Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bank Dalam Negeri Cuan Besar, Sanggup Bersaing di di Luar Negeri?

Sejumlah perbankan saat ini terus memperkuat posisi mereka di luar negeri, seperti di antaranya BNI (BBNI) dan Bank Syariah Indonesia (BRIS).
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 17 Mei 2022  |  16:43 WIB
Ilustrasi Bank - Istimewa
Ilustrasi Bank - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Peluang perbankan dalam meraup pasar di luar negeri dinilai masih relatif kecil. Operasional perbankan di dalam negeri masih tinggi dibandingkan dengan bank-bank asing, yang membuat mereka sulit memasang bunga yang kompetitif. 

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan peluang pasar perbankan Indonesia di luar negeri tidak besar, khususnya perihal penyaluran kredit. 

Perbankan Tanah Air, lanjutnya, dikenal tidak efisien dengan suku bunga yang tinggi. Sementara suku bunga kredit di luar negeri sangat rendah. Menyalurkan kredit atau penempatan dana di surat berharga negara (SBN) dan instrumen moneter masih jauh lebih menarik bagi perbankan nasional.

“Akan sangat sulit dan juga tidak menarik bagi perbankan Indonesia bersaing menyalurkan kredit di luar negeri. Terlalu berisiko,” kata Piter, Selasa (17/5/2022). 

Piter mengatakan peluang yang tersisa jika perbankan tetap ingin ekspansi ke luar negeri adalah dengan mengoptimalkan penghimpunan dana dan fee based income atau pendapatan di luar layanan perbankan. 

Kedua cara tersebut, lanjut Piter, banyak digarap oleh perbankan Indonesia di luar negeri. Sayangnya upaya itu pun masih terbatas pada nasabah-nasabah tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. 

“Sejujurnya saya melihat ekspansi perbankan kita ke luar negeri saat ini masih lebih banyak ongkos daripada manfaatnya,” kata Piter. 

Piter mengusulkan dalam berekspansi ke luar negeri, perbankan harus melakukan sinergi, yang diawali dengan peningkatan daya saing bank. Bank harus dapat beroperasi dengan efisien. 

“Tugas otoritas moneter dan otoritas perbankan untuk secara bersama-sama memperbaiki semuanya. Ini pekerjaan rumah yang sudah terlalu lama tidak diselesaikan,” kata Piter. 

Sekedar informasi, sejumlah perbankan saat ini terus memperkuat posisi mereka di luar negeri. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BBNI misalnya gencar menjalin kerja sama dengan berbagai pihak untuk menghadirkan layanan di Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat dan lain sebagainya. 

BNI bekerja sama dengan Japan Regional Bank (JRB) memberikan fasilitas pinjaman modal kerja dalam mata uang Yen kepada PT Ichii Industries Indonesia. Ichii Industries Indonesia merupakan subsidiary company dari ICHII Co., Ltd. 

Perusahaan ini juga dikenal sebagai salah satu perusahaan lokal asal Jepang berorientasi ekspor yang bergerak dalam bidang suku cadang otomotif serta bermitra dengan banyak perusahaan otomotif terkemuka di Jepang. 

Direktur Treasury dan Internasional BNI Henry Panjaitan menyampaikan, BNI berupaya proaktif dalam menjalankan peran sebagai agen pembangunan yang memfasilitasi masuknya investasi ke Indonesia. 

“Jepang merupakan salah satu negara mitra dengan arus investasi langsung ke Indonesia yang semakin kuat di masa pemulihan ekonomi tahun ini,” ujar Henry. 

Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) mulai menancapkan bisnis dan penetrasi layanan di Timur Tengah, seiring kerja sama yang dilakukan dengan konglomerasi dan perusahaan rintisan internasional di Dubai, Uni Emirat Arab. 

BSI melakukan penandatanganan kerja sama dengan Lulu Hypermart Indonesia sebagai jaringan Lulu Hypermart Global serta perusahaan fintech Berrypay. Penandatanganan yang dilakukan pada Jumat (13/5/2022), berbarengan dengan grand launching kantor perwakilan BSI di Dubai itu, menandai babak baru sejarah sektor keuangan Indonesia. 

Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan, langkah ini menjadi tonggak bersejarah, langkah awal ekspansi BSI di pasar internasional. 

“Ekspansi jaringan dan bisnis ini memungkinkan kami untuk dapat mengelola peluang bisnis yang ada di luar negeri, baik Indonesian related business atau corporations maupun dari individu yaitu warga negara Indonesia,” kata Hery.

Dia mengatakan keberadaan jaringan bisnis di luar negeri memungkinkan BSI berinteraksi secara langsung dengan komponen penting industri perbankan global, seperti pemain utama perbankan dunia, regulator perbankan dari sejumlah negara. 

“Semoga BSI makin dekat dengan investor global sehingga perusahaan dapat berkontribusi lebih dalam mendukung program-program pemerintah Republik Indonesia, baik dalam pendanaan proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan melalui penerbitan Sukuk Global maupun dukungan bagi pengembangan UMKM nasional,” kata Hery.

Terpisah, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. atau BBCA Jahja Setiaatmadja mengatakan bahwa pasar domestik masih lebih menarik dibandingkan luar negeri.  "Di luar negeri mana yang untung. Citibank, HSBC, Standchart memperkecil fokus bisnisnya. Lebih menarik expansi di Indonesia," katanya kepada Bisnis beberapa waktu lalu. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bca bni perbankan Bank Syariah Indonesia
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top