Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Paylater Bakal Ketiban Berkah Transaksi E-Commerce & Layanan Digital Tahun Depan

Hal ini turut tergambar dari studi RISED terkait paylater pada awal tahun, di mana 62,4 persen responden paling sering menggunakan fitur paylater untuk membeli produk di e-commerce.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 27 Desember 2021  |  19:00 WIB
Ilustrasi pinjaman online. Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Ilustrasi pinjaman online. Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Perkembangan pemain penyedia jasa bayar tunda alias BNPL/paylater, baik berbentuk industri pembiayaan (multifinance) maupun tekfin P2P lending dipercaya semakin melesat, seiring moncernya transaksi di platform dagang-el (e-commerce) dan platform layanan digital.

Peneliti Research Institute of Socio-Economic Development (RISED), Tegar Rismanuar memproyeksi pada tahun depan transaksi belanja online di e-commerce masih akan jadi pendorong pertumbuhan para pemain paylater.

Terlebih, sesuai proyeksi Bank Indonesia terkait transaksi di e-commerce yang pada tahun ini mencapai Rp403 triliun atau naik lebih dari 51 persen (year-on-year/yoy) kerimbang 2020, tahun depan diperkirakan kembali meningkat ke kisaran Rp530 triliun.

"Paylater untuk belanja [di e-commerce] masih jadi yang utama. Tapi perlu dilihat perkembangan ke depan, di mana setiap apps [platform layanan digital] akan dipaksa untuk develop atau partnership dengan perusahaan jasa keuangan penyedia paylater. Porsinya akan mulai terbagi," ujarnya kepada Bisnis, Senin (27/12/2021).

Hal ini turut tergambar dari studi RISED terkait paylater pada awal tahun, di mana 850 dari 1.362 responden atau 62,4 persen paling sering menggunakan fitur paylater untuk membeli produk di e-commerce.

Lainnya, 31,2 persen menggunakan paylater untuk transaksi di aplikasi ride hailing, seperti memesan ojek atau jasa antar makanan. Hanya 3 persen yang menggunakan paylater untuk pemesanan tiket transportasi dan akomodasi hotel/penginapan, sementara 3,23 persen sisanya untuk kebutuhan lain-lain di berbagai platform.

"Transaksi tradisional dari paylater itu kartu kredit. Jadi, apa pun yang diakomodasi kartu kredit, bisa diambil oleh paylater, terutama yang mengincar akses lebih mudah buat masyarakat, tapi cardless dan berbekal big data. Contoh, saya mengamati paylater milik platform OTA [online travel agent]. Ternyata paylater mereka telah dibangun bukan hanya buat pesan tiket dalam aplikasi terkait saja, tapi juga bisa buat transaksi di apps lain," jelasnya.

Sebagai salah satu pemain senior layanan paylater, perusahaan pembiayaan berbasis digital bagian Grup Akulaku, PT Akulaku Finance Indonesia (Akulaku Finance) mengungkap hal serupa terkait potensi transaksi di e-commerce.

Presiden Direktur Akulaku Finance Indonesia, Efrinal Sinaga menjelaskan bahwa salah satu pendorong yang membuat transaksi e-commerce begitu berpengaruh buat para pemain paylater, yaitu momentum khusus seperti periode diskon dan promosi, juga hari belanja online nasional [Harbolnas].

Grup Akulaku yang juga memiliki e-commerce dengan nama serupa pun telah membuktikan sendiri bagaimana dahsyatnya momen-momen khusus ini buat pembiayaan.

"Program seperti di 10-10, 11-11 dan 12-12 di Akulaku itu pasti akan mendongkrak penjualan dan pembiayaan antara 40-50 persen dari hari biasa. Sebagian besar masyarakat (terutama milenial) sudah sangat paham dan menunggu-nunggu periode seperti ini karena akan ada sejumlah diskon, hadiah, juga bunga cicilan 0 persen," jelasnya kepada Bisnis.

Sebagai gambaran, setelah menyalurkan pembiayaan baru mencapai Rp5,03 triliun sejak awal tahun sampai kuartal III/2021, Akulaku memproyeksi sepanjang kuartal IV/2021 ini mendapatkan tambahan booking baru sebesar Rp2,4 triliun hingga Rp2,5 triliun.

Transaksi digital/Istimewa

Artinya, transaksi akhir tahun yang didorong festival belanja di marketplace dan mal, diskon akhir tahun, dan daya beli konsumen yang pulih seiring meredanya dampak pandemi Covid-19, dianggap bisa berkontribusi hampir separuh dari kinerja pembiayaan tahunan.

"Pelaku industri e-commerce dan merchant pelaku UMKM selalu bergairah menyambut program belanja seperti ini dengan meningkatkan produksi dan promosi. Pada akhirnya, ekosistem pendukung e-commerce seperti kami [pembiayaan] dan juga sektor logistik, juga mendapat berkahnya," tambahnya.

Sedikit berbeda, PT Atome Financial Indonesia atau Atome selaku penyedia paylater yang fokus di sektor ritel, fashion, dan lifestyle, justru berharap bahwa penggunaan paylater di merchant offline bakal semakin moncer pada 2022.

Winardi Wijaya, General Manager of Atome Indonesia, menjelaskan bahwa pihaknya memang selalu mendukung para merchant untuk dapat mengintegrasikan layanan paylater besutannya bukan hanya ke toko fisik, tetapi juga situs web, atau aplikasi seluler buatan mereka.

Namun, dengan mulai meredanya dampak kasus Covid-19 di Tanah Air, sehingga banyak masyarakat kembali mengunjungi pusat perbelanjaan di mall dan merchant-merchant offline, bukan tak mungkin layanan paylater Atome akan ikut digunakan untuk menunjang kebutuhan belanja pengguna.

"Kami ikut membantu merchant beralih ke bisnis online dan membangun saluran penjualan online mereka, terutama selama pandemi Covid-19. Ke depan, Atome siap berintegrasi dengan kehadiran ritel fisik merchant dan ikut mengarahkan pengguna ke outlet mereka, saat Indonesia mulai keluar dari pembatasan sosial," jelasnya.

Senada, PT FinAccel Finance Indonesia alias Kredivo yang berupaya mempertahankan wallet share-nya yang telah mencapai 50 persen di mayoritas merchant e-commerce Indonesia, juga mengantisipasi moncernya transaksi di merchant offline dan platform digital di luar e-commerce.

General Manager Kredivo, Lily Suriani menjelaskan inilah alasan kenapa pihaknya gencar melakukan ekspansi kemitraan ke beberapa merchant di luar e-commerce sepanjang 2021 ini.

Antara lain, akses bayar tunda untuk tiket beberapa maskapai penerbangan; transaksi furnitur offline maupun online di IKEA dan Ruparupa.com milik Kawan Lama Grup yang mencakup produk-produk Ace Hardware, Informa Furnishings, Toys Kingdom, atau Krisbow; serta transaksi gadget di platform Samsung Financing.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance e-commerce fintech paylater
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top