Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Awas! Sentimen Positif Kredit Otomotif Bisa Terjegal 'BBM Mahal'

Potensi kenaikan harga BBM menjadi salah satu hal yang bisa menjegal prospek positif penyaluran kredit di sektor otomotif.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 16 Maret 2022  |  18:50 WIB
Awas! Sentimen Positif Kredit Otomotif Bisa Terjegal 'BBM Mahal'
Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Kredit kendaraan diramal lebih moncer sepanjang 2022 didukung kebijakan insentif PPnBM untuk beberapa tipe mobil baru. Meski begitu, industri pembiayaan (multifinance) perlu mewaspadai adanya sentimen negatif dari potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Pengamat industri pembiayaan dan otomotif Jodjana Jody menjelaskan kenaikan harga BBM di Tanah Air tentunya akan memicu pelemahan daya beli masyarakat, yang turut berdampak kepada proyeksi penjualan kendaraan bermotor setahun ke depan.

Sebagai informasi, meroketnya harga minyak mentah dunia akibat konflik geopolitik Rusia-Ukraina telah berdampak ke Indonesia lewat naiknya tiga jenis BBM nonsubsidi besutan perusahaan pelat merah, yaitu Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

"Jadi jangan dianggap kalau dampak konflik geopolitik Rusia-Ukraina itu masih jauh. Perlu diingat, sektor otomotif Tanah Air pernah memiliki sejarah kelam akibat naiknya harga minyak dunia di 2005, karena di tahun berikutnya pasar mobil anjlok hampir 40 persen [yoy]," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (16/3/2022).

Pria yang sempat memimpin Astra Credit Companies (2015) ini sepakat bahwa kredit otomotif memang masih mengantongi berbagai sentimen positif, seperti meredanya pandemi, subsidi pajak barang mewah (PPnBM) untuk beberapa jenis mobil baru, sampai moncernya aktivitas usaha terkait komoditas di kawasan luar Jawa.

Namun, Jody mengingatkan apabila berbagai sentimen positif tersebut tak cukup mengimbangi potensi lonjakan inflasi, besar kemungkinan konsumen kembali berpikir menunda dalam membeli atau mengganti kendaraan di tahun ini.

Terlebih, kenaikan harga BBM bukan hanya akan dirasakan konsumen perorangan sebagai pengguna kendaraan, namun juga berbagai industri akibat membengkaknya biaya logistik. Akhirnya pun turut berujung pada naiknya barang-barang konsumsi.

"Pelaku multifinance harus melihat bagaimana kondisi perekonomian nasional di masa-masa menjelang dan setelah lebaran tahun ini. Kalau tren penjualan kendaraan masih segitu-segitu saja, proyeksi penyaluran [pembiayaan] buat sektor otomotif saya lihat hanya akan tumbuh tipis," tambah Jody.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

multifinance kredit kendaraan Perang Rusia Ukraina
Editor : Azizah Nur Alfi
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top