Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OVO Pede Bisa Bertahan Jadi Dompet Digital Paling Banyak Digunakan

Pasalnya, dompet digital yang identik dengan warna ungu ini masih teguh dengan filosofi ekosistem terbuka. Membuat OVO mampu menerima kerja sama dengan berbagai pihak.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 12 Januari 2022  |  18:30 WIB
OVO Pede Bisa Bertahan Jadi Dompet Digital Paling Banyak Digunakan
Poster promo platform pembayaran digital OVO terpampang di salah satu gerai fesyen pusat perbelanjaan di Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/2/2019). - Bisnis/Rachman
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Platform dompet digital dan layanan finansial OVO (PT Visionet Internasional) percaya diri dapat menjadi salah satu dari sekian banyak fintech yang mampu mendongkrak penggunaan aplikasi keuangan buat masyarakat Indonesia. 

Harumi Supit, Head of Corporate Communication OVO mengungkap optimisme ini muncul karena pihaknya masih teguh dengan filosofi ekosistem terbuka, yang membuat OVO mampu menerima kerja sama dengan berbagai pihak. 

"OVO memandang pembayaran digital merupakan pintu gerbang akses ekosistem layanan keuangan yang lebih luas. Filosofi ekosistem terbuka yang dianut OVO, telah memungkinkan OVO untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan yang nyaman, aman, dan terjangkau," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (12/1/2022). 

Untuk senantiasa memberikan kemudahan bagi masyarakat, terutama segmen unbanked, OVO terus berupaya memperluas ekosistem offline melalui kerja sama dengan berbagai mitra. 

Antara lain, Indomaret, LOTTE Mart, Mitra Bukalapak, dan masih banyak lagi. Pada penghujung tahun 2021 lalu, dompet digital terafiliasi Grab Holdings Ltd ini juga hadir sebagai opsi pembayaran digital di platform dagang-el (e-commerce) JD.ID dan Bukalapak.

Adapun, sejak tahun lalu, platform yang identik dengan warna ungu ini juga gencar meluncurkan inovasi produk lain, yaitu akses layanan keuangan. Seperti produk asuransi lewat OVO | Proteksi hasil kerja sama dengan perusahaan asuransi, dan produk investasi lewat OVO | Invest hasil kerja sama dengan Bareksa dan sekuritas. 

Hal ini demi mempertahankan tren dimana pandemi yang mengakibatkan adopsi layanan digital mengalami peningkatan pesat. Bahkan, sebanyak 9 dari 10 pengguna layanan digital baru di Asia Tenggara pada 2020 tetap berlanjut memanfaatkan layanan digital di 2021.

Hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pun menunjukkan jumlah pengguna internet di Indonesia pada periode 2019 sampai kuartal II/2020 naik sekitar 9 persen (year-to-date/ytd) menjadi 73,7 persen dari total populasi, setara dengan 196,7 juta penduduk. 

Lewat capaian tersebut, Indonesia pun menjadi pasar terbesar ketiga di antara 15 negara dengan pemasangan aplikasi keuangan terbanyak. 

Harumi optimistis kontribusi OVO dalam capaian tersebut begitu signifikan, menilik berdasarkan survei Fintech Report 2021: The Convergence of (Digital) Financial Services oleh Dailysocial.id yang melibatkan 1.500 responden, OVO menjadi e-money yang paling banyak digunakan di Indonesia ketimbang para kompetitor, mencapai hingga 58,9 persen dari total responden.

Hasil tersebut menegaskan temuan dari sejumlah survei dan studi sepanjang 2021, yang konsisten menyebut OVO sebagai e-money yang paling banyak digunakan oleh masyarakat baik untuk transaksi online maupun offline, juga oleh UMKM yang sudah mengenal pembayaran digital.

"Kami sangat menghargai kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada OVO. Kepercayaan ini merupakan sebuah peluang besar untuk mewujudkan misi OVO dalam mendukung upaya pemerintah mendorong literasi dan inklusi keuangan di Indonesia," tambahnya. 

Menurut survei tersebut, rata-rata penggunaan e-money tertinggi sekitar 2-3 hingga 4-6 kali per bulan, mengingat bahwa e-money seringkali dipakai untuk berbagai jenis transaksi, terutama transfer uang, top-up, e-commerce, maupun investasi.

Adapun, Harumi mengungkap kekuatan utama OVO saat ini berada di use-case untuk transaksi layanan food delivery dan outlet UMKM offline, tergambar dari survei Studi Perilaku Penggunaan Pembayaran Digital dan Layanan Keuangan di Indonesia yang dirilis oleh Kadence International Indonesia. 

Untuk transaksi pemesanan makanan online, 8 dari 10 responden menggunakan OVO. Sementara untuk transaksi offline, khususnya pembelian makanan, minuman, dan belanja ritel, OVO digunakan oleh hampir 7 dari 10 responden dengan alasan kemudahan dalam penggunaan. Bagi merchant UMKM pun, OVO pun dipilih oleh 72 persen pelaku UMKM sebagai alat pembayaran mereka selama pandemi Covid-19.

Hal ini turut menegaskan laporan CORE Indonesia beberapa waktu sebelumnya, di mana dalam survei yang melibatkan 2.000 responden ini, 8 dari 10 UMKM mendapat peningkatan literasi setelah bergabung dengan OVO, karena mulai mengenal produk-produk perbankan. 

Selain itu, sebanyak 71 persen pelaku UMKM tersebut mengaku terbantu karena pencatatan transaksi penjualannya kini lebih teratur karena transaksi pembayaran digital. Selain itu, 68 persen mengaku memiliki akses lebih luas terhadap layanan keuangan, dan 51 persen mengaku lebih memahami penggunaan teknologi untuk mempertahankan usaha. 

Pendapat para UMKM terhadap ekosistem pembayaran digital pun terbilang positif, di mana 55 persen mengaku mendapatkan kemudahan penggunaan, 48 persen bergabung karena mulai banyak dipakai pelanggan, 33 persen senang karena ada banyak promo, dan 30 persen merasa nyaman karena transaksinya lebih aman. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ukm fintech ovo dompet digital
Editor : Azizah Nur Alfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top