Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Asuransi Syariah Yakin Pasar Modal Bisa Topang Kinerja Investasi 2021

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Erwin Noekman menjelaskan bahwa industri memandang optimistis kinerja bisnis pada tahun ini, termasuk dari sisi investasi. Optimisme itu berkaca dari capaian 2020, dengan hasil investasi positif meskipun kondisi bisnis diliputi ketidakpastian.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 16 Februari 2021  |  19:09 WIB
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia - AASI
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia - AASI

Bisnis.com, JAKARTA — Industri asuransi syariah menilai bahwa penempatan investasi di pasar modal akan memberikan imbal hasil optimal meskipun di tengah pandemi Covid-19. Komposisi investasi di pasar modal pun akan dijaga pada tahun ini.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) Erwin Noekman menjelaskan bahwa industri memandang optimistis kinerja bisnis pada tahun ini, termasuk dari sisi investasi. Optimisme itu berkaca dari capaian 2020, dengan hasil investasi positif meskipun kondisi bisnis diliputi ketidakpastian.

Menurut Erwin, sebanyak 81,4 persen investasi industri asuransi syariah atau Rp30,39 triliun ditempatkan di pasar modal. Jumlah itu terdiri dari 35,05 persen atau Rp13,09 triliun di saham syariah, 22,27 persen atau Rp831 triliun di reksadana syariah, 17,95 persen atau Rp6,7 triliun di surat berharga syariah negara, dan 6,13 persen atau Rp2,29 triliun di sukuk.

Dengan komposisi tersebut, industri asuransi syariah membukukan hasil investasi Rp656 miliar pada akhir 2020, turun 70,09 persen (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan 2019 senilai Rp2,19 triliun. Namun, Erwin menilai bahwa imbal hasil yang positif tetap menjadi sinyal baik untuk menjaga investasi di pasar modal.

"Artinya perusahaan asuransi syariah selama situasi pandemi tetap optimistis bahwa penempatan di pasar modal akan memberikan hal yang lebih baik walaupun di tengah kondisi ketidakpastian yang terjadi. Sehingga industri asuransi syariah tetap sustain menghadapi perekonomian Indonesia," ujar Erwin pada Selasa (16/2/2021).

Kinerja investasi industri asuransi syariah memang sempat babak belur pada kuartal I/2020, saat pandemi Covid-19 menghantam Indonesia. Kala itu, hasil investasi anjlok menjadi negatif Rp4 triliun atau berbalik rugi dibandingkan dengan akhir 2019, akibat indeks harga saham gabungan (IHSG) yang merosot tajam.

Nilai investasi industri pun terkoreksi pada kuartal pertama dan kedua tahun lalu. Namun, perbaikan nilai dan hasil investasi mulai terjadi pada kuartal ketiga dan terus berlanjut hingga penghujung tahun.

"Artinya dari sisi investasi, industri asuransi syariah tetap sustainable dalam menghadapi sentimen Covid-19 dan isu pasca penyampaian rencana kerja pemisahan unit syariah [RKPUS],” ujar Erwin.

Pada penghujung 2020, nilai investasi industri asuransi syariah tercatat sebesar Rp37,35 triliun yang mayoritas di antaranya merupakan milik asuransi jiwa syariah, yakni Rp31,68 triliun atau 84,48 persen. Asuransi umum syariah mencatatkan total investasi Rp4,11 triliun (11 persen) dan reasuransi syariah menjadi yang terkecil dengan nilai Rp1,56 triliun (4,17 persen).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pasar modal asuransi syariah asuransi
Editor : Ropesta Sitorus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top