Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dua Faktor Ini Bakal Jadi Pertimbangan BI untuk Tahan Suku Bunga Acuan

Kebijakan moneter BI dapat mempengaruhi permintaan agregat dan ekspektasi inflasi, tetapi bukan tekanan inflasi yang disebabkan oleh gangguan rantai pasokan atau kenaikan harga energi
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 21 Juni 2022  |  16:08 WIB
Karyawan keluar dari pintu salah satu gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, (20/1/2020).  Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan keluar dari pintu salah satu gedung Bank Indonesia di Jakarta, Senin, (20/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) diperkirakan kembali mempertahankan suku bunga acuan pada tingkat 3,5 persen, mempertimbangkan stabilitas nilai tukar rupiah dan tingkat inflasi yang masih terkendali.

Ekonom Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro menyampaikan, hal ini tercermin dari performa mata uang rupiah yang jauh lebih baik dibandingkan dengan mata uang negara lainnya di Asia.

Kondisi ini pun terbantu oleh melonjaknya harga komoditas global yang mendorong berlanjutnya surplus neraca perdagangan Indonesia.

“Menaikkan BI rate dalam situasi ini akan membuat rupiah semakin dinilai terlalu tinggi, berpotensi membuat asing enggan memiliki aset mata uang lokal dan berdampak negatif bagi keseimbangan eksternal,” katanya, Selasa (21/6/2022).

Satria menjelaskan, kepemilikan asing di pasar obligasi rupiah saat ini hanya mencapai 17 persen, dibandingkan dengan pada 2018 yang mencapai 35 persen. Hal ini berarti BI dapat bertindak lebih independen terlepas dari perubahan sentimen eksternal.

Di samping itu, tekanan inflasi yang didorong oleh sisi permintaan belum meningkat signifikan. Prospek suku bunga acuan, kata dia, bergantung pada inflasi inti, bukan inflasi yang terkait dengan harga yang diatur pemerintah atau komoditas pangan yang bergejolak.

“Ini karena kebijakan moneter dapat mempengaruhi permintaan agregat dan ekspektasi inflasi, tetapi bukan tekanan inflasi yang disebabkan oleh gangguan rantai pasokan atau kenaikan harga energi,” jelas Satria.

Dia bahkan memperkirakan, inflasi sisi permintaan Indonesia akan mengalami penurunan secara struktural di tengah kenaikan harga energi.

Menurutnya, jika pemerintah menaikkan tarif bahan bakar dan listrik setidaknya 20 persen, maka inflasi inti Indonesia kemungkinan akan tetap di bawah 3,5 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bank Indonesia Rupiah Inflasi
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top