Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Citi Indonesia Cetak Laba Rp1,08 Triliun pada 2021, Turun Dibanding 2020

Penurunan laba Citi Indonesia disebabkan oleh pendapatan dari transaksi perdagangan, pendapatan bunga bersih, dan peningkatan cadangan credit impairment di lini institutional banking. 
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 01 April 2022  |  20:47 WIB
Citibank.  - Reuters/Robert Galbraith
Citibank. - Reuters/Robert Galbraith

Bisnis.com, JAKARTA — Citibank N.A. atau Citi Indonesia membukukan laba bersih sebesar Rp1,08 triliun sepanjang 2021. Capaian ini tercatat mengalami penurunan jika dibandingkan kinerja laba 2020 yang mencapai Rp2,6 triliun. 

Hal tersebut disebabkan menurunnya pendapatan dari transaksi perdagangan, pendapatan bunga bersih, dan peningkatan cadangan credit impairment di lini institutional banking. 

CEO Citi Indonesia, Batara Sianturi, mengungkapkan pihaknya tetap optimistis bahwa kondisi bisnis perusahaan akan terus membaik seiring dengan percepatan vaksinasi booster Covid-19, dampak varian Omicron, dan kemajuan positif untuk kembali ke kondisi normal. 

“Hal ini tercermin dari berbagai kemajuan dan inovasi yang kami lakukan di berbagai lini bisnis kami, baik di bisnis institutional maupun consumer banking,” ujar Batara, Jumat (1/4/2022). 

Hingga Desember 2021, Citi Indonesia mencatatkan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross sebesar 3,29 persen. Angka ini meningkat dari 1,66 persen dari tahun 2020, sehubungan dengan kualitas kredit dari satu klien korporasi. 

Batara yakin kualitas portofolio kredit Citi Indonesia tetap dalam kondisi baik karena penerapan asas kehati-hatian dalam manajemen risiko untuk mengatasi dampak dari pandemi. 

“Selain itu, perusahaan terus memastikan kecukupan pencadangan kerugian kredit, di mana kami menjaga rasio net NPL tetap rendah yaitu sebesar 0,46 persen,” pungkasnya. 

Di sisi lain, Citi Indonesia memiliki likuiditas baik dengan lending to deposit ratio (LDR) sebesar 63,8 persen dan modal rasio kewajiban penyediaan modal minimum (KPMM) 27 persen. 

Per Desember 2021, jumlah kredit institutional grup berhasil tumbuh sebesar 6 persen dibanding 2020. Didorong dari pertumbuhan kredit di lini banking, capital markets and advisory (BCMA) serta lini komersial. 

Batara menuturkan global subsidiaries group juga terus membukukan pertumbuhan pada segmen multinasional corporation (MNC). Hal ini tercapai melalui berbagai inisiatif, termasuk Asia ke Asia yang meningkat 15 persen secara tahunan. 

Dari sisi ritel, Citi Indonesia telah berpartisipasi sebagai mitra distribusi Sukuk Ritel SR015 yang ditawarkan secara daring. Perusahaan ini juga berpartisipasi dalam peluncuran Obligasi Negara Republik Indonesia seri benchmark, yaitu FR090, FR091 dan FR092 pada Juli 2021.

Menurut Batara, dengan rendahnya suku bunga saat ini, Citi Indonesia merekomendasikan para nasabah untuk melakukan diversifikasi aset, antara lain ke produk yang dapat memberikan potensi imbal hasil yang lebih tinggi. 

Hingga Desember 2021, Citi Indonesia juga berhasil meningkatkan transaksi investasi digitalnya menjadi 61 persen, berkembang sebesar 64 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumya.

Selain itu, Citi Indonesia dan AIA Group Limited (AIA) telah berkolaborasi meluncurkan produk perlindungan kesehatan untuk memberikan perlindungan kesehatan kepada para nasabah dengan proteksi tinggi hingga mencapai umur 99 tahun. 

Rangkaian produk bancassurance Citi Indonesia juga termasuk produk yang memberikan proteksi jiwa dan pengaturan finansial jangka panjang, khususnya untuk perencanaan pensiun atau pendidikan anak-anak.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan citibank bank asing
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top