Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peluang dan Tantangan di Balik Pengembangan Open Banking di Indonesia

Open banking membuka banyak kesempatan bagi perbankan, juga pemain lain seperti fintech, untuk menghasilkan bisnis yang berpotensi menjadi sumber pemasukan baru
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 07 September 2022  |  03:19 WIB
Peluang dan Tantangan di Balik Pengembangan Open Banking di Indonesia
Peluang dan Tantangan Dibalik Pengembangan Open Banking di Indonesia - ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Tren pemanfaatan open banking diprediksi terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan. Terdapat sejumlah peluang dan tantangan yang perlu diantisipasi oleh perbankan dalam mengembangkan teknologi finansial pengubah permainan di dunia jasa keuangan ini.  

Country Manager F5 Surung Sinomo mengatakan open banking membuka banyak kesempatan bagi perbankan, juga pemain lain seperti fintech, untuk menghasilkan bisnis yang berpotensi menjadi sumber pemasukan baru berkelanjutan bagi bank atau layanan keuangan. 

Open banking yang mengintegrasikan bank dengan pihak ketiga melalui Application Programming Interface (API), juga memiliki banyak manfaat lainnya seperti menjangkau masyarakat yang belum memiliki rekening. 

Sebanyak 50,8 persen penduduk Indonesia yang belum memiliki akses perbankan, berpeluang dijangkau dengan layanan open banking dengan lebih cepat dan murah tanpa harus membangun kantor cabang. 

"Dengan open banking menjadi salah satu jawaban untuk bank menjangkau unbanked population, sehingga mereka menikmati akses perbankan,” kata Surung dalam Webinar Secured Open Banking API for Sustainable Digital Transformation, Selasa (6/9/2022). 

Open banking, lanjutnya, juga dapat membantu perbankan menjangkau UMKM yang belum mendapat layanan keuangan. Di Indonesia tercatat sebanyak 60 juta pelaku UMKM, yang sangat membutuhkan akses ke perbankan untuk membantu permodalan.

Dengan mengadopsi open banking, kata Surung, bank juga dapat memiliki layanan keuangan yang makin beragam. Bank yang awalnya hanya digunakan untuk menabung, nantinya juga dapat membeli produk investasi hingga berbelanja kebutuhan sehari-hari. 

"Sehingga dengan open banking harapannya Attach Rate of Financial Service makin meningkat. Selain itu ada juga potensi peningkatan profitabilitas lewat kerja sama yang terjalin," kata Surung. 

Namun dalam perkembangannya, kondisi open banking di Indonesia belum sempurna. Sebuah perusahaan riset pemasaran, Twimbit, mengungkapkan kematangan sebuah sistem open banking di sebuah negara ditopang oleh dua elemen yaitu, inisiatif regulator dan inisiatif pasar. 

Inisiatif regulator adalah aksi regulator di suatu negara dalam meregulasi Open Banking sehingga makin berkembang. Sementara itu, inisiatif pasar adalah perkembangan ekositem Open Banking di pasar.

Indonesia sendiri berada pada posisi tengah, yang ditandai dengan inisiatif regulasi yang bagus dan jelas, tetapi kurang dari sisi inisiatif pasar.

Perbankan dan layanan jasa keuangan belum banyak yang beralih ke teknologi masa depan ini. Dalam riset yang melibatkan 22 negara, termasuk Indonesia, kematangan open banking baru terjadi di negara-negara eropa. 

BI Snap

Dalam pengembangan open banking, terdapat banyak unsur yang harus diperhatikan, salah satunya adalah perlindungan terhadap API. Perusahaan yang ingin memilki perlindungan API yang baik, dapat meniru standar keaman dan teknis BI Snap (Standar Nasional Open API Pembayaran) yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia.  

Dia mengatakan API dan aplikasi menjadi pusat di dunia digital. Semua perusahaan dan orang berinteraksi melalui aplikasi dan API. API adalah Application Programming Interface yang dapat menghubungkan satu aplikasi dengan aplikasi lainnya.

Ketika perusahaan akan mengintegrasikan API, ada empat hal penting yang harus dilakukan yaitu realibilitas, keamanan, performa, dan dokumentasi. 

"Ketika saya melakukan pemetaan terhadap standar keamanan yang ada di BI Snap, ini menjawab dari apa yang menjadi most critical ketika kita hendak mengintegrasikan API," kata Surung. 

Di dalam BI Snap, kata Surung, ada perencanaan bisnis berkelanjutan yang menjawab isu realibilitas. Kemudian ada juga faktor keamanan dan pendeteksi fraud di BI Snap, sehingga perusahaan dapat mendeteksi dengan cepat permasalahan yang ada. 

"Ada juga API management yang menjawab isu dokumentasi. Ketika kita memublikasi API kita ke dunia luar, kita perlu sekali memiliki dokumentasi API agar tahu siapa saja yang akses," kata Surung. 

Kebanyakan dari pelanggaran atau serangan data yang terjadi pada perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Facebook, dan lain-lain, kata Surung, ada hubungannya dengan serangan ke API. Dengan demikian perlindungan API itu menjadi sangat penting. 

Berdasarkan pemetaan yang dilakukan di komponen teknis dan keamanan BI Snap, kata Surung, cukup kuat karena ditopang oleh F5. Banyak perusahaan-perusahaan yang kemudian ingin menerapkan apa yang telah diterapkan BI Snap.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan Teknologi Finansial Bank Indonesia umkm
Editor : Aprianus Doni Tolok
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top