Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Hati-Hati! Sentimen Negatif bagi Bank Digital Jelang RDG BI

Kenaikan suku bunga acuan akan membuat bank digital sulit meningkatkan margin bunga bersih dalam waktu dekat akibat risiko inflasi dan meningkatnya suku bunga.
Karywan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/9/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Karywan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/9/2022). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Saham bank digital berpotensi terkena sentimen negatif jelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia atau BI, yang diperkirakan menaikkan kembali suku bunga acuan.

Retail Research Analyst CGS-CIMB Sekuritas Indonesia Aji Kurniawan mengatakan bahwa secara umum, para ekonom memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin menjadi 4,75 persen.

Menurutnya, hal tersebut dapat menjadi sentimen negatif bagi saham bank digital. Kenaikan suku bunga acuan akan membuat bank digital sulit meningkatkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dalam waktu dekat akibat risiko inflasi dan meningkatnya suku bunga.

“Karena mereka [bank digital] gemar untuk mengobral bunga tinggi dalam bentuk dana murah ataupun deposito, jadi membuat mereka kesulitan meningkatkan dana pihak ketiga [DPK] dan ini akan meningkatkan cost of fund,” ujarnya Kamis (20/10/2022).

Dia menambahkan bahwa di saat kenaikan suku bunga acuan, sentimen positif justru akan hinggap pada bank-bank besar konvensional yang memiliki dana murah atau current account saving account (CASA) di level tinggi dan loan to deposit ratio (LDR) yang rendah.

Sebagaimana diketahui, bank digital seperti PT Bank Jago Tbk. (ARTO), misalnya, menghuni posisi ke-6 jajaran top losers selama pekan lalu dengan koreksi mencapai 25,83 persen. sepanjang tahun berjalan (year-to-date/ytd), saham ARTO terpantau ambles 65,63 persen.

Sebelumnya, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan memang memaksa bank menyesuaikan suku bunga depositonya, sehingga akan berdampak pada kinerja laba bank digital.

“Jika Bank Jago menaikan lagi rate deposito karena imbas suku bunga acuan, maka ini akan mempengaruhi NIM dan mengganggu cost of fund,” tuturnya.

Tercatat, per kuartal II/2022 NIM Bank Jago mencapai 10,83 persen dengan return on equity (ROE) berada di level 0,76 persen dan return on asset (ROA) 0,57 persen. Sementara itu, perseroan membukukan laba sebesar Rp29 miliar.

Di sisi lain, sepanjang semester I/2022, ARTO telah menyalurkan kredit sebesar Rp7,04 triliun atau tumbuh 70 persen secara ytd. Dari jumlah ini, pembiayaan syariah berkontribusi Rp2,29 triliun. Adapun, penyaluran kredit BBHI tumbuh 205 persen ytd menjadi Rp6,71 triliun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dionisio Damara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper