Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Suku Bunga Acuan Naik, Saham Bank Digital (BANK, AGRO, ARTO, AMAR) Kompak Masuk Zona Merah

Saham bank digital BANK, AGRO, ARTO, dan AMAR masuk zona merah seiring dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 50 bps.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 20 Oktober 2022  |  15:47 WIB
Suku Bunga Acuan Naik, Saham Bank Digital (BANK, AGRO, ARTO, AMAR) Kompak Masuk Zona Merah
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan indeks harga saham gabungan (IHS) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (11/10/2022). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA — Sederet saham bank digital kompak masuk zona merah setelah Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen.

Berdasarkan data RTI Business, Kamis (20/10/2022) hingga pukul 15.02 WIB, saham bank digital seperti PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK), PT Bank Raya Indonesia Tbk. (AGRO), PT Bank Jago Tbk. (ARTO), dan PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR) mengalami koreksi.

Bank Aladin Syariah memimpin pelemahan saham emiten bank digital dengan penurunan sebesar 5,24 persen menuju level Rp1.265 per lembar. Diikuti oleh Bank Raya yang turun 2,80 persen ke posisi Rp520 per unit.

Sementara itu, Bank Amar tercatat mengalami penurunan sebesar 2,65 persen menuju Rp294. Adapun, bank digital besutan Jerry Ng yakni Bank Jago turun 2,26 persen ke level Rp5.400.

Sebagaimana diketahui, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19–20 Oktober 2022 memutuskan untuk menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin menjadi 4,75 persen.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan bahwa sejalan dengan hal itu, suku bunga deposit facility sebesar 50 bps menjadi 4,00 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 50 bps menjadi 5,50 persen.

“Keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah front loadedpreemptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi dan memastikan inflasi inti ke depan kembali ke sasaran 2–4 persen lebih awal pada semester I/2023,” ujarnya dalam konferensi pers.

Selain itu, Perry juga menyatakan bahwa langkah tersebut sekaligus memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat penguatan dolar AS dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

Sebelumnya, Retail Research Analyst CGS-CIMB Sekuritas Indonesia Aji Kurniawan mengatakan peningkatan suku bunga akan menjadi sentimen negatif bagi bank digital. Pasalnya Kenaikan suku bunga acuan akan membuat bank digital sulit meningkatkan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dalam waktu dekat akibat risiko inflasi dan meningkatnya suku bunga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Editor : Muhammad Khadafi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top