Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Dunia Ungkap Alasan Literasi Keuangan Digital Indonesia Harus Digenjot

Indonesia memiliki potensi besar menjadi salah satu contoh di mana awareness masyarakat berkaitan produk-produk finansial justru mulai terdongkrak di era berkembangnya fintech dan inovasi keuangan digital.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 11 Oktober 2021  |  20:33 WIB
Peserta berdiri di dekat logo Bank Dunia dalam rangkaian Pertemuan IMF - World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - Reuters/Johannes P. Christo
Peserta berdiri di dekat logo Bank Dunia dalam rangkaian Pertemuan IMF - World Bank Group 2018, di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/10/2018). - Reuters/Johannes P. Christo

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Dunia atau World Bank Group mengingatkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai tempat berkembangnya platform teknologi finansial (tekfin/fintech) besar.

Cecile T. Niang, Practice Manager EAP for Financial Competitiveness and Innovation World Bank, menjelaskan bahwa hal ini karena Indonesia termasuk salah satu negara yang literasi warganya bisa didongkrak oleh behaviour, terutama selama masa pandemi.

Buktinya, riset OECD 2020 International Survei of Adult Financial Literacy kepada 26 negara mengungkap literasi keuangan di Indonesia mencapai 63,5 persen yang notabene berada di atas rata-rata negara responden, yaitu 60,5 persen.

"Keberadaan fintech di dunia, termasuk Indonesia, terbukti menjadi pendorong inklusi dan literasi keuangan, karena perannya dalam menciptakan akses finansial yang efisien dan kompetitif untuk konsumen underbank. Namun, buat Indonesia, terkhusus digital financial literacy masih belum optimal," ujarnya dalam diskusi virtual bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Senin (11/10/2021).

Cecile menjelaskan hal ini turut tergambar dari fenomena bertumbuh pesatnya industri fintech P2P lending di Indonesia, tetapi masih ada saja masyarakat yang terjebak oleh pinjaman online (pinjol) ilegal.

Oleh sebab itu, World Bank bersama OJK, didukung pendanaan Swiss Government berupaya ikut mengatasi masalah ini lewat sebuah proyek modul agar masyarakat memahami dunia pinjam-meminjam secara digital atau digital lending secara utuh.

"Mulai dari mengenal risiko dan penggunaannya, sampai bagaimana industri fintech lending mendapat support dari platform lain untuk menciptakan ekosistem terpadu, seperti aggregator, e-wallet, insurtech, dan lain-lain. Selain itu, kita dorong bagaimana baiknya menggunakan digital lending dengan aman, dan apa yang harus dilakukan apabila ada keluhan," tambahnya.

World Bank Group mengaku akan terus mendukung sekaligus mengeksplorasi kolaborasi lainnya bersama OJK dan pemerintah Indonesia, karena negara ini punya potensi besar menjadi salah satu contoh di mana awareness masyarakat berkaitan produk-produk finansial justru mulai terdongkrak di era berkembangnya fintech dan inovasi keuangan digital.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank dunia world bank literasi keuangan fintech P2P lending Pinjaman Online
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top