Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Saham Multifinance Masih Lesu, Begini Rekomendasi Analis Kiwoom Sekuritas

Industri multifinance belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan pada awal 2025. Cek rekomendasi analis terhadap saham di sektor ini!
Investor mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Selasa (18/3/2025). IHSG terjun bebas pada Selasa (18/3/2025) dan membuat BEI melakukan pembekuan perdagangan sementara atau trading halt. Trading halt ini merupakan trading halt pertama yang dilakukan BEI sejak 2020./JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Investor mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Selasa (18/3/2025). IHSG terjun bebas pada Selasa (18/3/2025) dan membuat BEI melakukan pembekuan perdagangan sementara atau trading halt. Trading halt ini merupakan trading halt pertama yang dilakukan BEI sejak 2020./JIBI/Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Industri multifinance belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan pada awal 2025. Meskipun terdapat beberapa emiten yang dinilai undervalue secara valuasi, PT Kiwoom Sekuritas Indonesia menyarankan investor agar tidak melakukan akumulasi saham secara agresif di sektor ini.

Head of Research PT Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, mengatakan secara fundamental sejumlah saham multifinance memang tergolong undervalue jika dibandingkan dengan rata-rata price to earning ratio (PER) dan price to book value (PBV) industri.

Saham-saham seperti PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF), PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN), PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN), dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOMF) menjadi contoh emiten yang masih aktif diperdagangkan namun memiliki valuasi relatif rendah.

“Namun, tren harga saham-saham tersebut masih cenderung bearish dalam beberapa waktu terakhir. Dari sisi industri pun belum ada katalis atau insentif yang berarti, sehingga kami tidak menyarankan akumulasi terlalu banyak untuk saat ini,” kata Liza kepada Bisnis, pada Kamis (27/3/2025). 

Liza menyoroti bahwa industri pembiayaan sempat mengalami tekanan signifikan pada akhir 2024. Sekitar 50% perusahaan multifinance mencatat pertumbuhan piutang di bawah 6,82% secara tahunan (year on year/YoY), jauh lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Liza mengatakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bahkan merevisi proyeksi pertumbuhan piutang pembiayaan multifinance dari 8–10% menjadi hanya 7–8% pada 2025. Pelemahan juga tercermin dari sektor otomotif, yang menjadi salah satu penopang utama pembiayaan konsumen.

Sepanjang 2024, penjualan kendaraan bermotor tercatat turun hampir 14% YoY. Penurunan ini berlanjut hingga Januari 2025, mengindikasikan belum pulihnya daya beli masyarakat.

“Tingkat suku bunga yang masih tinggi, badai PHK [pemutusan hubungan kerja] massal, hingga kebijakan pembatasan pembelian BBM subsidi dan opsen pajak kendaraan bermotor mulai Januari 2025, semuanya menjadi beban tambahan bagi konsumen,” katanya.

Di sisi lain, Liza mengatakan perusahaan multifinance juga dihadapkan pada persaingan yang semakin ketat dengan industri modal ventura, fintech peer to peer (P2P) lending dan bank digital yang agresif menawarkan produk pinjaman berbasis teknologi. 

Liza juga menyinggung fenomena Buy Now Pay Later (BNPL) yang kian populer di kalangan Gen Z. 

“Jika tidak dikelola dengan disiplin, gaya hidup konsumtif seperti ini justru bisa mendorong risiko penumpukan utang macet,” katanya.

Untuk menjaga keberlangsungan bisnis, Liza menyarankan perusahaan multifinance melakukan diversifikasi pembiayaan. Dia melihat adanya tren perusahaan multifnnace mulai menyasar sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan produk pembiayaan multiguna berbasis jaminan BPKB kendaraan. 

Selain itu, lanjut dia, potensi juga terbuka di sektor perumahan melalui program pemerintah pembangunan tiga juta rumah serta pembiayaan kendaraan listrik dan industri kelapa sawit, seiring dengan tren energi hijau.

Meski demikian, Liza menegaskan bahwa pelaku industri harus tetap memperkuat disiplin tata kelola. 

“GRC [Governance, Risk, and Compliance] harus menjadi prioritas utama, apalagi mengingat masih maraknya kasus fraud baik dari internal maupun eksternal,” tegasnya.

Dengan mempertimbangkan seluruh tantangan tersebut, Kiwoom Sekuritas menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dan tidak terburu-buru mengoleksi saham-saham di sektor multifinance.

“Kondisi saat ini belum mendukung untuk akumulasi besar-besaran. Investor sebaiknya menunggu hingga ada tanda-tanda pemulihan yang lebih kuat di industri,” tutup Liza.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper