Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BTPN Syariah (BTPS) Raih Laba Bersih Rp856,16 Miliar di Semester I/2022

Capaian laba bersih BTPN Syariah ditopang oleh pendapatan dari penyaluran dana yang tumbuh 12,3 persen yoy.
Pejalan kaki berjalan melewati logo PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk atau BTPN Syariah di Jakarta, Senin (13/1/2020). Bisnis/Dedi Gunawann
Pejalan kaki berjalan melewati logo PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk atau BTPN Syariah di Jakarta, Senin (13/1/2020). Bisnis/Dedi Gunawann

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank BTPN Syariah Tbk. (BTPS) secara bank only membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp856,16 miliar hingga 30 Juni 2022. Laba tersebut naik 11 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari sebelumnya tercatat Rp769,9 miliar.

Berdasarkan publikasi laporan keuangan di Harian Bisnis Indonesia edisi Kamis (28/7/2022), raihan laba tersebut ditopang oleh pendapatan dari penyaluran dana yang tumbuh 12,3 persen (yoy). Itu naik dari Rp2,28 triliun menjadi Rp2,56 triliun pada posisi Juni 2022.

Sementara itu, perseroan mencatatkan bagi hasil untuk pemilik dana investasi menyusut 25 persen yoy, dari Rp215,2 miliar menjadi Rp162,2 miliar. Alhasil, pendapatan setelah distribusi bagi hasll tumbuh 16 persen (yoy) menjadi Rp2,4 triliun, dari semula Rp2,07 triliun.

BTPN Syariah juga menyalurkan pembiayaan sebesar Rp11,1 triliun hingga kuartal II/2022 atau tumbuh 10,5 persen yoy, dibanding periode sebelumnya Rp10,04 triliun. Dari sana, total aset yang dimiliki BTPN Syariah naiik 16 persen (yoy) dari semula Rp17,4 triliun menjadi Rp20,2 triliun.

Selanjutnya, untuk dana simpanan wadiah juga tercatat mengalami pertumbuhan sebesar 18 persen yoy menjadi Rp2,24 triliun, dibandingkan periode sebelumnya Rp1,9 triliun. Sama halnya dengan dana investasi profit non sharing yang tumbuh 10 persen (yoy) menjadi Rp9,61 triliun.

Secara total liabilitas, bank dengan sandi saham BTPS ini mengalami kenaikan 12,3 persen (yoy) dari Rp2,28 triliun menjadi Rp2,56 triliun hingga Juni 2022.

Adapun, dari sisi rasio keuangan berupa non performing financing (NPF) berada di level 2,54 persen (gross) dan 0,19 persen (nett). Sedangkan untuk return on asset (ROA) dan return on equity (ROE) masing-masing di level 11,37 persen dan 24,57 persen.

Lalu untuk net imbalan menjadi 26,88 persen, naik dibandingkan periode sebelumnya 26,54 persen. Kemudian, net operating margin (NOM) dan beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) masing-masing berada di level 12,03 persen dan 57,60 persen.

“Bank juga tercatat masih memiliki rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio [CAR] yang kuat di level 48 persen, jauh di atas ketentuan dan rata-rata industri bank syariah,” kata Direktur Utama BTPN Syariah Hadi Wibowo dalam keterangan tertulis, dikutip pada Kamis (28/7/2022).

Di samping itu, Hadi menyampaikan perseroan juga telah menyempurnakan layanan e-channel bagi nasabah pendanaan melalui Tepat Mobile Banking dan Internet Banking untuk mengoptimalkan kemudahan bertransaksi, sekaligus berkesempatan untuk terlibat dalam memberdayakan masyarakat inklusi.

Selain itu, BTPN Syariah juga melihat perlunya berkolaborasi untuk memperluas akses pasar dan menjangkau akses persediaan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membentuk BTPN Syariah Venture Capital (VC).

“Melalui anak usaha ini, bank akan lebih mudah berkolaborasi dengan partner-partner strategis yang memiliki semangat yang sama dalam membesarkan ekosistem digital bagi masyarakat inklusi ke depannya,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper