Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pertumbuhan Kredit Diprediksi Masih Lambat

Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan Republik Indonesia Eric Alexander Sugandi menyatakan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) mempertahankan BI 7 Days (Reverse) Repo Rate pada level 5,00% setelah pemangkasan empat kali, sudah tepat.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 25 November 2019  |  11:13 WIB
Petugas bank menjelaskan mengenai kredit usaha rakyat (KUR). - Antara/R. Rekotomo
Petugas bank menjelaskan mengenai kredit usaha rakyat (KUR). - Antara/R. Rekotomo

Bisnis.com, JAKARTA - Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan Republik Indonesia memprediksi pertumbuhan kredit masih akan melambat meski sudah ada empat kali pemangkasan suku bunga acuan.

Peneliti Ekonomi Senior Institut Kajian Strategis Universitas Kebangsaan Republik Indonesia Eric Alexander Sugandi menyatakan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) mempertahankan BI 7 Days (Reverse) Repo Rate pada level 5,00% setelah pemangkasan empat kali, sudah tepat.

Alhasil, untuk mendorong pertumbuhan kredit Bank Indonesia lantas menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 50 basis poin untuk bank umum konvensional menjadi 5,5%, dan bank umum syariah atau unit umum syariah menjadi 4,00%, dengan GWM rerata 3,0%.

"Meski demikian, IKS memperkirakan pertumbuhan kredit perbankan masih akan melambat," ujar Eric melalui laporan yang diterima Bisnis.com, Senin (25/11/2019).

Dia menjelaskan, pertumbuhan kredit masih berada pada kisaran 7%-8%, melambat pada 2018 sebesar 12%.

Eric menilai bahwa penyebab melambatnya pertumbuhan kredit paling banyak disebabkan oleh melemahnya permintaan kredit perbankan.

Selain itu, debitur cenderung tidak agresif meminjam dari bank ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia dan pertumbuhan ekonomi global melambat.

Dilansir dari laporan Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), pertumbuhan ekonomi global akan melambat dari 3,55% pada 2018 menjadi 2,91% tahun ini. Perbaikan baru akan terjadi pada 2020 dengan prediksi pertumbuhan ekonomi 2,94%.

Proyeksi ini lebih pesimistik dibandingkan dengan proyeksi International Monetary Fund (IMF), yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat dari 3,6% pada 2018 ke 3,0% tahun ini. Posisi perbaikan atau rebound akan terjadi pada 2020 dengan kisaran 3,4%.

Oleh sebab itu, upaya pemangkasan BI7 Days Repo Rate dan penurunan GWM menurut Eric hanya berfungsi memfasilitasi pertumbuhan kredit perbankan dari sisi penawaran.

"Namun pertumbuhan kredit perbankan saat ini lebih banyak ditentukan oleh sisi permintaan kredit " jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kredit
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top