Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Portofolio Kredit Terdampak Corona, Bank Mana Paling Besar?

Sektor yang terdampak Covid-19 dibagi dalam tiga kategori yakni paling terdampak, sedikit terdampak, dan tidak terlalu terdampak.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 02 Juni 2020  |  13:41 WIB
Ilustrasi Bank - Istimewa
Ilustrasi Bank - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Portofolio kredit yang terdampak pandemi virus corona (Covid-19) paling besar dialami oleh Bank BRI, BNI, dan Bank Permata.

Berdasarkan publikasi Oliver Wayman yang dipaparkan dalam webinar Tantangan Industri Keuangan di Tengah Pandemi Covid-19 pada Senin (18/5/2020), sektor yang terdampak Covid-19 dibagi dalam tiga kategori yakni paling terdampak, sedikit terdampak, dan tidak terlalu terdampak.

Sektor yang paling terdampak meliputi pertambangan dan migas, konstruksi, perdagangan, hotel dan restoran, transportasi, dan kredit mikro.

Sektor yang sedikit terdampak yakni barang-barang konsumsi, jasa keuangan, elektronik, otomotif, dan baja, manufaktur, otomotif dan kredit payroll, dan kartu kredit.

Sementara itu, sektor yang tidak terlalu terdampak meliputi pertanian dan perikanan, telekomunikasi, utilities, jasa sosial dan kemasyarakatan, kesehatan dan edukasi, teknologi, dan KPR.

Dari sektor yang terdampak tersebut, kemudian disesuaikan dengan portofolio total kredit perbankan pada 2019.

Hasilnya, BRI menjadi bank dengan portofolio kredit terdampak paling besar. Rinciannya, sebanyak 55 persen portofolio kredit BRI berada dalam kategori paling terdampak, 25 persen kredit berada dalam kategori sedikit terdampak, dan 21 persen kredit berada dalam kategori tidak terlalu terdampak.

Nomor urut kedua dan ketiga yakni Bank BNI dan Bank Permata dengan masing-masing kategori kredit paling terdampak sebanyak 48 persen dari total kredit.

Sementara itu, untuk sektor kredit sedikit terdampak, Bank BNI sebesar 25 persen dari total kredit dan Bank Permata 31 persen dari total kredit. Sektor yang tidak terlalu terdampak untuk Bank BNI dan Bank Permata masing-masing sebesar 27 persen dan 21 persen.

Bank Mandiri menempati urutan keempat sektor paling terdampak dengan porsi 43 persen. Kemudian, sektor sedikit terdampak dan tidak terlalu terdampak di Bank Mandiri masing-masing sebesar 29 persen dan 27 persen.

Urutan kelima dan keenam ditempati Bank Danamon dan Bank CIMB Niaga dengan porsi sektor paling terdampak masing-masing sebesar 41 persen.

Porsi sektor sedikit terdampak di Danamon dan CIMB Niaga masing-masing sebesar 41 persen dan 34 persen. Sektor yang tidak terlalu terdampak di Danamon dan CIMB Niaga masing-masing sebesar 25 persen.

Selanjutnya, Bank BCA dengan porsi sektor paling terdampak mencapai 33 persen, sedikit terdampak 41 persen, dan tidak terlalu terdampak 25 persen.

Bank Panin dengan porsi sektor paling terdampak mencapai 24 persen, sedikit terdampak 34 persen, dan sisanya termasuk dalam unknown risk karena laporan Bank Panin yang tidak membagi portofolio konsumen.

Maybank dan Bank BTN menjadi bank yang memiliki porsi sektor paling terdampak terkecil yakni masing-masing sebesar 12 persen.

Porsi sektor sedikit terdampak dan tidak terlalu terdampak Maybank masing-masing sebesar 41 persen dan 48 persen. Sementara itu, porsi sektor sedikit terdampak dan tidak terlalu terdampak Bank BTN masing-masing sebesar 8 persen dan 80 persen.

Terkait dengan data tersebut, Bank Permata memberikan penjelasan bahwa perseroan tidak pernah mempublikasikan data atau informasi terkait komposisi nasabah secara detail. 

Perseroan juga menyampaikan pengelolaan risiko kredit tetap berjalan dengan baik, terlihat dari rasio non-performing loan (NPL) gross yang mengalami penurunan ke level 3,2 persen pada Maret 2020 dibandingkan dengan Maret 2019 pada 3,8 persen.

NPL coverage ratio terjaga baik sebesar 152 persen pada Maret 2020, meningkat dibandingkan posisi Desember 2019 yang sebesar 133 persen.

"Hal ini sejalan dengan upaya perbaikan kualitas kredit yang dilakukan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit baru serta percepatan penyelesaian kredit bermasalah melalui upaya restrukturisasi dan likuidasi," demikian keterangan dari perseroan.

Sebagai informasi tambahan, mengacu kepada laporan kinerja yang telah dipublikasikan pada kuartal pertama tahun ini, Bank Permata mempertahankan pertumbuhan aset dan pendapatan operasional di tengah situasi pandemi Covid-19. 

Good book perseroan telah meningkat dengan pendapatan operasional senilai Rp2,1 triliun atau 15,5 persen dan pendapatan bunga bersih senilai  Rp1,6 triliun.

Himpunan dana pihak ketiga tumbuh sebesar 11,4 persen yoy yang ditopang oleh peningkatan dana murah menjadi 54 persen. Rasio pinjaman terhadap simpanan pun terjaga di kisaran 79,9 persen dengan margin bunga bersih atau NIM meningkat menjadi 4,6 persen dari 4 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Dari sisi permodalan juga terjaga, yang tercermin dari rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) stabil di level 19,6 persen.

CATATAN REDAKSI:

Berita ini telah mengalami revisi pada Kamis (4/6/2020) dengan penambahan keterangan dari Bank Permata. Terima kasih.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan kredit Virus Corona
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top