Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Nasabah Terdampak Pandemi, Amartha Petakan Potensi Kredit Macet

Amartha sempat mencapai titik terendah akibat pandemi dengan repayment rate para peminjam dana (borrower) hanya 65 persen dari keseluruhan portofolio.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  19:52 WIB
CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra. Bisnis - Triawanda Tirta Aditya
CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra. Bisnis - Triawanda Tirta Aditya

Bisnis.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 berpengaruh besar bagi PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), sebab fokus bisnisnya dalam menggarap nasabah segmen usaha mikro di pedesaan, membuat risiko gagal bayar pun semakin besar.

Chief Commercial Officer Amartha Hadi Wenas mengakui bahwa pihaknya masih berjuang untuk mengatasi fenomena kredit macet akibat pandemi Covid-19 ini.

Sebelumnya, Amartha sempat mencapai titik terendah akibat pandemi dengan repayment rate para peminjam dana (borrower) hanya 65 persen dari keseluruhan portofolio.

"Maka, Amartha menerapkan inovasi kebijakan yang adaptif untuk mencegah gagal bayar pada Mitra. Setidaknya empat kebijakan ini telah meningkatkan repayment rate pada awal pandemi 65 persen, kini telah mencapai 97 persen," jelasnya kepada Bisnis, Rabu (14/10/2020).

Pertama, Amartha melakukan inovasi dalam credit scoring penyaluran pinjaman baru, yang kini turut mempertimbangkan pengaruh Covid-19 di suatu daerah tersebut.

"Kita menggunakan skoring kredit baru dan di-update berkala untuk pendanaan baru, berdasarkan pemetaan area dan jenis usaha terdampak Covid-19 sejak April 2020," ungkap Hadi.

Sementara dalam hal collection, Amartha menekankan penagihan untuk “pendanaan lama”, termasuk area terdampak Covid-19 dan local lockdown melalui metode inovatif.

Di antaranya titip bayar antara anggota majelis ke ketua majelis, sistem pertemuan kelompok kecil, dan metode door-to-door collection.

Tentunya, Amartha juga mengakomodasi restrukturisasi antara borrower dengan para pendana (lender), dengan menawarkan perpanjangan tenor (Grace Period) untuk mitra terdampak dalam pendanaan lama.

"Terakhir, memberikan pendampingan dan pelatihan alternatif usaha bagi Mitra Amartha yang usahanya terdampak Covid-19, contohnya seperti pelatihan pembuatan masker, makanan olahan, dan marketing online," tutupnya.

Sekadar informasi, Amartha memang masih berjuang untuk memperkecil tingkat kredit macet atau tingkat wanprestasi pengembalian pinjaman 90 hari (TWP90).

Hal ini tampak dari tingkar keberhasilan pengembalian pinjaman 90 hari (TKB90) Amartha yang masih berada di 90,55 persen atau masih di bawah rata-rata industri sesuai data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni 91,12 persen.

Namun demikian, Hadi optimistis TKB90 mampu terjaga karena karakter Mitra Amartha, Ibu-Ibu Pengusaha Mikro di Desa yang dianggapnya tahan banting dan cepat beradaptasi.

Inilah kenapa Amartha tetap konsisten pada segmennya, dan optimistis pada semester II/2020 mencapai target penyaluran kepada sekitar 300.000 pengusaha mikro di sektor ekonomi informal seperti pedagangan kebutuhan pokok sehari-hari, sembako ataupun makanan, dengan total nilai penyaluran Rp900 miliar.

"Saat ini yang dibutuhkan UMKM adalah modal usaha untuk mengembangkan atau memulai usaha setelah kemarin mengalami kebangkrutan. Sehingga memberikan pendanaan modal usaha kepada pelaku UMKM saat ini akan sangat berarti untuk mempercepat pemulihan ekonomi di desa," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Amartha
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top