Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah Ambrol ke Level Rp16.000, Intip Kurs di BCA, BNI & BRI

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ambrol ke level Rp16.000 per dolar AS. Berikut kurs dolar di BCA, BNI dan BRI
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Selasa (5/9/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Selasa (5/9/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ambrol ke level Rp16.000 per dolar AS. Lantas, berapa posisi kurs dolar di PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) hingga PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI)?

Berdasarkan data Google Finance, rupiah bercokol di level Rp16.117 per dolar AS hingga saat ini. Rupiah mulai menyentuh level Rp16.000 pada perdagangan Rabu (10/4/2024).

Data Google Finance tersebut menunjukan pergerakan rupiah secara internasional. Sebab, perdagangan domestik pada momen lebaran sedang libur.

Mengacu data Bloomberg pada perdagangan terakhir jelang libur lebaran, yakni Jumat pekan lalu (5/4/2024), rupiah ditutup menguat 44 poin atau 0,28% ke Rp15.848.

Sementara itu, tren lesunya rupiah memang sudah terjadi sejak awal tahun ini. Pada awal tahun atau perdagangan per 2 Januari 2024, rupiah masih di level Rp15.390.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah pun berpotensi dibuka di perdagangan setelah libur lebaran atau pada Selasa (16/4/2024) di level Rp16.000 karena tingginya fluktuasi saat ini.

Terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi ambrolnya rupiah. Secara global, faktor pelemahan rupiah datang dari tren dolar AS yang merangkak naik. "Murni karena geopolitik, eksternal. Ini karena inflasi di AS naik lagi," katanya kepada Bisnis pada beberapa waktu lalu (12/4/2024).

Selain itu, pasar keuangan saat ini sedang mengantisipasi bahwa The Fed akan menunda kebijakan pemangkasan suku bunga hingga September 2024 mendatang.

Dari dalam negeri, ambrolnya rupiah terjadi di tengah ketidakpastian terkait dengan program-program pemerintahan baru ke depan. Chief Economist PermataBank Josua Pardede mengatakan penerimaan negara pun cenderung menurun sejalan dengan normalisasi harga komoditas. 

Data terkini menunjukkan bahwa APBN masih mencatatkan surplus, tetapi jika dibandingkan dengan posisi periode yang sama tahun lalu, surplus cenderung melambat.

Halaman
  1. 1
  2. 2

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper