Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Luar Negeri Minat dengan Saham BSI (BRIS), tapi Ada Satu Ganjalan

Seperti diketahui, BSI (BRIS) akan melaksanakan rights issue senilai Rp5 triliun pada kuartal III/2022.  Aksi korporasi itu bertujuan memenuhi aturan free float dan ekspansi bisnis perseroan. 
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 25 Mei 2022  |  15:41 WIB
Gedung berlogo Bank Syariah Indonesia yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (31/1/2021).  Bisnis - Arief Hermawan P
Gedung berlogo Bank Syariah Indonesia yang berada di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (31/1/2021). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia atau BSI (BRIS) Hery Gunardi mengungkapkan tingginya minat investor luar negeri terhadap potensi bisnis perseroan. Namun, persoalan likuiditas mengintai bank syariah terbesar di Indonesia ini. 

Hery mengatakan hal itu tecermin dari hadirnya beberapa bank yang diundang datang dalam peresmian kantor perwakilan BSI di Dubai, Uni Emirat Arab beberapa waktu lalu, antara lain Islamic Development Bank, Abu Dhabi Islamic Bank, dan Standard Chartered Bank.

“Jadi, merupakan tanda awal bahwa perbankan syariah sudah mulai seperti bunga matahari yang mekar. Tinggal kita bagaimana mendorong supaya daya tariknya lebih cepat,” ujar Hery yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), Rabu (25/5). 

Hery mengatakan para investor luar secara umum mengapresiasi kinerja BSI. Namun, lanjutnya, satu yang menjadi kendala perseroan adalah kecilnya free float atau saham publik di dalam BSI. 

“Sayangnya adalah free float BSI masih kecil. Mereka [investor] selalu bilang [saham] kamu tidak punya likuiditas, that’s true saya bilang. Itulah gunanya kami pergi menjelaskan bahwa suatu saat kita divestasi, investornya kita sudah tahu siapa yang akan beli saham BSI,” kata Hery. 

Adapun likuidiitas saham adalah satu faktor yang dipertimbangkan oleh pasar. Hal ini merupakan ukuran jumlah transaksi suatu saham di pasar modal dalam suatu periode tertentu. Semakin tinggi likuiditas saham, maka frekuensi transaksi semakin tinggi.

Likuditas suatu saham juga dipengaruhi oleh kepemilikan publik. Saat ini pemegang saham lain di bawah 5 persen, termasuk publik, menguasai sekitar 7,08 persen saham BSI atau di bawah ketentuan. Adapun, batas minimal free float atau saham publik yang beredar sebesar 7,5 persen. 

Dalam pemberitaan sebelumnya, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo sempat mengungkapkan BSI akan melakukan rights issue senilai Rp5 triliun pada kuartal III/2022.  Aksi korporasi itu bertujuan memenuhi aturan free float dan ekspansi bisnis perseroan. 

Penambahan modal juga tidak terlepas dari upaya mewujudkan visi BSI menjadi Top 10 Global Islamic Bank berdasarkan kapitalisasi pasar pada 2025. Perseroan pun diharapkan menjadi instrumen utama Indonesia untuk menjadi pusat ekonomi dan keuangan syariah dunia. 

Selain itu, emiten berkode saham BRIS tersebut juga didorong untuk meningkatkan pangsa pasar perbankan syariah dari 7 persen menjadi 10 persen. Perseroan turut dinilai perlu memperluas jaringan sehingga mampu menjadi bank syariah yang universal. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai BSI memiliki peluang bisnis yang cerah tercermin dari realisasi kinerja perseroan sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. 

Soal kinerja, BSI mencatatkan perolehan laba pada kuartal I/2022 tumbuh 33,18 persen secara tahunan menjadi Rp987,69 miliar. Pada saat bersamaan, aset perseroan mencapai Rp271,29 triliun atau naik 2,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

Sementara itu, penyaluran pembiayaan BSI tercatat tumbuh 11,59 year-on-year (yoy) menjadi Rp177,51 triliun hingga Maret 2022. Pembiayaan konsumer naik 20,73 persen, pembiayaan mikro tumbuh 22,42 persen dan gadai emas meningkat 8,96 persen. 

Adapun, rasio non-performing finance (NPF) net hanya sebesar 0,9 persen. Realisasi dana pihak ketiga (DPK) BSI juga tidak kalah mentereng. Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, DPK perseroan mencapai Rp228,53 triliun tumbuh sekitar 16,07 persen yoy. 

“Hal tersebut memberikan sebuah gambaran bahwa customer BSI pun tumbuh, dan ini merupakan salah satu modal penting bagi perbankan,” ujar Nico.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank syariah perbankan Bank Syariah Indonesia
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top