Bankir Berharap Kredit Bergairah Usai Pelantikan Presiden

Perlambatan penyaluran kredit diprediksi akan berakhir usai pelantikan presiden dan wakil presiden serta pembentukan kabinet baru. Lazimnya optimisme pelaku usaha terbentuk mengikuti stabilitas politik.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 16 Oktober 2019  |  19:00 WIB
Bankir Berharap Kredit Bergairah Usai Pelantikan Presiden
Presiden Joko Widodo berfoto bersama dengan pimpinan MPR di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (16/10/2019). - Bisnis/Amanda Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Penyaluran kredit perbankan berjalan terseok-seok pada paruh kedua tahun ini. Hingga Juli 2019, hanya ada tiga sektor lapangan usaha yang mencatat penguatan pertumbuhan permintaan kredit baru.

Direktur Utama PT Bank Mayapada Internasional Tbk. Haryono Tjahharijadi mengatakan bahwa saat ini kondisi semua sektor tengah lesuh. “Jadi tidak terlihat sektor apa yang masih punya potensi bagi perbankan,” katanya kepada Bisnis, Rabu (15/10/2019).

Dia berharap kondisi ini akan berakhir usai pelantikan presiden dan wakil presiden serta pembentukan kabinet baru. Lazimnya optimisme pelaku usaha terbentuk mengikuti stabilitas politik.

Sementara itu, sepanjang kuartal III/2019, pertumbuhan kredit bank secara total berkisar 9% hingga 10% secara tahunan. Mayoritas pembiayaan adalah kredit modal kerja pada sektor perdagangan.

Dikonfirmasi terpisah, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo mengatakan bahwa ada dua sektor yang masih terus tumbuh. “Antara lain itu sektor kontruksi dan perikanan,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat membawa sentimen negatif terhadap permintaan kredit di Tanah Air. Kendati demikian, dia tetap optimistis target pertumbuhan otoritas masih dapat tercapai.

Otoritas dan regulator kompak mematok kredit dapat tumbuh sekitar 10% hingga 12% secara tahunan pada akhir 2019. Bank sentral dalam hal itu telah memberikan stimulus seperti relaksasi loan to value (LTV) dan juga pemangkasan suku bunga acuan.

Adapun berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melambatnya pertumbuhan kredit baru secara signifikan di antaranya dialami oleh sektor perdagangan besar dan eceran, agrikultur, serta transportasi, pergudangan, dan komunikasi.

Pada saat yang sama pertambangan dan penggalian, yang sebelumnya disebut-sebut menjadi tumpuan, justru mencatat permintaaan kredit baru yang menurun. Per Juli 2019, kredit kepada sektor ini merosot 1,0% sepanjang periode berjalan (year-to-date/ytd).

Perbankan juga tampak kesulitan mencari kredit baru dari sektor konsumsi. Penyaluran pembiayaan untuk pemilikan rumah dan kendaraan bermotor tampak tidak bergairah.

Per Juli 2019, KPR tumbuh 5,3% ytd, lebih rendah dibandingkan dengan Juli 2018, 6,7%. Kredit kendaraan bermotor (KKB) mencatat perlambatan yang lebih dalam, atau dari 9,6% ytd menjadi 0,4% ytd.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kredit, perbankan

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top