Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

BTN (BBTN) Sebut Akan Hindari Pembiayaan KPA di 2023, Ini Alasannya

BTN akan hindari pembiayaan high rise building, dan fokus pada KPR tahun ini.
Alifian Asmaaysi
Alifian Asmaaysi - Bisnis.com 12 Januari 2023  |  11:02 WIB
BTN (BBTN) Sebut Akan Hindari Pembiayaan KPA di 2023, Ini Alasannya
Pekerja sedang menggarap proyek perumahan yang dibiayai oleh BTN. - Bisnis/Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. atau BBTN menyebut akan menghindari pembiayaan high rise building seperti kredit pemilikan apartemen atau KPA sebagai salah satu strategi bisnisnya pada 2023.

Wakil Direktur Utama BBTN, Nixon LP Napitupulu dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) BBTN Rabu (11/1/2023), menjelaskan bahwa pihaknya akan fokus menggarap penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR).

"Yang jadi issue memang masih kami hindari pemberian pembiayaan high rise building kita masih tetap akan mengetatkan policy di arah sana," jelas Nixon, dikutip Kamis (12/1/2023).

Dia melanjutkan, hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk melakukan mitigasi risiko kredit di tengah ancaman ketidakpastian kondisi ekonomi global pada tahun 2023.

Di tambah lagi, BBTN memproyeksi bahwa umumnya rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) pada penyaluran KPR cenderung kecil di bawah 1 persen.

"Jadi kita tetap bantu pertumbuhan KPR di segmen MBR [masyarakat berpenghasilan rendah] dan tetap akan mengurangi pertumbuhan di sektor properti yang sifatnya high rise building project," pungkasnya.

Nixon juga menambahkan bahwa hingga penutupan tahun 2022, kinerja kredit BBTN dilaporkan tetap tumbuh baik sebesar 8,5 persen (year-on-year/yoy) secara unaudited yang ditopang oleh penyaluran KPR subsidi yang mendekati double digit.

Rencana pengurangan penyaluran kredit pada sektor high rise building yang dilakukan oleh BBTN bukan tanpa alasan. Belakangan, kondisi pasar apartemen nasional memang tengah menunjukkan tren pelambatan.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengungkap sejumlah faktor yang diduga menghambat laju penjualan apartemen dalam beberapa waktu belakangan, bahkan diproyeksi akan terus berlanjut pada 2023.

“Penjualan unit baru apartemen di Jakarta memang melemah dalam beberapa semester terakhir, hal ini di antaranya karena pelemahan daya beli masyarakat di tengah masa pandemi,” kata Syarifah kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Di samping itu, Berdasarkan data Jakarta Property Highlight Semester I/2022, penjualan unit apartemen baru pada semester pertama tahun 2022 hanya meningkat 0,1 persen bila dibanding dengan semester sebelumnya.

Alhasil, total stok unit existing unit yang belum terjual hingga Oktober 2022 berkisar 9.400 unit, dengan tambahan pasokan stok dalam 3 tahun ke depan akan hadir 36.000 unit.

Adapun terkait minimnya minat masyarakat terhadap apartemen dijelaskan oleh pengamat properti Panangian Simanungkalit salah satunya karena adanya keterbatasan akases untuk melakukan renovasi atau mengubah bentuk bangunan.

Di samping itu, hak kepemilikan dan hal pengelolaan apartemen masih menjadi faktor utama yang banyak dipertimbangkan masyarakat.

"Salah satunya karena sertifikat kepemilikan tanah rumah tapak bukan merupakan hak milik bersama atau strata title melainkan hak milik atas nama pribadi," ujarnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bbtn btn RUPS kpa kpr
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top