Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penyaluran KUR Capai Rp164,9 Triliun, Sektor Mikro Serap Porsi Terbanyak

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan, penyaluran KUR hingga 17 Juni 2022 mencapai Rp164,9 triliun atau 44,23 persen dari target sepanjang 2022.
Dionisio Damara
Dionisio Damara - Bisnis.com 27 Juni 2022  |  21:13 WIB
Penyaluran KUR Capai Rp164,9 Triliun, Sektor Mikro Serap Porsi Terbanyak
Penyaluran KUR capai Rp164,9 triliun, sektor mikro serap porsi terbanyak. - Antara/Oky Lukmansyah

Bisnis.com, JAKARTA – Sektor mikro masih menjadi penyumbang terbesar penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sepanjang Januari hingga pertengahan Juni 2022. Sementara itu perbankan dalam hal ini terus mengoptimalkan aliran kredit ke sektor-sektor produktif.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan, penyaluran KUR hingga 17 Juni 2022 mencapai Rp164,9 triliun atau 44,23 persen dari target sepanjang tahun ini. Dana tersebut mengalir ke 3,54 juta debitur.

Dari jumlah tersebut, proporsi terbanyak penyaluran KUR sepanjang tahun ini disumbang oleh KUR mikro, yakni 67,35 persen. Selanjutnya, KUR kecil berkontribusi 30,89 persen, KUR Super mikro 1,75 persen, dan KUR penempatan TKI menyumbang 0,01 persen.

Dari sisi perbankan, Sekretaris Perusahaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI Aestika Oryza Gunarto menuturkan bahwa sepanjang Januari – Mei 2022, perseroan telah menyalurkan KUR sebesar Rp104,5 triliun kepada 2,7 juta pelaku UMKM.

Jumlah tersebut, kata Aestika, setara dengan 41,12 persen dari target yang diberikan oleh pemerintah kepada emiten bank berkode saham BBRI ini sebesar Rp254,1 triliun. Adapun, penyaluran KUR ini didominasi oleh sektor produktif dengan porsi 57,38 persen.

“BRI optimistis tahun ini dapat menyalurkan KUR sesuai dengan target yang diberikan oleh pemerintah, di antaranya dengan menyiapkan strategi selective growth yang selaras dengan strategi penyaluran kredit BRI secara umum,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (27/6/2022).

Selain itu, lanjutnya, BRI memanfaatkan ekosistem hiperlokal dengan fokus pada desa, pasar kelompok usaha, dan komoditas tertentu. Pemberdayaan melalui digitalisasi juga diterapkan perseroan, yakni melalui platform PARI, Localoka dan pasar.id.

Aestika menyatakan untuk menjaga kualitas KUR, perseroan membuat sektor-sektor prioritas dalam penyalurannya seperti ke sektor perdagangan dan pertanian. Penggunaan data analitik turut diperkokoh guna memperkuat proses kredit underwriting dan keberhasilan restrukturisasi.

“Hal tersebut berdampak positif terhadap kualitas KUR yang disalurkan, di mana sampai dengan Mei 2022 rasio kredit bermasalah [non-performing loan/NPL] KUR BRI tercatat di kisaran 1,4 persen,” kata Aestika.

Sementara itu, penyaluran KUR PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. atau BBNI sampai dengan Mei 2022 mencapai Rp13,6 triliun. Jumlah tersebut bertumbuh 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. 

General Manager Divisi Bisnis Usaha Kecil Bank BNI, Sunarna Eka Nugraha, menuturkan penyaluran KUR didominasi oleh sektor perdagangan dengan kontribusi sebesar 50,6 persen, dan sektor produksi mencapai 49,4 persen. Untuk sektor produksi, lini pertanian menyumbang porsi terbesar yakni 27,9 persen. 

Berlandaskan kondisi serta pemulihan ekonomi yang mulai terjadi di berbagai sektor dan provinsi di Indonesia, emiten bank berkode saham BBNI ini optimistis penyerapan KUR 2022 dapat berjalan sesuai harapan.

“Optimisme tersebut tentu juga berlaku untuk Penyaluran KUR BNI di mana kami telah menyiapkan beberapa strategi dan inovasi untuk mendukung peningkatan pembiayaan kepada UMKM khususnya melalui produk KUR,” pungkasnya. 

Dia juga melihat bahwa masih ada tantangan yang dapat memengaruhi kinerja penyaluran KUR tahun ini. Salah satunya kembali meningkatnya penyebaran Covid-19, yang berpotensi memberikan dampak pada penurunan permintaan pembiayaan KUR. 

Di sisi lain, Aestika mengungkapkan bahwa salah satu kendala penyaluran KUR di BRI adalah persoalan biaya operasional yang cukup tinggi karena dibutuhkan sumber daya manusia dalam menyalurkan kredit usaha tersebut.

“Oleh karena itu, BRI saat ini tengah melakukan shifting business model dari konvensional menjadi digital, sehingga hal tersebut akan menciptakan efisiensi,” pungkas Aestika.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bni perbankan bri kredit usaha rakyat
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top