Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

McKinsey & Company: Bank Perlu Terapkan Kecerdasan Buatan (AI)

Partner Senior McKinsey & Company Renny Thomas menuliskan, sektor perbankan saat ini berada pada momen yang sangat penting. Disrupsi teknologi dan pergeseran konsumen meletakkan dasar bagi kurva S baru untuk model bisnis perbankan, dan pandemi Covid-19 telah mempercepat tren ini.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 27 Mei 2021  |  14:27 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence AI
Ilustrasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence AI

Bisnis.com, JAKARTA - Bank masa depan membutuhkan dukungan artificial intelligence (AI) untuk berkembang di era digital. Bank memerlukan segudang kemampuan AI dan analitik yang memberikan solusi sekaligus dipersonalisasi serta dilengkapi pengalaman unik secara real time.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru McKinsey & Company yang bertajuk "Membangun AI Perbankan Masa Depan" yang dikutip Bisnis, Kamis (27/5/2021). 

Partner Senior McKinsey & Company Renny Thomas menuliskan, sektor perbankan saat ini berada pada momen yang sangat penting. Disrupsi teknologi dan pergeseran konsumen meletakkan dasar bagi kurva S baru untuk model bisnis perbankan, dan pandemi Covid-19 telah mempercepat tren ini.

Dalam membangun momentum ini, kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam layanan keuangan telah menawarkan potensi untuk meningkatkan pendapatan serta penghematan beban dengan melibatkan dan melayani pelanggan dengan cara yang sangat baru.

Peluang untuk model bisnis baru datang saat bank menghadapi tantangan yang menakutkan di berbagai bidang. Sekitar tiga perempat bank secara global mencatatkan returns on equity yang lebih rendah dari cost of equity.

Perbankan tradisional juga menghadapi ancaman persaingan yang beragam dari bank baru dan penantang nonbank. Namun, banyak lembaga keuangan terkemuka yang telah memanfaatkan AI untuk mempercepat proses persetujuan pinjaman, otentikasi biometrik, dan asisten virtual.

Fintech dan inovator perdagangan digital lainnya terus memisahkan bank dari aspek penting hubungan pelanggan, dan perusahaan teknologi besar menggabungkan pembayaran. Di beberapa kasus, beberapa perusahaan teknologi juga menawarkan fasilitas kredit untuk menarik lebih banyak pengguna. 

Selanjutnya, seiring dengan semakin banyaknya pelanggan yang melakukan transaksi harian mereka melalui saluran digital, mereka menjadi terbiasa dengan kemudahan, kecepatan, dan layanan yang dipersonalisasi yang ditawarkan oleh digital natives, dan ekspektasi mereka terhadap bank meningkat.

"Untuk bersaing dan berkembang dalam lingkungan yang menantang ini, bank tradisional perlu membangun proposisi nilai baru yang didasarkan pada kemampuan AI-dan-analitik terdepan. Mereka harus menjadi AI yang pertama dalam strategi dan operasi mereka," sebutnya.

Thomas menyampaikan banyak pengurus bank menyadari bahwa skala ekonomi yang diberikan kepada organisasi yang secara efisien menerapkan teknologi AI akan memaksa pemegang saham lama untuk memperkuat keterlibatan pelanggan setiap hari dengan pengalaman yang berbeda dan proposisi nilai yang superior.

"Nilai ini dimulai dengan penawaran cerdas yang sangat dipersonalisasi dan meluas ke layanan cerdas, perjalanan omnichannel yang efisien, dan penyematan fungsi bank terpercaya yang mulus dalam ekosistem mitra," katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan Digital Banking artificial intelligence
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top