaborasi, BCA meminta kerja sama ke bank tersebut dengan meminta rekaman CCTV dan profil nasabah bersangkutan.

"Saat itu kami tertipu, sampai direksi ngamuk kasus gak seksi gini kok terjadi di BCA. Jadi kita bisa kolaborasi, di case ini terungkaplah, tidak hanya kejahatan bisa terjadi di BCA ternyata banyak bank lain juga kena," katanya.

Menurutnya, baru-baru ini kejahatan malah melibatkan e-commerce. Di mana sebuah e-commerce yang mengalami masalah sistem membuat dana yang ditransfer nasabah menjadi double atau mengalami error.

"Kalau data langsung dikirim kita langsung blokir, jadi harus saling bantu. Untung kemarin masih ada beberapa yang selamat, ada ratusan juta terselamatkan untuk e-commerce tersebut," sebutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bca perbankan penipuan skimming
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top