Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ketika Para Santri Teriak Pinjol ke Bos OJK

Upaya terus memperkuat literasi keuangan di lingkup pondok pesantren merupakan keniscayaan, sebab santri merupakan salah satu tonggak inklusi keuangan syariah
Momen Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi (dua dari kanan) mengetes beberapa santri soal keuangan syariah dalam acara pembukaan kampanye Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (Sakinah) di Pondok Pesantren Al-Munnawir Krapyak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)/Bisnis.com-Aziz Pondok Pesantren Al-Munnawir Krapyak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)
Momen Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi (dua dari kanan) mengetes beberapa santri soal keuangan syariah dalam acara pembukaan kampanye Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (Sakinah) di Pondok Pesantren Al-Munnawir Krapyak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)/Bisnis.com-Aziz Pondok Pesantren Al-Munnawir Krapyak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

Bisnis.com, BANTUL - Pondok pesantren harapannya bukan sekadar tempat para santri memperdalam ilmu agama, melainkan turut berperan sebagai garda terdepan pendongkrak tingkat literasi dan inklusi keuangan syariah bagi Indonesia.

Hal ini menjadi salah satu alasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ikut memeriahkan Hari Santri Nasional lewat kampanye Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (Sakinah) dan Gerakan Santri Menabung di Bulan Inklusi Keuangan 2022 pada 22–25 Oktober 2022.

Sebagai informasi, puncak acara Sakinah direncanakan berlangsung pada 28 Oktober 2022, yang akan turut dihadiri Wakil Presiden RI K.H. Ma’ruf Amin dengan agenda Penyerahan Simbolis Rekening Tabungan Santri, dan Penandatanganan MoU antara OJK dengan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Bisnis sempat menangkap momen unik ketika menghadiri Opening Ceremony Sakinah, Sabtu (22/10/2022), yang berlangsung di Pondok Pesantren Al-Munnawir Krapyak, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Ribuan santri tampak bersorak antusias, ketika Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi mengundang beberapa perwakilan santri dan santriwati untuk naik ke atas panggung.

Wanita yang akrab disapa Kiki itu pun bertanya kepada dua santri dan dua santriwati tentang produk jasa keuangan yang mereka ketahui. Nurul, santri kecil yang baru menginjak kelas 5 sekolah dasar, sukses memancing kekaguman dan tepuk tangan para hadirin, karena berhasil dengan lantang menjawab tabungan.

Setelahnya, momen lucu mengemuka ketika santriwati sekaligus mahasiswi bernama Reni menjawab pinjaman syariah. Beberapa santri dari kejauhan menanggapinya dengan celetukan "pinjol, pinjol, pinjol."

Jawaban itu kemudian disambut tawa dari Kiki dan para hadirin.

Adapun, seorang santri bernama Bangkit mengaku bersemangat mempelajari lebih dalam soal akad-akad dalam keuangan syariah. Sementara santriwati bernama Siti, mengungkap rasa penasarannya soal sistem dan program-program lembaga keuangan syariah di Indonesia, serta perbedaannya dengan sistem dari lembaga keuangan konvensional.

Kiki mengungkap bahwa kemeriahan ini mencerminkan semangat nyata dari para santri dalam rangka memperoleh ilmu baru, sekaligus bersiap menjadi agen perubahan dalam mengerek literasi dan inklusi jasa keuangan syariah di Tanah Air.

"Sejarah mencatat bahwa di masa lalu para santri punya andil dalam perjuangan kemerdekaan. Saat ini, pesantren juga memiliki peran mengisi kemerdekaan dengan bukan hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tapi juga pusat pemberdayaan masyarakat, salah satunya melalui pengenalan dan pemanfaatan produk jasa keuangan syariah," ujar Kiki.

kiki OJK
kiki OJK

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi. /Bisnis-Aziz Rahardyan.

Mantan aktris sinetron yang juga sempat menjabat sebagai Head Corporate of Communication Bursa Efek Indonesia (BEI) ini menambahkan bahwa ilmu tentang pengelolaan keuangan termasuk essential life skill atau salah satu keterampilan hidup utama bagi setiap manusia.

Oleh karena itu, upaya terus memperkuat literasi keuangan di lingkup pondok pesantren merupakan keniscayaan, karena para santri di masa depan nanti merupakan calon pemimpin dan pengurus suatu organisasi, pengajar, tokoh masyarakat, atau setidaknya menjadi orang tua bagi generasi selanjutnya.

Terlebih, literasi dan inklusi keuangan syariah di Tanah Air terbilang masih sangat kecil dibandingkan keuangan konvensional. Berdasarkan survei literasi keuangan OJK pada 2019, inklusi keuangan syariah hanya 9,1 persen dibandingkan konvensional yang telah mencapai 75,28 persen.

Adapun, literasi keuangan syariah hanya 8,93 persen dibandingkan konvensional sebesar 37,72 persen. Bahkan, apabila dipisahkan lagi berdasarkan sektor jasa keuangan syariah secara spesifik, hanya perbankan syariah yang mendominasi dengan 7,92 persen.

Lainnya, yaitu sektor perasuransian syariah, pembiayaan syariah, dana pensiun, pasar modal, dan lembaga keuangan mikro syariah, kompak belum dikenal secara luas oleh para responden.

"Sekarang ini inklusi sudah terbilang tinggi, tapi literasi masih minim. Artinya, ada masyarakat yang sudah pakai suatu produk keuangan, tapi sebenarnya belum paham apa di dalamnya. Ini bahaya sekali. Maka dari itu, OJK terus bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk para pelaku jasa keuangan untuk terus menekankan gap literasi ini, terutama dengan pelaku industri jasa keuangan syariah," jelasnya.

Selain itu, OJK pun berharap literasi keuangan syariah yang mumpuni bisa sekaligus menjadi tameng bagi para santri agar tak termakan jebakan skema penipuan berkedok keuangan yang tengah marak, seperti investasi bodong atau pinjaman online (pinjol) ilegal.

"Tadi banyak yang teriak pinjol, ya. Perlu diingat bahwa pinjaman online itu kalau benar dan lembaganya legal, diawasi OJK, sebenarnya bermanfaat. Tapi yang berbahaya, meresahkan, dan banyak mencelakakan masyarakat, itu pinjol ilegal. Karena itu, ilmu terkait keuangan InsyaAllah bermanfaat bagi kita sendiri, juga untuk mengingatkan orang-orang terdekat di sekitar kita tentang bahaya produk keuangan ilegal," tambah Kiki.

Ke depan, untuk memperkuat literasi di lingkup pesantren, OJK bukan hanya menggelar kampanye Sakinah. Ada juga olimpiade ekonomi syariah untuk memacu semangat para santri meningkatkan pengetahuannya, menggelar festival, safari, program edukasi IB Vaganza, serta melanjutkan penguatan program jasa keuangan berkaitan pesantren, seperti Bank Wakaf Mikro.

Sementara itu, pembukaan kampanye Sakinah untuk menyambut Hari Santri Nasional juga diikuti secara virtual oleh Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta, Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Leuwipanjang Banten, Pondok Pesantren API Syubbanul Wathon Secang Magelang, dan Pondok Pesantren Al-Anwar Bangkalan.

Turut terlibat beberapa bank syariah yang mendukung kampanye gerakan santri menabung, seperti unit usaha syariah (UUS) Bank Pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta (BPD DIY), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), UUS Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah (BPD Jateng), dan UUS PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Aziz Rahardyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper