Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

New Normal, Penyaluran Pinjaman Fintech Diprediksi Meningkat

Fase new normal diperkirakan menjadi momentum masyarakat mencari sumber permodalan untuk memulai usahanya kembali. Fintech dinilai akan menjadi pilihan.
Akbar Evandio
Akbar Evandio - Bisnis.com 03 Juni 2020  |  16:04 WIB
Fintech.  - Shutterstock.
Fintech. - Shutterstock.

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) optimis penyaluran pembiayaan melalui perusahaan rintisan berbasis teknologi finansial (tekfin/fintech) peer-to-peer (p2p) lending akan menjadi mengalami kenaikan kala protokol kenormalan baru dijalankan.

Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI, Tumbur Pardede mengatakan bahwa setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berakhir, akan menjadi titik balik para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk memulai aktivitas ekonomi kembali.

“Pelaku usaha sudah tentu akan memulai aktivitas usahanya, dan mereka memerlukan permodalan karena selama PSBB adanya pembatasan kegiatan ekonomi berdampak pada pendapatan dan arus kas mereka, sehingga [fintech] p2p hadir untuk mendukung kebutuhan permodalan,” jelasnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (3/6/2020).

Tumbur pun memprediksi akan terjadi lonjakan peminjam ke depan sehingga untuk memitigasi risiko dia mengatakan bahwa setiap pelaku fintech tentunya memiliki strategi yang berbeda. Menurutnya, secara umum pelaku akan menjalankan komunikasi kepada pihak ketiga untuk mendata rekam jejak peminjam.

“Untuk meminimalisir penumpang gelap, yaitu masyarakat yang mengajukan pinjaman untuk usaha namun belum atau tidak memiliki usaha, kami melihat track record dari peminjam melalui pihak ketiga. Ini jadi salah satu langkah mitigasi risiko kami,” jelasnya.

Sementara itu, dia pun mengakui bahwa bahwa penyaluran pembiayaan lewat fintech mengalami penurunan selama pandemi Covid-19. Penurunan bahkan terjadi hampir di sebagian besar platform penyelenggara sehingga menurutnya fintech akan kembali bergeliat mulai Juli 2020.

“Kami pun belum mendapatkan data terakhir dari OJK [otoritas jasa keuangan], tetapi kami prediksi ada penurunan di kuartal II/2020 bila dibandingkan pada periode sebelumnya. Namun, dibandingkan dengan tahun sebelumnya ada peningkatan, sebab di kuartal I/2020 ada peningkatan 208,83 persen (yoy),” tuturnya.

Adapun menurut data OJK per 30 April 2020, akumulasi pinjaman secara nasional mencatatkan kenaikan sebesar Rp 106,06 triliun atau naik 186,54 persen (yoy).

Ketua Harian AFPI Kuseryansyah mengatakan industri fintech p2p lending akan menjaga kinerja pada masa pandemi ini dan selektif dalam menyalurkan pembiayaan. Hal tersebut juga sebagai upaya menjaga tingkat keberhasilan pengembalian pinjaman (TKB) tetap stabil.

Menurut hasil survei AFPI pada pertengahan Mei lalu, sebanyak 90 platform menyatakan memiliki Tingkat Kestabilan Bayar (TKB)90 stabil, 34 platform mengalami penurunan TKB90, dan 6 platform mengaku mengalami kenaikan TKB90. Berdasarkan data OJK per Maret 2020, TKB90 Fintech P2P Lending tercatat di level 95,78 persen.

"TKB kita masih dalam batas yang bisa ditolerir. Kami optimistis di masa new normal, dari sisi jumlah pengajuan pinjaman, akan ada lonjakan untuk kebutuhan pinjaman. kita sudah menyiapkan mitigasi risiko untuk TKB tersebut," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pembiayaan fintech New Normal
Editor : Yustinus Andri DP
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top