Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Intip Langkah Bank Ina (BINA) & Bank Oke (DNAR) Jaga Risiko Kredit Macet akibat Resesi?

Dua bank kecil yakni Bank Ina dan Bank Oke berupaya menjaga kualitas kredit dengan pemantauan debitur secara intens dan menyiapkan pencadangan.
Ilustrasi NPL (kredit macet)./Bisnis.com
Ilustrasi NPL (kredit macet)./Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) dan PT Bank Oke Indonesia Tbk (DNAR) menyiapkan sejumlah strategi menjaga kualitas kredit tetap terjaga di tengah kekhawatiran gangguan resesi ekonomi global tahun ini.

Direktur Utama Bank Ina Daniel Budirahayu mengatakan rasio kredit macet (nonperforming loan/NPL) gross dan NPL nett perseroan hingga saat ini barada di bawah 2 persen. Per September 2022, NPL gross Bank Ina berada di level 1,52 persen. Sementara, NPL nett Bank Ina di level 0,56 persen.  

Menurutnya, pada 2023 ekonomi masih dibayang-bayangi inflasi tinggi sehingga mengakibatkan kenaikan suku bunga acuan BI dan masalah resesi global. Kondisi ini tutur membuat risiko kredit naik dan membuat penjagaan pada rasio kredit macet akan menjadi tantangan tersendiri bagi bank.

"Kami pun meningkatkan pemantauan debitur-debitur kami lebih intens, terutama yang langsung berdampak atas pelemahan rupiah," kata Daniel kepada Bisnis pada Minggu (8/1/2023). Selain itu, perseroan meningkatkan pencadangan apabila terjadi skenario buruk.

Direktur Kepatuhan Bank Oke Efdinal Alamsyah mengatakan bahwa NPL Bank Oke pun masih terjaga dengan baik. Namun, perseroan tetap berjaga-jaga dengan menyiapkan pencadangan pada tahun ini.

"Sampai dengan akhir 2022, NPL masih terkelola dengan baik," ujar Efdinal. Tercatat bahwa NPL gross Bank Oke pada kuartal III/2022 mencapai 2,67 persen. Sementara, NPL nett perseroan mencapai 1,82 persen per September 2022.

Sebelumnya, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan bahwa tahun ini semua sektor termasuk perbankan dihantui ancaman resesi global. Saat resesi global, inflasi naik, dia khawatir hal tersebut akan membawa masalah pada kualitas kredit perbankan.

Menurutnya, saat kondisi resesi, bank-bank besar relatif aman karena mempunyai kecukupan pencadangan yang besar. “Namun, untuk bank berkategori menengah dan kecil, dia bisa kena dampak signifikan kalau terjadi resesi global 2023,” ujar Amin.

Ia mewanti-wanti agar bank hati-hati menjaga NPL. “Saat resesi, NPL akan tinggi, bank juga harus siapkan CKPN [cadangan kerugian penurunan nilai] yang besar," ujarnya kepada Bisnis, beberapa waktu lalu. Apalagi menurutnya restrukturisasi kredit Covid-19 untuk sektor umum akan berhenti pada Maret 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper