Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Multifinance Siap All Out Hadapi Kenaikan Permintaan Kredit Kendaraan Akhir Tahun

Semua multifinance di sektor otomotif tentu tak ingin kehabisan momentum ini untuk semaksimal mungkin memperbaiki kinerjanya setelah terdampak pandemi Covid-19.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 09 November 2021  |  20:00 WIB
Multifinance Siap All Out Hadapi Kenaikan Permintaan Kredit Kendaraan Akhir Tahun
Multifinance - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Industri pembiayaan (multifinance) bersiap menyambut periode paling dinanti-nanti, yaitu tren melonjaknya permintaan kredit kendaraan bermotor setiap akhir tahun.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno mengungkap bahwa semua multifinance di sektor otomotif tentu tak ingin kehabisan momentum ini untuk semaksimal mungkin memperbaiki kinerjanya setelah terdampak pandemi.

"Selain untuk mengembalikan aset piutang pembiayaan kelolaannya, berbagai kondisi yang mendukung di tengah kuartal IV/2021 ini akan berpengaruh besar ke perbaikan NPF [non-performing financing]. Terakhir, yang paling diharapkan, tentu dari sisi peningkatan laba bersih dan segala indikator rasio keuangan bisa kembali ke taraf ideal," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (9/11/2021).

Momentum untuk objek pembiayaan sepeda motor yang notabene merupakan cerminan daya beli masyarakat kelas menengah, besar disumbangkan oleh meredanya kasus Covid-19 dan pembukaan pembatasan sosial (PPKM), yang akhirnya sedikit demi sedikit mengembalikan aktivitas fisik yang sebelumnya terhenti selama pandemi.

"Waktu pandemi kemarin, outstanding sepeda motor itu besar turunnya karena banyak debitur yang kehilangan pekerjaan atau usahanya terhenti akibat dampak PPKM. Banyak yang jual motor, mengembalikan, atau minta restrukturisasi karena tidak kuat bayar cicilan. Segmen ini berpotensi ambil cicilan lagi setelah pekerjaannya kembali," ungkapnya.

Sementara itu, pembiayaan mobil baru dan bekas punya momentum tambahan di samping peningkatan daya beli masyarakat, yaitu insentif pajak barang mewah (PPnBM) ditanggung pemerintah sampai akhir tahun.

Hal ini akan berpengaruh besar ke harga jual segmen baru maupun bekas, sehingga menjadikan periode ini sebagai waktu terbaik untuk membeli mobil incaran. Apalagi, masyarakat biasanya memang memanfaatkan gaji berlebih dari bonus akhir tahun dan periode promosi yang kerap digelar para pelaku multifinance untuk menyambut tahun baru.

Selain itu, Suwandi menyebut event otomotif besar seperti gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang berlangsung pada 11-21 November 2021 juga akan berpengaruh terhadap minat masyarakat membeli mobil selama periode ini.

"Sekarang ini waktu yang tepat, karena mulai awal tahun depan harga-harga mobil itu semuanya mengalami penyesuaian. Apalagi, sekarang regulasi PPnBM terbaru yang berbasis emisi sudah berlaku, membuat beberapa tipe mobil yang sekarang sedang laku itu harganya naik, karena tipe mobil yang turun harga itu lebih menyasar menengah ke atas," tambah Suwandi.

Secara umum, APPI menilai permintaan kredit kendaraan ini memang belum bisa signifikan membawa perbaikan piutang pembiayaan industri secara keseluruhan, di mana proyeksinya masih terkontraksi 5 persen dari tahun lalu.

Namun demikian, setidaknya tren ini mampu membawa piutang pembiayaan di 5 segmen andalan terkait otomotif, yang notabene menyumbang nilai outstanding terbesar buat industri multifinance, bisa lebih baik ketimbang akhir 2020.

Adapun, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat beberapa momentum, terutama buat sektor otomotif di akhir tahun ini bisa membawa industri pembiayaan mengalami kontraksi sekitar 1-3 persen saja pada akhir 2021.

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2B OJK, Bambang W. Budiawan menjelaskan hal ini tentu jauh lebih baik apabila dibandingkan dengan kondisi akhir 2020 yang kontraksinya mencapai 18,23 persen (year-on-year/yoy).

"Pelonggaran level PPKM merupakan angin segar bagi industri pembiayaan untuk memanfaatkan sisa waktu di kuartal IV/2021 ini untuk mengakselerasi penyaluran pembiayaan yang sempat tertunda di masa PPKM level 4 beberapa waktu yang lalu," ungkap Bambang kepada Bisnis.

Bambang menyebut dalam proyeksi paling optimistis, capaian pertumbuhan piutang pembiayaan sebenarnya bisa mencapai angka positif pada akhir 2021, dengan catatan tidak ada penerapan PPKM di sisa waktu 2021.

Selain itu, diperlukan kerja ekstra keras buat setiap perusahaan pembiayaan dengan strategi yang tepat sasaran untuk mendorong penyaluran pembiayaan pada sektor-sektor the winner yang diuntungkan oleh kondisi pandemi Covid-19, seperti sektor kesehatan, farmasi, jasa logistik, jasa telekomunikasi elektronik, makanan dan minuman.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance pembiayaan perusahaan pembiayaan kredit kendaraan
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top