Bank Syariah Berskala Besar Tidak Mendesak

Bisnis.com, JAKARTA Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai wacana pendirian bank syariah berskala besar bukan merupakan target mendasar untuk dikejar.
Dini Hariyanti | 25 Juli 2018 22:33 WIB
Menko Perekonomian Darmin Nasution membaca berkas Paket Kebijakan Ekonomi XV di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (15/6). - Antara/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menilai wacana pendirian bank syariah berskala besar bukan merupakan target mendasar untuk dikejar.  

Menko Perekonomian Darmin Nasution berpendapat bahwa kehadiran bank syariah berskala besar berkapasitas modal besar yang masuk dalam kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV akan mendorong perkembangan industri perbankan syariah. Akan tetapi, hal ini bukan menjadi target mutlak yang harus direalisasikan demi memaksimalkan penetrasi industri keuangan syariah.

“Inginnya ada bank yang besar sehingga bisa melakukan semua layanan perbankan. Ini bagus-bagus saja. Tapi, yang terpenting bagaimana bank itu bisa menjangkau semua dan bisa bersinergi [dengan sektor riil],” ujarnya, Rabu (25/7/2018).

Darmin menyatakan bahwa ketertinggalan ekonomi syariah, termasuk industri keuangan, lantaran Indonesia terlambat mengembangkannya dibandingkan dengan negara lain. Kalau diasumsikan momentum perkembangan ekonomi syariah ialah saat Bank Muamalat berdiri artinya sektor ini baru berkembang sekitar 20 tahun terakhir.

“Ada negara yang ekonomi syariahnya maju sekali tetapi tidak terlalu ketat syariahnya. Kita ini termasuk yang tidak terlalu cepat berkembang, tetapi kita agak lebih ketat. Tidak ada yang menghambat perkembangan ekonomi syariah kita, kita hanya memang terlambat memulai,” ujar dia.

Bedasarkan catatan Bisnis, secara keseluruhan sampai dengan April tahun ini, pangsa pasar industri keuangan syariah di Indonesia mencapai Rp1.118 triliun atau setara 8,22% dari total aset industri keuangan yang ada.

Sekretaris Jenderal Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Edy Setiadi mengatakan, pemberi kontribusi paling besar terhadap porsi itu adalah sukuk atau surat berharga syariah negara ritel yang berkontribusi sekitar 14%.

“Yang paling besar dari sukuk sehingga memberikan pangsa sekitar 14 %, perbankan sendiri 5,72%, institusi keuangan non bank [IKNB] juga banyak didukung oleh asuransi, penopangnya masih oleh industri syariah,” kata dia.

Dia menuturkan, potensi pertumbuhan porsi keuangan syariah masih cukup tinggi. Hal ini disebabkan tingginya potensi wisatawan muslim yang berkunjung ke Indonesia. Dalam dua tahun mendatang, diperkirakan ada 220 juta wisatawan muslim ke Tanah Air.

Tag : bank syariah
Editor : Farodlilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top