Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konsumsi Melesat, Tabungan Kelas Menengah Atas Makin Melambat

Masyarakat kelas menengah atas mulai percaya diri untuk meningkatkan kosumsi setelah pandemi Covid-19 mereda.
Peningkatan konsumsi akan mempengaruhi tingkat tabungan masyarakat. /Bank Mandiri Taspen
Peningkatan konsumsi akan mempengaruhi tingkat tabungan masyarakat. /Bank Mandiri Taspen

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonom menilai penurunan tabungan kelompok kelas menengah atas seiring dengan kenaikan konsumsi pada Mei 2022. Ha itu terjadi karena masyarakat kelas atas makin percaya diri untuk berbelanja setelah pandemi Covid-19 mereda. Tren ini diprediksi akan terus berlanjut dalam 2-3 bulan ke depan.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Piter Abdullah mengatakan kelompok menengah atas selama ini menahan konsumsi, menyimpan penghasilan mereka karena pembatasan aktivitas akibat pandemi. Seiring dengan dilonggarkannya mobilitas, masyarakat kelas atas mulai berbelanja, dan mengurangi tabungan. 

“Konsumsi mereka naik tabungan mereka turun. Hal ini kabar baik, karena penggerak utama konsumsi adalah konsumsi kelompok menengah atas,” kata Piter, Minggu (12/6). 

Piter menambahkan seandainya konsumsi kelompok ini sudah kembali normal, pertumbuhan ekonomi akan terdorong kembali ke jalur jangka panjang. Dia memprediksi tren pertumbuhan konsumsi akan terus terjadi sejalan dengan pulihnya ekonomi. Pertumbuhan konsumsi akan terus beranjak naik ke tingkat pertumbuhan jangka panjang, di kisaran 5 persen per tahun. 

Untuk tahun-tahun awal pulihnya ekonomi berpotensi tumbuh lebih tinggi daripada 5 persen seperti pada triwulan II/2021. Setelah itu akan stabil pada kisaran 5 persen. 

“Sejalan itu pertumbuhan DPK akan turun, khususnya pada tabungan yang nilainya besar yaitu tabungan masyarakat berpenghasilan 5 juta ke atas,” kata Piter. 

Piter menuturkan perlambatan pertumbuhan  DPK sebenarnya tidak terlalu masalah bagi perbankan, terutama bagi bank-bank besar yang saat ini memiliki likuiditas yang besar. Meningkatnya konsumsi, lanjutnya, justru adalah peluang bagi bank karena akan mendorong juga kredit konsumsi. 

“Sebuah keniscayaan, ketika ekonomi kembali pulih, pertumbuhan DPK akan menurun, pertumbuhan kredit meningkat, LDR perbankan akan merambat naik. Kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan, karena sesungguhnya positif bagi bank,” kata Piter. 

Sebelumnya, laporan survei Bank Indonesia menyebutkan bahwa masyarakat berpenghasilan 5 juta ke atas mengurangi alokasi dana mereka untuk tabungan pada Mei 2022. 

Laporan BI menyebutkan proporsi pengeluaran responden untuk tabungan terkoreksi 1,2 persen month to month (mtm) pada Mei 2022, menjadi 18,1 persen. Sementara itu pengeluaran untuk konsumsi meningkatkan 0,7 basis poin menjadi 68,8 persen, yang merupakan angka tertinggi pada 5 bulan pertama 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Leo Dwi Jatmiko
Editor : Dwi Nicken Tari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper