Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Fenomena 6 Big Tech Caplok Bank Kecil, OJK Ungkap Alasannya

Fenomena dinilai baik bagi lanskap industri perbankan di Indonesia. Pasalnya, rencana menyajikan layanan digital banking yang akan diusung masing-masing big tech, akan membuka peluang bank kecil tersebut bertumbuh lebih baik dan lebih sehat.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 21 November 2021  |  18:21 WIB
Fenomena 6 Big Tech Caplok Bank Kecil, OJK Ungkap Alasannya
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) justru menyambut baik fenomena raksasa teknologi (big tech company) mengakuisisi bank-bank mini di Tanah Air.

Kepala Departemen Riset Sektor Jasa Keuangan OJK Inka Yusgiantoro mengungkap hal tersebut dalam salah satu diskusi virtual Hari Fintech Nasional, Bulan Fintech Nasional & Indonesia Fintech Summit 2021, bertajuk 'Hop, Skip, & Jump: Neobanks and Innovation in Digital Financial Services'.

"Berdasarkan pengamatan kami sejak Desember 2020, sudah ada sekitar 6 big tech yang mengakuisisi BUKU II dan BUKU III. Kenapa mengakuisisi bank? Salah satunya untuk mempercepat proses scale-up bisnisnya, terutama di sistem pembayaran yang dimiliki bank. Selain itu, dalam rangka mewujudkan [keutuhan] ekosistem digitalnya," ujarnya, dikutip Minggu (21/11/2021).

Menurut Inka, fenomena ini justru bagus buat lanskap industri perbankan di Indonesia. Pasalnya, rencana menyajikan layanan digital banking atau Neobank yang akan diusung masing-masing big tech, akan membuka peluang bank kecil tersebut bertumbuh lebih baik dan lebih sehat.

"Ini sebenarnya aksi korporasi yang umum berdasarkan hitungan business to business. Tapi dari sisi bank, masuknya big tech bakal positif untuk mempercepat digitalisasi internal, selain sekaligus memperkuat struktur permodalan bank tersebut," tambahnya.

Sekadar informasi, tak heran apabila para pemain big tech lebih memilih langkah mencaplok bank kecil untuk ikut melengkapi berbagai ekosistem transaksi digitalnya.

Pasalnya, apabila berniat mengambil lisensi mendirikan perbankan digital baru, modal awal yang harus dirogoh mencapai Rp10 triliun. Sementara itu, untuk melakukan konversi bank tradisional jadi bank digital, modal yang perlu dipenuhi cukup Rp3 triliun saja sampai batas akhir di penghujung 2022.

"Kami akan terus memastikan bahwa big tech yang mengakuisisi bank, bisa menjalankan usaha perbankan dengan baik. Otoritas akan terus memonitor perkembangan setelah akusisi ini, apakah ada perubahan risiko dan dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan. Terakhir, kami akan juga akan inklusi keuangan di masing-masing bank," tutupnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, 6 big tech tersebut, antara lain yang terbaru berasal dari unikorn fintech asal Tanah Air pertama dari klaster fintech investasi saham dan reksa dana, Ajaib Group, yang lewat PT Takjub Finansial Teknologi (Ajaib) menggenggam 24 persen saham PT Bank Bumi Artha Tbk (BNBA).

Sebelumnya, emiten konglomerasi media dan hiburan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang juga berhubungan dengan Grab dan Bukalapak tercatat bakal mengakuisisi 93 persen saham PT Bank Fama Internasional, lewat PT Elang Media Visitama.

Pada awal tahun, pemilik raksasa e-commerce Shopee, Sea Group, mengakuisisi Bank Kesejahteraan Ekonomi dan kini telah berganti nama menjadi PT Bank Seabank Indonesia.

Berikutnya, unikorn kebanggaan tanah air, yaitu grup Gojek-Tokopedia pun mencoba peruntungan memasuki bisnis perbankan dengan mengakuisisi saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) melalui anak usahanya PT Dompet Karya Anak Bangsa atau GoPay.

Adapun, Akulaku Grup yang memiliki entitas marketplace dan multifinance dengan nama yang sama, serta fintech peer-to-peer (P2P) lending PT Pintar Inovasi Digital (Asetku), lewat PT Akulaku Silvrr Indonesia resmi mengakuisisi 24,9 persen saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB).

Terakhir, induk platform bayar tunda (paylater) Kredivo, yakni FinAccel Pte Ltd lewat PT Finaccel Teknologi Indonesia memborong 40 persen saham PT Bank Bisnis Internasional Tbk (BBSI).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

akuisisi OJK Akulaku
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top