Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Signature Bank Kolaps karena Efek Rush Money Silicon Valley Bank

Keruntuhan Signature Bank tak lain merupakan buntut panjang dari gelombang kepanikan yang ditimbulkan usai Silicon Valley Bank resmi dinyatakan bangkrut.
Alifian Asmaaysi
Alifian Asmaaysi - Bisnis.com 13 Maret 2023  |  17:59 WIB
Signature Bank Kolaps karena Efek Rush Money Silicon Valley Bank
Kantor pusat Signature Bank di 565 Fifth Avenue, New York, AS, Minggu (12/3/2023). - Bloomberg/ Jeenah Moon

Bisnis.com, JAKARTA — Signature Bank resmi ditutup oleh regulator bank Amerika Serikat pada Minggu (12/3/2023) waktu setempat. Peristiwa tersebut menyusul bangkrutnya Silicon Valley Bank (SVB) dan Silvergate Bank pada beberapa waktu lalu. 

Sebagai informasi, Signature Bank merupakan salah satu lembaga keuangan di AS yang aktif menjalankan bisnisnya pada sektor pinjaman properti. Belakangan, perusahaan juga aktif menggarap bisnis simpanan kripto. 

Pada dasarnya, keruntuhan Signature Bank tak lain merupakan buntut panjang dari gelombang kepanikan yang ditimbulkan usai Silicon Valley Bank resmi dinyatakan bangkrut. Alhasil, sejumlah bank kecil dan menengah tak terkecuali Signature Bank rentan menghadapi bank run. 

Usai kabar Silicon Valley Bank bangkrut, nasabah Signature Bank mulai mencemaskan simpanan dananya. Di hari yang sama, pada Jumat (10/3/2023) Signature Bank mulai mencatatkan pengeluaran simpanan besar-besaran. 

Gelombang kepanikan juga muncul dari sejumlah nasabah korporasi. Salah satu contohnya Coinbase Global Inc., bursa kripto terbesar di AS yang turut membagikan kekhawatirannya di akun Twitter resminya @Coinbase.

"Hingga penutupan perdagangan Jumat 10 Maret, Coinbase memiliki saldo kas perusahaan sekitar US$240 juta [Rp3,69 triliun] di Signature. Seperti yang dinyatakan oleh FDIC, kami berharap dapat memulihkan dana ini sepenuhnya," cuitnya dikutip Senin (14/3/2023).

Di samping itu, Paxos Global yang sebelumnya bermitra dengan Binance pada stablecoin BUSD juga menyampaikan hal serupa. Mereka mengatakan memiliki US$250 juta, ekuivalen Rp3,85 triliun di Signature Bank. 

Melansir laman Bloomberg, Departemen Keuangan AS dan regulator bank AS memastikan bahwa para deposan  dapat mengakses uang mereka pada Senin waktu setempat. 

Lebih lanjut, dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Departemen Keuangan, Federal Reserve dan FDIC, menyatakan akan mengambil tindakan tegas untuk melindungi ekonomi AS dengan memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem perbankan. 

"Langkah ini akan memastikan bahwa sistem perbankan AS terus menjalankan peran vitalnya dalam melindungi simpanan dan menyediakan akses kredit ke rumah tangga dan bisnis dengan cara yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan," tulis Federal Reserve dalam keterangan resminya. 

Di samping itu, Dewan Federal Reserve juga mengumumkan akan menyediakan dana tambahan untuk lembaga penyimpanan yang memenuhi syarat untuk membantu memastikan bank memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan semua deposan mereka. 

"Reformasi tersebut dikombinasikan dengan tindakan hari ini menunjukkan komitmen kami untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa simpanan para deposan tetap aman," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Silicon Valley Bank (SVB) Signature Bank
Editor : Muhammad Khadafi

Artikel Terkait



Berita Lainnya

    Berita Terkini

    back to top To top