Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pegadaian 'Juru Selamat' UMKM di Tengah Krisis Akibat Pandemi

Jumlah nasabah yang dilayani Pegadaian selama masa pandemi mengalami peningkatan pesat bahkan mencapai 22,15 persen pada 2020 dibandingkan tahun sebelumnya.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 30 April 2021  |  21:11 WIB
Petugas menjelaskan produk PT Pegadaian kepada pengunjung di Bandung, Jawa Barat. - JIBI/Rachman
Petugas menjelaskan produk PT Pegadaian kepada pengunjung di Bandung, Jawa Barat. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Jemari Azhari cekatan menggaris pola baju pada sehelai kain di hadapannya. Sesekali ia membaca catatan ukuran badan di sebuah buku kecil, sembari mengukur bakal kain yang akan dijahit.

Beberapa kali, tangan kanan wanita itu berusaha membetulkan posisi kacamata miliknya. Selepas itu, tangannya kembali menahan rol jahit, diberi tanda sebelum kemudian digunting.

Wanita paruh baya itu telah menggeluti bisnis konveksi sekitar 7 tahun terakhir di Banda Aceh. Hobinya sejak masih muda kembali terasah usai perlahan memberanikan diri menjadi seorang penjahit rumahan.

Biasanya, pelanggan Azhari berasal dari orang terdekat seperti keluarga, tetangga maupun kenalan dari saudara dekat. Ia juga bekerja sendiri di bisnis konveksi miliknya itu.

"Sekalian untuk bantu kebutuhan rumah. Lumayan lah. Apalagi selama pandemi begini," ceritanya, Kamis (29/4/2021).

Seperti pengusaha kecil lainnya, Azhari ikut menelan pil pahit saat pandemi mulai meluas di Indonesia. Saat virus Covid-19 menginfeksi, di situ pula usahanya mulai terguncang.

Semula, ibu lima anak itu tidak begitu khawatir saat sejumlah pelanggan tak lagi ke rumahnya untuk dibuatkan baju. Namun hatinya mulai tak karuan menyaksikan kondisi itu bertahan cukup lama hingga akhir tahun lalu.

Sial baginya. Di tengah masa menunggu pelanggan, mesin jahit tua miliknya mulai mengulah. Ini bukan kali pertama untuknya. Akan tetapi, situasi ini kian memperberat usahanya.

Azhari mengaku sudah kewalahan terus menerus memperbaiki mesin jahit tua itu. Setelah lama berfikir, ia memutuskan menggadai emas simpanannya untuk membeli mesin jahit baru.

Tabungan dalam bentuk emas memang jamak di kalangan masyarakat Aceh. Warga Serambi Mekkah juga kerap menjadikan emas sebagai instrumen investasi. Selain likuid, harga barang mewah itu juga lebih aman dibandingkan instrumen lainnya.

Ia memutuskan menggadai emas sebanyak 1 mayam ke salah satu kantor Pegadaian di Banda Aceh. Ukuran mayam kerap digunakan masyarakat Serambi Mekkah sebagai takaran berat emas.

Apabila dikonversikan dalam gram, maka 1 mayam sama dengan 3,3 gram emas. Apabila dikalikan dengan harga emas saat ini sekitar Rp875.000 per gram pada Jumat (30/4/2021), maka dia mendapatkan Rp2.887.500 per mayam.

Akan tetapi, Azhari mendapat nilai yang lebih tinggi pada akhir tahun lalu di kisaran Rp950.000 per gram. Hasil gadai itu dimanfaatkan benar olehnya sebagai modal usaha membeli mesin jahit di Pasar Aceh, salah satu pasar tradisional di provinsi itu.

Menggadai perhiasan adalah jalan terakhir baginya untuk mendapatkan tambahan dana segar sebagai modal kerja. Setelah mendapatkan pembiayaan itu, kerjanya kian mudah. Terlebih secara berangsur pelanggan mulai kembali menggunakan jasanya.

"Sekarang sudah lunas saya bayar ke Pegadaian," tuturnya.

Secara langsung, Azhari menjadi satu dari sekian banyak masyarakat yang memanfaatkan program gadai dari PT Pegadaian (Persero). Kondisi ini pula yang menyebabkan perusahaan pelat merah ini tetap membukukan kinerja positif selama pandemi.

Pada sisi penyaluran pembiayaan, omzet Pegadaian mencatatkan pertumbuhan dari Rp145,63 triliun pada 2019 naik menjadi Rp164,95 triliun pada 2020, dengan jumlah pelunasan mencapai Rp136,18 triliun pada 2019 dan Rp157,88 triliun satu tahun berselang.

Petugas Pegadaian melayani warga yang menggadaikan barangnya di Kantor Pegadaian Merdeka Palembang, Sumsel, Senin (12/6). - Antara/Feny SellyPetugas Pegadaian melayani warga yang menggadaikan barangnya di Kantor Pegadaian Merdeka Palembang, Sumsel, Senin (12/6). - Antara/Feny Selly

Kenaikan penyaluran ini turut mendongkrak aset terbesar Pegadaian berupa pinjaman yang diberikan dari Rp50,84 triliun menjadi Rp57,47 triliun. Sehingga total aset Pegadaian naik 9,40 persen dari Rp65,32 triliun menjadi Rp71,47 triliun pada periode 2020.

Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) Kuswiyoto menjelaskan jumlah nasabah yang dilayani selama masa pandemi mengalami peningkatan pesat bahkan mencapai 22,15 persen pada 2020 dibandingkan tahun sebelumnya.

Nasabah Pegadaian tercatat 13,86 juta orang pada 2019. Setahun kemudian, jumlah itu melonjak tajam hingga mencapai 16,94 juta orang.

Sementara itu, sepanjang tahun lalu Pegadaian berhasil mencatatkan laba Rp2,02 triliun serta kenaikan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dari Rp154 miliar pada 2019 menjadi Rp2,12 triliun pada 2020.

Dia menuturkan, penambahan penempatan dana sebagai cadangan kerugian tersebut merupakan bagian dari manajemen risiko perusahaan.

"Untuk mengantipasi kemungkinan terjadinya kerugian perusahaan di masa yang akan datang sebagai akibat penurunan kualitas pembiayaan," tuturnya.

Kuswiyoto menyebutkan bahwa selama 2020, Pegadaian telah meluncurkan berbagai produk dan layanan yang membantu masyarakat dalam meningkatkan ketahanan ekonomi di masa pandemi.

Program yang dilaksanakan antara lain restrukturisasi dan relaksasi kredit, Gadai Peduli dengan bunga 0 persen, serta penyaluran subsidi bunga UMKM.

Pegadaian juga menggelar berbagai program CSR seperti penyerahan bantuan tunai, sembako, alat kesehatan, alat pelindung diri untuk pertugas kesehatan, mobil ambulans dan bantuan lain dalam rangka pencegahan dan penanganan pandemi Covid-19.

Ketua Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia Amin Nurdin menilai bahwa secara umum kinerja Pegadaian cukup bagus selama pandemi. Meski demikian, menurutnya perseroan tetap merasakan dampak dari krisis yang terjadi.

Sebagai perusahaan pembiayaan bagi UMKM, mikro dan ultra mikro, Pegadaian dinilai tetap merasakan dampak Covid-19. Kondisi ini diyakini berpengaruh terhadap kinerja pembiayaan dan juga penanganan pinjaman yang bermasalah.

Nurdin menjelaskan bahwa optimalisasi pemberian pinjaman dari Pegadaian ditentukan oleh sejumlah faktor. Salah satunya ketersediaan dana melalui sumber dana atau modal. Pandemi disebut-sebut ikut mempengaruhi minat masyarakat konsumen untuk mengajukan pinjaman.

"Sedangkan proses sewa atau gadai dimungkinkan stabil akhir akhir ini dan selama pandemi karena kebutuhan masyarakat akan pemenuhan kebutuhan hidup yg mungkin saja biasa mereka gantungkan dari aktivitas bisnis dengan Pegadaian" ujarnya kepada Bisnis.

Gadai inilah yang dimanfaatkan Azhari dan jutaan nasabah lainnya untuk mendapatkan dana segar guna dijadikan modal usaha. Kini, Azhari tengah bersiap menyelesaikan pesanan pakaian dari pelanggan jelang Idulfitri tahun ini.

Nabung Emas

Sejatinya, program Pegadaian tidak melulu soal gadai. Perseroan juga mendorong masyarakat untuk menabung emas dengan cara dicicil. Program ini mendapat respon positif lantaran mempermudah masyarakat dalam membeli emas.

Tabungan Emas Pegadaian adalah layanan penitipan saldo emas yang memudahkan masyarakat untuk berinvestasi emas. Adapun, Produk Tabungan Emas Pegadaian memungkinkan nasabah melakukan investasi emas secara mudah dan terpercaya.

Muzakkir, salah satunya. Mahasiwa tingkat akhir di Universitas Syiah Kuala Banda Aceh ini telah menjadi nasabah pada program tabungan emas sejak tahun lalu.

Semula, ia mendapat kabar perihal tabungan emas dari temannya di kampus. Setelah merasa yakin, Muzakkir langsung menuju ke kantor Pegadaian di Banda Aceh untuk mendaftar menjadi nasabah.

Mahasiswa prodi teknik sipil ini hanya membawa sejumlah berkas seperti buku tabungan dan identitas diri. Beruntung, Pegadaian membebaskan biasa pendaftar saat pria itu ke kantor Pegadaian sekitar 3 kilometer dari rumahnya.

"Nabung pelan-pelan. Mana tau bisa untuk mas kawin nikah sekaligus juga sebagai investasi," ujarnya.

Muzakkir bertekat hanya akan mengambil hasil tabungan emas di Pegadaian apabila sudah benar-benar dibutuhkan. Selama keuanyannya stabil, ia bakal terus mencicil emas hingga kian banyak.

"Senang aja menabung emas apalagi kalau sudah banyak," timpalnya lagi.

Begitupun Muzakkir, Azhari juga sudah kembali menabung emas secara mandiri. Hasil dari bisnis konveksi dan pemberian suaminya digabung dalam bentuk emas demi melanjutkan bisnis konveksi miliknya.

Berselang bulan usai membeli mesin jahit, Azhari ketiban rezeki. Dari salah satu Anggota Dewan di kampungnya, ia mendapatkan bantuan mesin jahit baru untuk mendukung konveksinya.

"Alhamdulillah kadang ya kalau sudah rezeki memang nggak kemana," tuturnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan umkm pegadaian Covid-19
Editor : Fitri Sartina Dewi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top