Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Heboh Jiwasraya hingga WanaArtha, Pengamat: Perusahaan Tanggung Jawab

Perusahaan asuransi memiliki tanggung jawab menjaga citra industri.
Warga melintasi logo Asuransi Jiwasraya di Jakarta, Senin (5/10/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Warga melintasi logo Asuransi Jiwasraya di Jakarta, Senin (5/10/2020). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Industri asuransi mesti berbenah pada 2021 seiring dengan citra yang masih belum pulih akibat maraknya kasus gagal bayar beberapa perusahaan atau kinerja yang memburuk akibat pandemi.

Beberapa kasus gagal bayar menyelimuti industri, sebut saja PT Asuransi Jiwasraya (Persero), PT Asuransi Jiwa Adisarana WanaArtha (WanaArtha Life), dan terakhir menimpa PT Asuransi Jiwa Kresna (Kresna Life).

Deretan kasus itu belum ditambah kontroversi internal PT Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 dan kasus dugaan korupsi di tubuh PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero).

Jiwasraya tampak menjadi yang paling menuju titik terang, memilih skema restrukturisasi polis sebagai penyelesaian masalah gagal bayar klaim.

Sebaliknya, AJB Bumiputera 1912 masih menjadi sorotan utama karena justru tengah memulai drama baru di penghujung tahun akibat pertarungan kekuatan perpolitikan internal.

Sisanya, kebanyakan disebabkan kondisi kesehatan internal perusahaan yang sudah bermasalah yang diperparah pandemi, atau anjloknya kinerja investasi dari produk produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit-linked.

Pengamat asuransi dan pengajar Sekolah Tinggi Asuransi Trisakti Azuarini Diah mengingatkan bahwa jangan sampai pada 2021 nanti kasus serupa marak lagi. Perusahaan asuransi memiliki tanggung jawab menjaga citra industri.

"Perihal gagal bayar, maka ke depan perusahaan harus terus berpedoman terhadap aturan dan sisi investasi dikelola secara benar dan hati-hati. Ingat, perusahaan asuransi tak akan default meskipun klaimnya jatuh tempo. Selain itu, produk PAYDI harus memberikan proyeksi imbal hasil yang masuk akal kepada nasabah," ujarnya, Jumat (1/1/2020).

Azuarini mengakui sampai data terakhir dari para asosiasi, baik industri asuransi umum maupun asuransi jiwa, masih mengalami pertumbuhan negatif pada sisi kinerja aset.

"Kalau di asuransi general, terdampak di asuransi properti dan kendaraan bermotor. Sementara kalo di asuransi jiwa berdampak di produk-produk yang penjualannya dilakukan secara tatap muka," jelasnya.

Oleh sebab itu, Azuarini menekankan bahwa industri asuransi umum maupun jiwa pada 2021 harus berbenah, memperkuat pasar yang sudah ada dan pembangunan segmen ritel.

"Produk harus difokuskan pada kebutuhan pasar dan mempunyai sustainable income bagi perusahaan. Lakukan juga penjualan secara online dan digitalisasi, tidak di penjualannya saja tapi harus sampai service hingga pelayanan klaim," ungkap Azuarini.

Terakhir, Azuarini melihat peluang makin terbuka pada 2021 akibat pandemi mereda. Asuransi kesehatan pun punya prospek bagus akibat tingkat kesadaran masyarakat terhadap industri makin baik akibat pandemi.

"Tetapi, hati-hati untuk asuransi jiwa, terutama produk asuransi jiwa kredit diproyeksi masih terkena dampak yang cukup besar karena berkaitan dengan produk-produk bank yang juga slowing down, bahkan setop. Seperti kredit pemilikan rumah atau kredit pemilikan mobil," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Aziz Rahardyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper