LPS : Suku Bunga BI Sudah Tinggi

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia sudah bisa dilakukan pada kuartal III dan kuartal IV/2019.
Muhammad Khadafi | 18 April 2019 16:56 WIB
suku bunga

Bisnis.com, JAKARTA — Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai penurunan suku bunga kebijakan Bank Indonesia sudah bisa dilakukan pada kuartal III dan kuartal IV/2019.

“Kami melihat ada potensi seperti itu. Yang jelas suku bunga BI sudah tinggi,” ujar Direktur Group Surveilans dan Stabilitas Sistem Keuangan LPS Doddy Ariefianto kepada Bisnis, Selasa (16/4/2019).

Bank Indonesia menaikkan suku bunga kebijakan BI 7 Day (Reverse) Repo Rate secara bertahap pada tahun lalu sebanyak total 175 bps. Kenaikan suku bunga dimulai sejak Mei dalam dua tahap masing-masing sebanyak 25 bps.

BI 7 DRR kembali naik pada Juni 2018 sebanyak 50 bps, dilanjutkan kenaikan berikutnya secara berturut-turut pada Agustus dan September 2019 masing-masing sebanyak 25 bps.

Kenaikan terakhir pada tahun lalu terjadi pada November 2018 sebanyak 25 bps. Sejak saat itu, BI 7 DRR tetap bertengger di level 6%.

Lembaga keuangan Morgan Stanley menilai Bank Indonesia perlu membuka ruang pelonggaran kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga kebijakan BI 7 DRR.

Dalam riset Morgan Stanley yang berjudul Growth and Liquidity Cycles in Sync, disebutkan bahwa Bank Indonesia (BI) diprediksi menurunkan suku bunga sebesar 75 bps pada kuartal III/2019, seiring dengan kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat yang cenderung dovish, inflasi yang rendah, dan current account defisit yang mulai menyempit.

“Kami percaya pelonggaran likuiditas yang dibutuhkan sistem, di tengah membaiknya permintaan kredit dan likuiditas yang lebih ketat setelah kenaikan suku bunga 175 bps pada 2018,” ungkap Equity Analyst Morgan Stanley Sekuritas Mulya Chandra dalam laporan tersebut yang dikutip Bisnis, Rabu (17/4/2019).

Menurutnya, sistem keuangan di Tanah Air tengah membutuhkan pelonggaran likuiditas. Di sisi lain, BI tengah memacu pertumbuhan kredit dengan mengombinasikan kenaikan suku bunga dan pelonggaran kebijakan makro prudensial.

Morgan Stanley menilai, perbankan akan mendapat manfaat besar dari penurunan suku bunga dengan kenaikan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Menurutnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. akan mendapatkan manfaat terbesar dalam situasi ini, karena mereka memiliki banyak portofolio pinjaman dengan peringkat tetap dan rasio dana murah lebih rendah. Kondisi itu sebaliknya terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk. atau PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

“Kami menaikkan perkiraan NIM pada 2019—2020 hingga 10 bps, membuat NIM relatif datar, hingga naik 20bps dari 2018. Sebelumnya, kami memperkirakan penurunan,” tulisnya dalam laporan itu.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Suku Bunga, lps

Editor : Farodilah Muqoddam

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup