Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kerek Modal Inti, Bank Sampoerna Jajaki Opsi Merger dan Gaet Investor Baru

Kewajiban pemodalan inti minimun tertuang dalam POJK No.12/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum. Per Juni 2021, modal inti Bank Sampoerna tercatat senilai Rp1,64 triliun.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 31 Agustus 2021  |  14:28 WIB
Nasabah melakukan transaksi elektronik di kantor Bank Sahabat Sampoerna, Jakarta, Rabu (06/06). - JIBI/Endang Muchtar
Nasabah melakukan transaksi elektronik di kantor Bank Sahabat Sampoerna, Jakarta, Rabu (06/06). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Sahabat Sampoerna sedang mempersiapkan aksi penambahan modal inti untuk memenuhi kewajiban minimum Rp2 triliun pada akhir tahun ini dan Rp3 triliun pada 2022.

Seperti diketahui, kewajiban tersebut tertuang dalam POJK No.12/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum. Per Juni 2021, modal inti Bank Sampoerna tercatat senilai Rp1,64 triliun.

Henky Suryaputra, Finance & Business Planning Director Bank Sampoerna, mengatakan pemegang saham perseroan telah merencanakan beberapa aksi untuk pemenuhan modal tersebut.

"Beberapa corporate action sedang direncanakan, salah satunya berbicara dengan beberapa bank, apakah ada yang bisa kami lakukan merger. Ini salah satu opsi," ujarnya dalam diskusi daring pada Selasa (31/8/2021).

Opsi lainnya, Bank Sampoerna juga berdiskusi dengan beberapa investor startup, baik yang bergerak di e-commerce, P2P lending, dan lainnya, yang tertarik untuk investasi di bank. Tidak hanya itu, perseroan juga menyiapkan plan B atau rencana alternatif jika kedua aksi korporasi tersebut tidak terealisasi.

"Pemegang saham eksisting yang harus melakukan capital injection untuk memenuhi aturan OJK tersebut," katanya.

Saat ini, pemegang saham Bank Sampoerna terdiri dari PT Sampoerna Investama sebesar 78,48 persen, PT Cakrawala Mulia Prima (Alfa Group) sebesar 17,44 persen, Abakus (Asis Pasifik) Pte Ltd. sebesar 3,11 persen, dan Ekadharmajanto Kasih sebesar 0,97 persen.

Henky menambahkan ketiga opsi tersebut berjalan bersamaan. Terkait dengan opsi merger, dia menyebutkan pembahasan telah berjalan cukup lama dan ada yang tertarik dengan perseroan.

Bank Sampoerna juga menjajaki dengan beberapa investor startup dan disebutkan saat ini calon investor tersebut menunjukkan keseriusan terhadap perseroan. "LoA [letter of agreement] sudah ada dengan beberapa calon investor, tetapi kami belum bisa disclose," ujar Henky.

Dari sisi kinerja, sepanjang semester I/2021, Bank Sampoerna membukukan pertumbuhan aset 8,5 persen yoy dari Rp12,4 triliun menjadi Rp13,5 triliun. Penyaluran kredit perseroan tercatat Rp8,5 triliun atau tumbuh 3,4 persen dibandingkan akhir tahun lalu.

Termasuk dalam pinjaman yang diberikan Bank Sampoerna per akhir Juni 2021 adalah penyaluran ke segmen UMKM yang sebesar Rp3,5 triliun. Sementara itu, hingga akhir Mei 2021, keseluruhan industri perbankan hanya membukukan peningkatan total kredit sebesar 0,6 persen year to date (ytd).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank umum investor merger bank sampoerna modal inti
Editor : Annisa Sulistyo Rini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top